
Setelah kejadian yang sangat indah, membahagiakan, tapi juga sangat menegangkan yang telah terjadi di taman itu.
5 hari kemudian...
Sepasang sahabat ini terlihat bersama - sama lagi. Kali ini, mereka menuju ke suatu sekolah SMP yang hanya memakan perjalanan kurang lebih 15 menit. Ya... Hari itu, Aulia akan melakukan pendaftaran ulang. Tapi kali ini suasananya lebih ' hidup ' karena Thoriq, sahabatnya turut serta menemaninya.
Dan bisa dikatakan momen kebersamaan tersebut adalah yang terakhir sebelum Thoriq kembali ke Bondowoso karena esok ia juga harus pulang ke sana.
Memang menyedihkan ?
Tapi begitulah..
Ya.. Kita datang dan pada akhirnya suatu saat nanti kita akan pergi atau kembali lagi
Meskipun begitu, tapi waktu yang tersisa tersebut mereka buat sebahagia mungkin. Seakan - akan mereka akan terus seperti itu ' selamanya '.
Thoriq dengan jaket ' navy ' kesayangannya itu berulang kali membuat guyonan agar ia bisa melihat tawa dan senyuman Aulia yang entah kapan ia bisa melihatnya lagi setelah kepulangannya esok ke ' peradabannya '.
Ya... mereka ke sekolah itu dengan berjalan kaki.
"Lebih sehat dan irit..." kata Aulia. Lagian juga sekolahnya dekat.
Dengan langkah santai disertai dengan canda tawa yang selalu setia mengiringi perjalanan mereka dan akhirnya tak lama kemudian, mereka sampai di depan sekolah megah yang bernama ' SMP NEGERI 4 SIDOARJO ' .
Sekolah ini sudah di penuhi lautan siswa siswi yang ingin melakukan pendaftaran. Ya... sekolah tersebut memang sekolah terbaik yang ada di kota ini.
Singkat cerita...
Aulia pun melangkahkan kakinya memasuki gerbang, disusul oleh Thoriq.
Hufft..
'Kalau tak ada Thoriq yang menemaniku, bisa - bisa aku keringat dingin disini di tengah lautan manusia yang tak banyak kukenali ', batinnya sambil mensejajarkan langkahnya dengan sahabatnya itu
Aulia memang tak bisa jika berada dalam kerumunan orang banyak, terlebih jika ia tak mengenali begitu banyak di antara mereka.
' Introvert ! ', ya... mungkin kata itulah yang sangat tepat untuk menggambarkan kepribadiannya.
Dengan langkah setia Thoriq yang mendampingi perjalannya, Aulia terus melangkah menuju ke sebuah ruangan untuk melakukan pendaftaran.
Ia berhenti tepat di depan pintu sebuah kelas, dimana disitulah pendaftaran ulang dilakukan.
Thoriq memberikan kode untuk masuk dan ia disambut dengan perkataan
" Riq... Temenin aku masuk ya ? " ujar Aulia dengan wajah memelas sambil memegang jaket Thoriq
" Eh...? "
" Ayolah Riq... Masa kamu tega sih lihat aku seorang diri di dalam, aku gak kenal siapa - siapa " bujuk Aulia
Karena tak tega dengan Aulia, akhirnya Thoriq mengiyakan saja
" Baiklah... " ucap Thoriq disertai senyuman
Ya... Thoriq memang tahu betul kepribadian sahabatnya itu. Dan bisa dibilang ia adalah
' satu - satunya ' orang yang paling mengerti dengan hal itu.
Dengan penuh kesetiaan dan ketulusan dia terus di samping Aulia, menunggu sampai sahabatnya itu selesai melakukan pendaftaran.
Beberapa menit kemudian...
Aulia sudah kelar dengan semua urusannya. Momen paling ' sweet ', ketika dia menyadari ternyata Thoriq terus ada di dekatnya.
" Riq... Udah, kita pulang yuk " ucapnya dengan pelan sambil mengalihkan perhatian Thoriq
" Baik.. Ayo...! "
Setelah mereka berada di luar ruangan...
__ADS_1
" Maaf ya Riq, sudah ngerepotin " ujar Aulia dengan raut muka bersalah
" Eh.. Gak kok Ul... ! Justru aku sangat senang bisa nemenin kamu " sanggah Thoriq sambil tersenyum lebar
" Serius ? "
" Iya, serius... Memangnya mukaku kelihatan gak meyakinkan ya ? " timpal Thoriq lantas tertawa
" Kalau gitu makasih banyak ya Riq..." sambung Aulia sambil tersenyum
" Yoii... Gak masalah "
" Oh ya.. ngomong - ngomong kita langsung pulang aja nih dan jalan kaki ? " tanya Thoriq sambil berjalan di dekat Aulia
" Ya... Kita jalan kaki aja, rumah deket kok. Atau kamu mau istirahat dulu ? " balas Aulia sambil menoleh ke sahabatnya yang bertubuh ' jangkung ' itu.
" Eh... Gak kok. Aku pikir kamu capek " jelas Thoriq
" Gak kok " jawab Aulia
Dalam perjalanan pulang, mereka bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Setelah sampai di rumah, mereka tetap bersama. Kali ini Aulia yang mengunjungi rumah Thoriq.
Sama seperti di rumah Aulia, di sana juga ada perpustakaan mini, yang berisi begitu banyak buku mulai dari puisi, cerpen, komik, ensiklopedia, dan novel.
" Ul... Kamu mau baca komik gak ? Aku punya komik baru lho, buat kamu aja... " ujar Thoriq sambil menata rak - raknya kemudian ia mendekati Aulia dan menyodorkan 2 buah komik lokal terbaru
" Buat aku...? Komik sebagus ini... " tanya Aulia sambil membuka lembaran per lembaran komik tersebut
" Iya... Ambil aja, aku sudah baca semuanya kok. Pokoknya kamu harus baca, itu keren banget...! " jelas Thoriq dengan antusias
" Wah...! Makasih banget ya Riq... " balas Aulia dengan penuh kegembiraan
Mereka memang seringkali bertukar komik, novel, dan buku bacaan lainnya bahkan begitu pun dengan film.
Nah...!
Hari itu...
Mereka menghabiskan waktu mereka dengan membaca komik bersama. Sesekali ada canda tawa di ruangan yang ' damai ' itu.
" Hmm... Riq, kamu udah prepare buat keberangkatan kamu besok ? " tanya Aulia memecah keheningan
" Ah... itu ' mah ' gampang. Bisa sebentar malam, yang penting hari ini dibuat ' bahagia ' dulu " balasnya sambil tersenyum
Aulia hanya mengangguk, matanya menyapu seluruh sudut - sudut ruangan rumah Thoriq seakan - akan ia mengenang kejadian yang pernah terjadi di tempat tersebut.
Beberapa menit kemudian...
Ia beranjak menjauh dari tempat duduknya bersama Thoriq, berjalan - jalan ke dekat jendela sejenak melihat pemandangan di luar..., lalu menghempaskan tubuh langsingnya di sofa yang empuk.
Dia terdiam cukup lama...
Sudut matanya tetap menatap sahabat ' semata wayangnya ' itu yang asyik berkutat dengan buku bacaan favoritnya dan tak terasa ia sudah 12 tahun menemaninya.
Yang membuat sedih, kala Aulia tersadar mulai besok suasananya akan berbeda lagi...!
Hening..., sepi... hampa... !
Ya... Mulai besok tawa dan canda yang sangat berarti baginya takkan ada untuknya dan entah sampai kapan itu akan terjadi ?
Tak lama kemudian...
Thoriq tersadar kalau Aulia tengah melamun.
' Ia kelihatan sedih ' batin Thoriq sambil melihat Aulia yang tengah menatap ke luar
Lantas, Thoriq pun mendekati sahabatnya itu
Dengan pelan, ia menyadarkan Aulia dari lamunannya
__ADS_1
" Aulia...? " panggil Thoriq
" Eh... Iya Riq ? "
" Hey... kok melamun sih ? Kelihatan sedih juga.. " ujar Thoriq sambil tersenyum
" Eh.. Gapapa kok Riq " jawab Aulia sambil tersenyum tipis
" Hmm... Jangan sedih Ul.., aku pasti sering kesini kok " hibur Thoriq sambil menenangkanku
Sesak...!
Kalau sudah begini, hari - harinya pasti ia lalui dengan hampa, tanpa seorang sahabat ?
Rasanya juga air mata itu akan mengalir dengan deras dari air mata Aulia
Tapi ia mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba menatap ke arah lain.
Tapi rasa itu teramat pilu sehingga ia tak kuat lagi menahan tangisnya. Meskipun begitu, Aulia berusaha menyembunyikan tangisnya dari Thoriq dengan posisi membelakangi sahabatnya itu.
Tapi Thoriq menyadari itu...
" Aulia...? Kamu nangis...? " ujarnya sambil memegang bahu Aulia mencoba menghadapkan wajah sahabatnya itu ke arahnya
Aulia tak bergeming, kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya.
" Hey... Lho lho.. Kenapa nangis ? Jangan sedih Ul " hibur Thoriq sambil mengelus - elus pundak sahabatnya itu
Salah satu kelemahan Thoriq ialah dia tak bisa melihat sahabatnya itu bersedih dan menangis. Hatinya seakan - akan dirajam melihat pemandangan yang sangat memilukan itu.
Baru kali ini Thoriq melihat Aulia dengan begitu hebatnya meneteskan air mata. Mungkin ia merasakan kesedihan yang begitu mendalam, karena dirinya akan kembali.
Dan itu artinya, Aulia akan sendiri. Thoriq tahu betul bahwa kehadirannya sangat berarti untuk Aulia karena dia adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti tentang diri sahabatnya itu.
Ia terus berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan mengatakan kalau dia akan sering menemuinya.
" Sudah ya Ul... Please don't cry.. Kamu kan bilang sendiri kalau kita harus kuat dan ngejalanin semua ini dengan lapang dada, walaupun kita gak suka " hibur Thoriq sambil menatap lekat - lekat sahabatnya itu
Aulia mulai sedikit tenang...
" Senyum dong.. " sambung Thoriq dengan senyum sumringah
Aulia pun tersenyum tipis
"Udah mau pulang ya ? Aku anterin..." ujar Thoriq
Ya... Meskipun sebenarnya rumah mereka deketan. Tapi Thoriq hanya tak ingin Aulia bersedih.
Di depan rumah Aulia...
" Ul istirahat ya.. Kamu pasti kuat " ucap Thoriq menepuk pelan bahu Aulia
Aulia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu ia membalikkan badan untuk masuk ke dalam rumah.
Tapi baru beberapa langkah ia kembali menoleh untuk melihat Thoriq, sahabatnya itu masih ada di sana sambil tersenyum kepadanya.
~ ONE HONESTY FROM THE AUTHOR ~
Meskipun novel ini terbilang sangat - sangat
' romantis ' tapi setiap aku nulis ini, diri ini seakan - akan ingin meneteskan air mata. Bahkan tak jarang, tanpa sadar pipiku telah bergelinang air mata.
Ada alasan dibaliknya ?
Tentu saja...
Tapi belum saatnya para pembaca mengetahui semuanya...
__ADS_1