
Arsen kini tengah berada di rooftop rumah sakit bersama dengan kedua sahabat nya. Saat ini masih ada kedua orang tua Queena juga Dewi yang menjaga Queena. Arsen hanya ingin memberikan waktu untuk keluarga yang hancur itu untuk bersama. Arsen tak bisa membayangkan bagaimana kacau nya tunangannya itu nanti saat mengetahui jika Dhisi dan Carol akan bercerai.
“Jadi Queena sama Dewi itu gak kembar?” tanya Edsel yang kini masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Mendengar semua fakta dari keluarga ternama itu membuat nya terkejut.
“Pantes aja sih mereka beda banget, dari muka dan sikap udah berbanding terbalik,” ucap Panca yang kali ini menimpali ucapan sahabat nya itu. Mereka jelas tak menyangka jika keluarga dari pemilik sekolah mereka juga memiliki sisi gelap nya sendiri.
“Mak, Queena udah meninggal ya Ar?” tanya Panca lagi pada Arsen yang kini tengah menikmati rokok nya. Mendengar pertanyaan dari sahabat nya itu Arsen menganggukkan kepalanya sambil menghembuskan asap rokok nya ke udara.
“Nyebat mulu lo Ar, ketahuan Queena mampus lo,” ucap Panca pada sahabat nya itu yang kini sontak menoleh ke arah nya dengan menaikkan sebelah alisnya. Memang di saat seperti ini Arsen suka sekali menyesap batang nikotin tersebut dan Queena akan selalu memarahinya.
“Iya, Emak nya Queena dan meninggal. Emak nya Queena tuh bini pertama bapak nya Queena. Perempuan yang di cintai sama Om Carol,” ucap Arsen menjelaskan yang membuat sahabat nya itu kini menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Arsen.
“Setia banget ya Om Carol,” ucap Edsel yang dijawab dengan anggukan oleh Panca.
“Om Carol aja setia gitu sama emak nya Queena, gue yakin kalau lo sampek selingkuh bakalan didepak langsung lo sama om Carol,” ucap Panca sambil menepuk pundak sahabatnya itu yang kini membuat Arsen menoleh ke arah sahabatnya.
“Gue gak bakalan selingkuh dari cewek gue,” ucap Arsen dengan kesal pada sahabat nya itu.
“Udah lah, mending kalian balik sana. Besok gue gak masuk, izinin,” ucap Arsen yang setelahnya memilih untuk segera pergi dari sana. Sahabat nya yang mendengar ucapan Arsen hanya bisa menggelengkan kepalanya namun akhirnya mereka tetap saja menurutinya.
Arsen kini memilih untuk pulang terlebih dulu untuk mengganti pakaiannya dan mengambil keperluan Queena. Ia yakin Queena tak akan suka jika ia bau rokok, mencari aman lebih baik ia membersihkan dirinya lebih dulu.
***
Di ruangan Queena kini terasa begitu menegangkan. Udara yang begitu dingin kini semakin dingin dengan keadaan di dalam ruangan tersebut yang terasa begitu canggung dan menegangkan.
Carol kini duduk di samping ranjang rumah sakit Queena sambil menggenggam tangan anaknya itu. Sedangkan Dewi kini sudah tertidur di sofa begitupun dengan Dhisi. Kini Dewi menggunakan paha ibunya itu sebagai bantalannya. Carol kini juga memejamkan matanya menjadikan tangan anaknya itu sebagai bantalannya.
__ADS_1
Arsen yang baru tiba di rumah sakit lagi saat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, masuk ke dalam ruangan tersebut dengan pelan. Melihat semua yang berada di ruangan tersebut masih tertidur. Arsen memilih untuk memasukkan semua barang milik Queena di lemari kecil yang berada di sana.
“Morning Queen. Cepet bangun ya, banyak yang nunggu kamu bangun,” ucap Arsen dengan pelan, berbisik pada gadisnya itu agar tidak membangunkan yang lainnya. Arsen mengelus puncak kepala Queena sayang lalu segera mengecup puncak kepala nya singkat.
Setelahnya Arse kembali merapikan barang yang dibawanya. Ia bahkan juga membawa buah di rumah nya untuk ia letakkan di sana. Tak hanya itu ia bahkan memaksa ibu nya yang memang memiliki toko bunga untuk menyiapkan bunga untuk ia bawa.
Bahkan ibunya yang masih tertidur dengan lelap ia paksa untuk membuat kan karangan bunga membuat ibunya itu kesal karena anak semata wayang nya itu.
“Arsen, kamu sudah datang?” Carol yang baru saja membuka matanya langsung melihat ke arah Arsen yang kini tengah memindahkan bunga yang di bawahnya pada vas bunga yang berada di sana.
“Udah Om. Masih jam setengah tiga nih om kalau mau tidur, lanjut aja,” ucap Arsen pada Carol yang membuat Carol tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Saya pulang dulu aja, jagain Queena ya. Saya titip Queena. Saya mau bersih-bersih sekalian mau ngasih dokumen ke asisten om dulu,” ucap Carol berpesan pada laki-laki yang kini menjadi tunangan anaknya itu. Arsen yang mendengar ucapan tersebut menganggukkan kepalanya.
“Iya om, om tenang aja. Arsen bakalan jagain Queena,” ucap Arsen dengan senyumannya yang membuat Carol menganggukkan kepalanya.
Setelah nya Carol segera pergi dari sana. Arsen kini menggantikan posisi Carol dengan duduk di samping Queena.
Hingga jam menunjukkan pukul 6. 10 Arsen hanya diam sambil memandangi wajah cantik gadisnya itu.
“Arsen? Kapan kamu datang?” Suara itu membuat Arsen menoleh ke arah belakang dan mendapati Dhisi yang kini sudah bangun.
“Udah tadi Tante, aku juga udah beli makan tuh Tan,” ucap Arsen sambil menunjuk ke arah makan yang sudah disiapkan diatas meja. Melihat hal tersebut Dhisi tersebut ke arah Arsen. Arsen tadi memang sudah membelikan sarapan untuk Dhisi juga Dewi setelah ia selesai sholat subuh.
“Makasih ya, Arsen,” ucap Dhisi pada Arsen yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sebuah elusan lembut di tangannya membuat Arsen menoleh. Hingga ia langsung menoleh ke arah belakang ya. Senyumannya langsung mengembang dengan begitu lebar melihat gadisnya yang kini sudah membuka matanya.
__ADS_1
“Sayang kamu sudah bangun?” pertanyaan Arsen tersebut langsung membuat Dhisi memindahkan kepala anaknya dari atas kepalanya lalu ia segera berjalan ke arah Queena dengan tatapan khawatirnya.
“Queena?!” panggil Dhisi dengan tatapan khawatirnya ke arah anaknya itu. Arsen langsung memencet bel yang berada di samping ranjang untuk memanggil dokter.
Hingga tak lama dokter juga beberapa perawat datang untuk memeriksa Queena. Dewi yang baru membuka matanya cukup terkejut karena banyak dokter yang datang. Ia segera bantun dan menghembuskan nafasnya lega saat melihat Queena yang kini sudah sadar kan diri.
Tak bisa Dewi sembunyikan ia begitu senang karena nya.
“Nona Queena kini sudah membaik, ia hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi,” ucap dokter tersebut yang kini membuat semua orang yang berada di sana menghembuskan nafasnya lega.
“Terima kasih dokter,” ucap Dhisi dengan senyumannya yang di balas dengan senyuman oleh dokter tersebut.
“Nanti akan ada suster yang mengganti infus juga membawa obat untuk nona Queena,” ucap dokter tersebut yang dibalas dengan anggukan oleh Dhisi juga Arsen. Di belakang nya kini Dewi hanya menatap Queena dengan tatapan bersalah nya.
Ia begitu malu untuk berhadapan dengan Queena. Namun ia juga merasa khawatir pada gadis tersebut. Salah memang apa yang ia lakukan ini. Tak seharusnya ia berbuat jahat pada adiknya sendiri.
Setelah dokter pergi kini Arsen langsung menggenggam tangan gadisnya itu.
“Daddy,” ucap Queena saat tak melihat keberadaan ayahnya itu di sana
“Daddy, disini Queen,” ucap Carol yang baru saja datang. Melihat putrinya itu sudah sadar Carol tersenyum dengan begitu lebar nya.
Carol segera berjalan ke arah Queena lalu segera memeluk putri kesayangannya itu dengan begitu erat nya. Ia begitu senang anaknya itu sudah sadar kan diri.
“Terima kasih karena tidak meninggalkan Daddy, sayang,” ucap Carol dengan begitu lembut nya pada anaknya itu. Semua yang berada di sana hanya diam saja melihat nya interaksi tersebut.
***
__ADS_1