
Queena kini masih saja menangis. Namun kini yang ia peluk bukanlah batu nisan ibunya. Melainkan laki-laki yang begitu dicintainya. Dia adalah Arsen. Laki-laki yang tadi menemukan Queena secara tak sengaja di makan.
Ia baru saja melarikan diri dari ayahnya, saat melihat keberadaan gadis yang begitu tak asing baginya. Jadi ia segera menghampiri gadis tersebut yang tak lain adalah Queena yang tengah menangis di makam seseorang yang tidak ia ketahui. Makan tersebut memang berada tak jauh dari rumah nya.
Hingga ia mendengar ucapan Queena barulah ia tahu jika makan tersebut adalah makan ibu gadis tersebut. Awalnya semua itu membuat nya terkejit karena ia pikir Dhisi adalah ibu kandung Queena. Namun siapa yang tahu jika gadis itu memiliki hidup yang tak mudah juga.
Kini untuk pertama kali nya Arsen melihat sisi lemah Queena. Ia tahu Queena adalah gadis yang lemah. Namun ia tak pernah melihat gadis itu menangis, dan kini untuk pertama kalinya ia melihat gadis yang selalu ceria itu menumpahkan tangisnya.
“Nangis aja, tumpahin semua nya. Jangan di tahan,” ucap Arsen dengan begitu lembut nya sambil mengelus punggung Queena.
Kini mereka berada di dalam mobil Arsen, Arsen yang membawanya ke dalam mobilnya dan memberikan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan hangat laki-laki itu yang terasa begitu menenangkan bagi Queena.
“Tumpah kan semua nya Queena. Apapun yang lo rasain tumpahin aja. Kali ini anggep aja gue lagi ngasih lo kompensasi untuk kesedihan yang lo rasain,” ucap Arsen yang terdengar begitu menyenangkan bagi Queena.
Lama Arsen menunggu gadis itu selesai menangis. Bahkan sampai hujan di luar sudah reda baru gadis itu menghentikan tangis nya. Meskipun masih terdengar sesenggukan. Hujan dan gadis itu seolah bekerja sama untuk menurunkan air nya.
“Udah tenang?” tanya Arsen dengan lembutnya pada Queena sambil mengeratkan jaket miliknya yang ia kenakan untuk Queena. Queena menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
Arsen kini tersenyum dengan begitu lembut pada Queena. Mungkin jika keadaannya baik-baik saja ia akan tersenyum kegirangan sambil berteriak heboh. Namun kini ia malah mengeluarkan ponselnya lalu memfoto laki-laki itu.
Arsen yang melihat nya bahkan menaikkan sebelah alisnya bingung. Melihat gadis di depannya yang masih sesenggukan itu tapi sudah berulah.
__ADS_1
“Ngapain?” tanya Arsen bingung.
“Buat kenangan. Nanti kalau Queena sudah baik-baik aja mau Queena liatin dan mengekspresikan kebahagiaan Queena setelah kak Arsen senyumin,” ucap Queena yang kali ini berhasil membuat Arsen melongo mendengar ucapan gadis di depannya itu.
Ia tahu Queena adalah gadis yang begitu heboh dan ekspresi tapi ia tak pernah tahu gadis itu bisa menjadi menggemaskan saat sedang begini. Arsen hanya menggelengkan kepalanya lalu menatap gadis di depannya itu serius.
“Mau gue anter pulang sekarang?” tanya Arsen pada Queena yang menggelengkan kepalanya. Ia masih belum siap untuk pulang dan melihat orang rumah.
“Kakak gak pengen tahu apa yang terjadi sama Queena?” tanya Queena penuh harap. Ia berharap mendengar jawaban yang memuaskan dari Arsen tentang kepedulian laki-laki itu padanya.
“Engga,” ucap Arsen singkat. Sebenarnya ia ingin tahu apa yang terjadi pada gadis itu, namun menurutnya itu adalah privasi jadi ia tak ingin untuk melampaui nya.
“Tapi Queena pengen cerita biar kakak tahu, dan gak suka nyakitin Queena lagi. Kakak gak kasian apa sama Queena yang udah gak punya ibu ini. Queena anak Piatu loh,” ucap Queena dengan matanya yang kini mulai berkaca-kaca. Sejujurnya Arsen begitu tak tega melihat kondisi Queena saat ini. Apa lagi mendengar perkataan Queena tadi.
Queena menghela nafasnya sebelum memulai ceritanya. Sebuah kisah yang begitu menyesakkan untuknya. Namun ia ingin untuk berbagi dengan laki-laki yang dicintainya itu. Ia ingin Arsen mengetahui banyak hal tentang nya. Termasuk tentang keluarga nya.
“Queena dan Dewi bukan saudara kembar. Kita saudara tiri, beda ibu. Mama kak Dewi juga Mama kandung Queena, Mommy Queena sudah meninggal saat melahirkan Queena,” jelas Queena yang cukup membuat Arsen terkejut. Ia tak tahu jika hidup gadis itu juga cukup sulit karena tak bisa melihat ibu kandungnya.
Selanjutnya cerita Queena mengalir. Tentang apa yang baru saja ia dengar tadi. Air matanya terus saja mengalir. Arsen yang tak tega melihat nya menggenggam tangan gadis itu dengan erat seolah memberikan kekuatan pada gadis di depannya itu.
Ia tak pernah tahu jika ada kisah yang benar-benar menyesakkan seperti itu. Kisah cinta orang tua Queena sepertinya begitu rumit dan penuh dengan luka.
__ADS_1
“Jadi kak Arsen jangan nyakitin Queena ya. Dan harus sama Queena trus, jangan mudah tertipu dan akhirnya ninggalin Queena ya kak. Kalau kakak di jodohin bilang sama Queena ya kak, biar kita buat drama dan perjodohan kakak di batalin,” ucap Queena yang kini membuat Arsen memutar bola matanya mendengar ucapan Queena.
Bahkan di saat seperti ini pun Queena masih sempat-sempat nya untuk mengungkapkan perasaannya dan menggoda Arsen. Sepertinya gadis itu memang tidak bisa untuk benar-benar sedih, dan bisa untuk merubah mood dengan mudah.
“Siapa juga yang mau sama lo? Terserah gue lah nanti mau gimana,” ucap Arsen dengan ketus yang membuat Queena kini mengerucutkan bibirnya dengan kesal mendengar ucapan Arsen.
“Gak bisa banget gak ngerusak suasana,” ucap Queena dengan kekesalannya yang hanya dibalas dengan gelengan oleh Arsen yang tak habis pikir dengan ucapan Queena.
Entah siapa yang merusak suasana dan mengalihkan pembicaraan. Namun sejauh ini Arsen bangga pada gadis itu yang bisa untuk tetap terlihat baik-baik saja padahal kini ia tengah begitu hancur setelah mengetahui semua fakta yang didengarnya.
Namun kali ini, Queena tidak bercerita pada Arsen tentang ayah nya yang akan menjodohkan kakaknya. Ia hanya tak ingin membuat Arsen mengira ayahnya adalah ayah yang jahat karena setelah tahu akibat dari perjodohan malah tetap saja menjodohkan anaknya.
Queena hanya bercerita tentang ibunya. Wanita yang tak pernah ia temui namun begitu ia cintai.
“Udah kan nangsi nya, sekarang pulang ya. Daddy lo pasti udah bingung nyariin lo,” ucap Arsen yang kini mulai memasangkan sabuk pengaman untuk Queena juga dirinya. Setelahnya ia segera melajukan mobilnya.
“Kak, anter Queena ke rumah Mommy aja,” ucap Queena pada Arsen yang kini menoleh sekilas ke arah Queena.
Setelahnya Queena langsung menyebutkan alamat rumah ibunya. Awalnya Arsen berpikir yang di maksud Queena adalah area pemakaman namun ternyata rumah nenek dari ibunya.
“Kalau udah siap, silahkan ngobrol sama Dewi dan Mama kamu. Semua perlu dibicarakan, mereka pasti juga khawatir sama kamu,” ucap Arsen menjelaskan.
__ADS_1
Queena hanya diam dan tidak menjawabnya ia lebih memilih untuk melihat ke luar jendela. Arsen menghembuskan nafasnya kasar melihat tingkah Queena. Ia tahu pasti kekecewaan gadis itu begitu besar.
***