Renjana

Renjana
Pilihan Arsen


__ADS_3

SMA Atlantik siang ini terlihat begitu heboh. Pasalnya di jam pelajaran kelima dan keenam murid kelas XI IPA, X IPS juga seluruh XII diberikan izin untuk mendukung pertandingan persahabatan antara SMA Atlantik juga SMA Pedro. Namun bagi kelas XII yang tak ingin ikut maka mereka diperbolehkan untuk pulang.


Tak semua bisa ikut pasalnya murid SMA Atlantik begitu banyak. Bisa dipastikan jika semua murid ikut mendukung maka SMA Pedro yang menjadi tuan rumah dan tempat diselenggarakannya pertandingan itu akan penuh.


“Queena, lo udah dapet tebengan belum? Soalnya gue bareng pacar gue, Kina juga bareng abang nya,” ucap Calya pada Queena yang kini tengah membereskan alat tulisnya.


Mereka semua kini sudah menggunakan baju angkatan mereka masing-masing. Kaos berwarna hitam namun jelas dengan nama berbeda-beda sesuai dengan nama angkatan mereka.


Baju hitam yang Queena kenakan kini bertuliskan Mandrakanta dengan bagian bawah bertuliskan angka romawi dari tahun angkatannya. Rambut gadis tersebut kini dicepol asal yang malah membuat nya terlihat begitu cantik dengan leher jenjang nya yang membuat banyak kaum adam salah fokus.


“Nebeng kak Arsen aja ntar,” ucap Queena dengan begitu santainya. Bahkan ia juga tak tahu Arsen akan mengizinkannya atau tidak. Namun jelas ia akan tetap memaksa walau Arsen tidak mengizinkannya.


“Emang dia mau?” tanya Calya dengan ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin tertawa mendengar ucapan Queena yang begitu percaya diri jika Arsen akan mengizinkannya untuk ikut bersama laki-laki itu.


“Paksa aja kalau gak mau. Atau nebeng yang lain, santai aja udah. Gampang gue mah,” ucap Queena dengan senyumannya yang kini sudah menggunakan tas nya. Yang hanya berisi dua buku tulis juga dompet, ponsel, juga bedak dan lipstik nya.


“Ayo ke parkiran bareng,” ajak Kina yang dijawab dengan anggukan oleh temannya yang lain.


“Bentar ke loker dulu, narok ini. Berat kalau dia ikutan,” ucap Queena sambil menunjuk buku yang kini berada di tangannya.


Gadis itu segera meletakkan bukunya di loker belakang kelas. Di sekolah Queena setiap murid memang memiliki dua loker. Yang berada di ruang loker juga berada di belakang kelas.

__ADS_1


Setelahnya mereka segera menuju ke arah parkiran yang kali ini terlihat begitu ramai. Deru motor dan pembicaraan dari pada murid terdengar begitu mengasyikkan. Kina langsung berjalan menuju kakaknya sedangkan Calya langsung mencari kekasihnya. Sedangkan Queena kini berjalan ke arah Arsen. Yang ternyata di sana juga ada Dewi, entah apa yang dilakukan kakaknya itu bersama dengan sahabatnya yang kini juga ikut menghampiri Arsen dan teman-temannya.


“Lama banget, buruan naik,” tegas Arsen saat melihat kedatangan Queena. Queena yang mendengar nya kini mengerjapkan matanya bingung. Padahal ia belum mengatakan apapun pada Arsen namun laki-laki itu malah langsung menyuruhnya naik ke atas motornya.


Dewi yang melihat itu langsung menoleh ke arah Queena dengan tatapan kesalnya. Tangannya kini bahkan mengepal.


“Mau sama gue aja ga De?” tanya Panca menawarkan pada Dewi.


“Gak usah deh kak, gue cari tebengan lain aja,” ucap Dewi yang setelahnya segera pergi bersama dengan sahabatnya. Namun sebelumnya ia sempat melirik ke arah Queena yang di pakaikan helm oleh Arsen. Hatinya semakin sakit melihat itu.


Queena masih saja terdiam di tempatnya. Arsen yang melihat itu memutar bola matanya malas.


“Gak naik juga. Gue tinggal lo,” ketus Arsen yang langsung membuat Queena yang sudah dipakaikan helm oleh Arsen segera naik ke atas motor laki-laki itu dengan bantuan Arsen. Setelahnya Queena langsung mengeratkan pelukannya pada pinggang Arsen.


“Iya,” ucap Arsen singkat yang membuat Queena kini menaikkan sebelah alisnya.


“Bukannya kak Dewi bawa mobil ya?” tanya Queena dengan mengerutkan keningnya bingung.


“Ya mana gue tau,” ucap Arsen acuh yang membuat Queena memberengut kesal mendengar ucapan Arsen.


“Queena udah bicara sama Mama kemarin.” Queena yang memberitahu Arsen jika ia sudah melakukan janjinya pada Arsen.

__ADS_1


“Gimana?” tanya Arsen sambil melihat ke arah spion motornya untuk melihat Queena.


“Gak berjalan lancar, Queena kesel duluan. Meskipun Mama udah minta maaf dan ngerasa nyesel tapi Queena masih aja bawaannya jadi marah. Queena bingung sendiri, karena kadang Queena juga sayang dan kasihan lihat Mama. Tapi kalau bukan karena Mama pasti sekarang Queena udah bahagia sama Mommy,” jelas Queena dengan helaan nafas kasar nya.


Arsen yang seolah merasakan kegusaran gadis itu mengelus tangan Queena yang kini berada di perut nya.


“Lo tenangin diri aja dulu. Bukankah sekarang lo juga udah bahagia? Tuhan lagi ngasih lo ujian aja sekarang. Lagi pula Tuhan juga udah ngasih lo bahagia dengan cara lain, Mommy lo pasti gak mau lo jadi orang jahat, bukannya kata lo Mommy lo orang yang baik?” tanya Arsen pada Queena. Queena kini terdiam sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


“Mommy orang yang sangat baik,” ucap Queena dengan senyumannya. Arsen tersenyum tipis saat melihat senyuman Queena yang terlihat begitu menggemaskan.


“Maka mommy lo gak akan suka kalau lihat anaknya jadi orang jahat dengan susah memaafkan kesalahan orang lain. Gue tau pasti semua sulit untuk lo, tapi Mama lo udah minta maaf kan? Lo harus jadi orang yang baik Queena. Biar Mommy lo bangga punya anak kayak lo, dan gak ngerasa sia-sia sudah menukar nyawa nya untuk lo,” jelas Arsen dengan begitu lembut nya yang membuat Queena menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya ia menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.


Rasanya ia begitu beruntung karena memiliki orang seperti Arsen untuk tempat nya bercerita. Arsen begitu dewasa untuk Queena yang kekanakan. Queena jadi tak menyesal sudah menaruh semua hati nya untuk Arsen.


“Dewi gimana? Lo udah bicara sama Dewi?” tanya Arsen. Ia tak tahu ada masalah apa antara Dewi dan Queena namun ia tetap ingin Queena untuk bisa untuk menyelesaikan masalahnya.


Dilihat dari bagaimana Queena dan Dewi menanggapi masalahnya. Dewi tidak seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Dewi bukan orang yang mau mengalah dan dewasa. Ia hanya berusaha dewasa namun ia belum bisa melakukannya dengan baik. Masih ada sisi egois pada gadis itu, Setidaknya itulah yang Arsen pikirkan tentang Dewi.


Sedangkan Queena. Meskipun dia bukanlah gadis yang Dewasa dan masih kekanakan. Namun ego nya begitu mudah untuk di cair kan. Ia bisa mengalah walau semua itu terlihat samar. Orang-orang memperlakukannya seperti anak kecil. Itulah yang membuatnya terbiasa dengan semua itu hingga sulit untuk nya tumbuh. Namun jika ada orang yang menganggap nya dewasa maka ia juga akan bersikap Dewasa dan mau mengalah.


Selanjutnya perjalanan mereka di penuh dengan cerita dari Queena. Hingga Arsen yang biasa membawa kendaraan dengan kecepatan sedang atau tinggi. Kini malah membawa motornya dengan pelan. Bahkan lebih pelan dari siput.

__ADS_1


***


__ADS_2