Renjana

Renjana
Arsen Yang Hancur


__ADS_3

Berita tentang Arsen yang kemarin menggendong Queena saat ia tengah menampilkan pentas seni nya sudah tersebar dengan begitu cepat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan murid sekolah saat ini. Queena yang menjadi objek pembicaraan kini hanya bisa menulikan telinga nya. Bahkan saat ia berada di kantin rasanya tak ada yang berhenti membicarakannya.


“Makan Queen, jangan di aduk doang,” ucap Calya sambil menatap ke arah sahabat nya itu dengan tatapan sendunya melihat sahabatnya itu yang kini tampak begitu menyedihkan itu. Makanan yang sedari tadi di pesannya kini malah hanya di aduk-aduk saja tanpa di makan sedikitpun oleh gadis tersebut.


“Gak laper,” ucap Queena yang kini meletakkan sendok yang digunakannya. Helaan nafas kasar terdengar pada laki-laki itu.


“Makan kali Queen, kasian makanannya,” uca suara laki-laki yang kini tiba-tiba saja muncul dan langsung duduk di samping Queena. Queena sontak mengalihkan perhatiannya pada kedua laki-laki yang kini duduk di samping kiri dan samping kanannya itu.


“Ngapain kalian kesini?” tanya Vanya dengan tatapan bingung nya. Melihat kedua laki-laki yang tak lain adalah sahabat Arsen. Melihat kedua sahabat Arsen yang datang tanpa Arsen membuat Queena bertanya-tanya kemana pergi nya Arsen.


Namun saat mengingat kini sudah ada Meylen yang menemaninya membuat Queena tersenyum dengan begitu sinisnya. Dan semua itu tak lepas dari tatapan teman-teman nya membuat mereka kini mengerutkan kening dengan tatapan penuh tanya.


“Kenapa Queen?” tanya Kina yang membuat Queena segera menoleh ke arah sahabat nya itu lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan begitu menenangkan.


“Mikirin Arsen ye? Dia lagi gak masuk, lo tau dia ancur banget Queen setelah kejadian kemarin. Bahkan kemarin dia cuma mengurung dirinya aja di kamar. Kalau gue boleh minta mending lo samperin dia,” ucap Edsel dengan begitu serius nya pada Queena.


“Gak usah jadi setan lo, kalau cuma mau bela temen lo itu mending pergi sana,” usir Calya dengan tatapan kesal nya pada Edsel.


“Gue gak bela siapa-siapa. Gue ada di kubu Queena. Tapi ngeliat sahabat gue yang ancur gini gue juga gak bisa. Gue tau lo masih suka sama dia, buat apa saling menyakiti kayak gini kalau bersama adalah jalan terbaik?” tanya Edsel dengan tatapan seriusnya pada Queena. Queena yang mendengar ucapan dari Edsel kini hanya terdiam. Pikirannya sudah kacau sedari kemarin dan kini laki-laki di samping nya itu malah menambahkan beban pikirannya.


“Lo tau dia masih sayang banget sama lo Queen. Kemarin dia cuma lagi bingung sama pikirannya sendiri. Dan terhasut sama Meylen. Gue harap lo bisa pikirin ini dengan baik Queen,” ucap Panca yang kali ini ikut menimpali.

__ADS_1


“Gue duluan,” ucap Queena yang kini lebih memilih untuk segera pergi dari sana meninggalkan kedua sahabat nya juga sahabat Aren.


Kini ia hanya butuh untuk menenangkan dirinya sendiri.


***


Bagas memasuki rumah besar yang sudah lama tak ia datangi itu dengan langkah kaki nya yang begitu santai.


“Bagas?! Tumben banget dateng, ada apa nak?” tanya sebuah suara yang kini menghentikan langkah Bagas saat ia melewati ruang keluarga. Laki-laki itu memang tidak ada permisinya saat memasuki rumah yang tak lain adalah rumah kakek dan nenek nya yang kini juga ditempati keluarga Arsen.


“Mau ketemu sama Arsen, Tan,” ucap Bagas dengan cengirannya sambil berjalan ke arah ibu Arsen dan menyalami tangan wanita paruh baya yang masih tampak begitu cantik itu.


“Nah bagus kamu dateng, coba deh kamu lihat dia. Mulai kemarin dia gak mau keluar kamar, tante sampai bingung harus gimana lagi bujuk dia,” ucap Sarah pada keponakannya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Sarah.


“Tante juga bingung. Mau tante ceramahin tapi ngeliat dia kayak gitu Tante jadi gak tega,” ucap Sarah yang malah membuat Bagas terkekeh mendengar ucapan Sarah.


“Ya udah Tan, Bagas ke atas dulu,” ucap Bagas berpamitan pada Sarah. Setelah nya Bagas segera berjalan menuju ke arah kamar Arsen berada.


“Arsen, gak capek lo di dalem mulu. Berantem sini sama gue daripada lo cuma mendem di kamar gitu. Mau sampe kapan lo bego gini? Gue ngerasa gak kenal sama Arsen yang bego gini,” ucap Bagas saat sampai di depan kamar Arsen sambil mengetuk pintu sepupu nya itu. Namun tetap saja tak ada jawaban dari dalam sana.


“Lo kalau diem doang kayak gini lama-lama Queena bener-bener diambil orang. Percaya sama gue. Harusnya sekarang lo datengin Meylen lo putusin dia. Terus lo datengin bokap nya buat minta maaf juga minta restu lagi. Terus lo berjuang dari awal lagi buat Queena. Bukannya cuma mendem di kamar gini,” ucap Bagas melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Arsen. Keluar bego. Ayo lah gue temenin berantem sini, dari pada lo di dalem gitu. Ngeri gue kalau lo bunuh diri,” ucap Bagas lagi. Hingga suara pintu dibuka kini terdengar dan menampilkan Arsen yang terlihat begitu kacau.


Tatapannya kini begitu datar, dengan bagian bawah matanya yang begitu hitam menandakan jika laki-laki itu tak tidur. Bau alkohol dan rokok yang tercium dari Arsen membuat Bagas menggelengkan kepalanya melihat sepupunya itu.


Hubungannya dengan Arsen sebenarnya belum dinyatakan membaik. Namun kini karena perintah dari kekasih nya akhirnya ia mau untuk menemui Arsen dan berusaha meyakinkan laki-laki itu dengan pilihannya sendiri.


“Balik deh lo sana,” usir Arsen yang kini sontak membuat Bagas memelototkan matanya. Namun bukannya menuruti perintah Arsen. Laki-laki itu kini malah segera masuk ke dalam kamar Arsen. Hingga ia dibuat hampir terjatuh karena tersandung barang yang terjatuh. Keadaan kamar tersebut begitu gelap. Tak ada cahaya di dalam nya. Bahkan tirai kini tertutup begitu rapat.


“Gila, lo lagi cosplay jadi vampir?” tanya Bagas dengan kekesalannya lalu segera menyalakan lampu di kamar tersebut hingga matanya dibuat memelotot melihat pemandangan di depannya yang sudah seperti kapal pecah.


Banyak pecahan kaca juga vans bunga, botol minuman keras di mana-mana dengan debu dari bekas rokok yang berserakan. Bagas bahkan menggelengkan kepalanya melihat apa yang tersaji di depannya itu.


“Gue gak tau lo bisa sekacau ini karena cewek, padahal pas Meylen ninggalin lo. Lo gak separah ini,” ucap Bagas sambil menggelengkan kepalanya.


“Mending lo pulang deh. Matiin tuh lampu dan tutup pintu,” tegas Arsen yang kini lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang nya. Bagas yang melihat itu menggelengkan kepalanya.


“Saran gue tadi di dengerin. Kasian Queena nangis mulu,” ucap Bagas yang setelah nya benar-benar pergi dari sana yang membuat Arsen terkejut mendengar ucapan Bagas tentang Queena.


Bagas benar ia harus bangkit. Ia tak bisa untuk terus seperti ini. Setidaknya ia perlu berjuang lebih dulu untuk Queena.


***

__ADS_1



__ADS_2