Renjana

Renjana
Dua Pengganggu


__ADS_3

“Jadi ini tempat dia latihan?” tanya laki-laki yang kini tengah berdiri di samping sebuah mobil yang hanya membuka kaca jendela nya. Orang di dalam sana sontak melihat ke arah laki-laki tersebut dan menganggukkan kepalanya.


“Dua puluh menit lagi dia keluar,” ucap gadis di dalam mobil yang membuat laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya.


“Lo balik aja Deh, ini urusan gue,” ucap laki-laki yang tak lain adalah Bagas, pada gadis yang tak lain adalah Dewi. Dewi yang mendengar ucapan Bagas menganggukkan kepalanya.


“Semangat ya, semoga berhasil,” ucap Dewi dengan senyumannya yang kini malah membuat Bagas terkekeh mendengar ucapan gadis tersebut.


Setelah memastikan jika mobil Dewi sudah meninggalkan tempat mereka segera berdiri. Bagas segera berjalan ke arah motornya yang kini sudah terparkir di depan tempat les piano tersebut. Senyumannya mengembang, ia begitu tak sabar menanti gadis yang ia sukai itu keluar.


***


Queena kini meregangkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah ia selesai dengan les piano nya. Ia segera bersalaman pada pelatihnya lalu segera keluar dari tempat les nya itu. Ia takut jika ia berada terlalu lama di dalam maka Arsen akan menunggu nya begitu lama. Akhirnya kini ia segera keluar.


Namun saat sampai di depan tempat nya latihan ia tak mendapati keberadaan Arsen di sana. Kening Queena mengernyit bingung saat melihat seorang laki-laki dengan motor sport berwarna hitam hijau nya menghampiri Queena.


Queena yakin itu bukanlah motor Arsen, ia sudah begitu mengenali motor tunangannya itu Saat motor tersebut berhenti tepat di depannya. Queena mengerutkan keningnya bingung.


Hingga saat laki-laki itu membuka helm nya barulah Queena mengenali laki-laki tersebut. Matanya bahkan membelalak Saat melihat keberadaan laki-laki yang gak lain Bagas. Laki-laki yang suka sekali mengganggunya. Dan Queena baru tahu jika Bagas adalah sepupu Arsen. Queena masih tak menyangka jika Arsen memiliki sepupu yang begitu menyebalkan seperti Bagas.


"Hey, Queena yang cantik," sapa Bagas pada Queena gang kini membuat gadis itu menatap Bagas dengan tatapan datar nya berbeda dengan Bagas yang sudah mengembangkan senyum terbaiknya.


"Kenapa sih Gas? Demen banget dah gangguan Queena," ucap Queena dengan kekesalannya pada Bagas yang kini justru terkekeh mendengar ucapan Queena.

__ADS_1


"Karena gue suka sama lo Queena. Emang lo gak bisa liat effort gue ke lo?" Tanya Bagas dengan menaikkan  sebelah alisnya yang kini membuat Queena menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Bagas.


"Tapi gue engga. Lagian gue udah tunangan sama sepupu lo. Jadi gak usah ganggu gue lagu," ucap Queena yang hendak pergi dari sana namun  baru saja ia melangkah kini tangannya sudah di cikal oleh Bagas yang menahan langkah nya.


Melihat hal tersebut Queena memutar bola matanya malas. Menatap Bagas dengan tatapan kesalnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Bagas yang belakangan ini suka sekali mengganggu nya dan selalu muncul di manapun Queena berada. Laki-laki tersebut seolah mengetahui semua jadwal Queena. Queena merasa curiga akan hak itu namun ia juga tidak tahu daripada Bagas mengetahui semua jadwalnya.


"Gak usah ganggu deh Gas, gue mau balik," kesal Queena sambil menghempaskan tangan Bagas yang membuat Bagas kini malah terkekeh mendengar ucapan Queena.


"Gue anter ya," Tawar Bagas pada Queena yang sontak menjawabnya dengan gelengan tegas.


"Ogah," ucap Queena kesal.


"Gue anter deh, lagian lo juga gak ada yang jemput kan?" Tanya Bagas dengan seringainya. Melihat hal tersebut Queena memicingkan matanya. Ia tahu pasti ada yang tidak beres di sini.


Bagas segera menoleh ke arah Queena dan benar saja ternyata disana sudah Carol yang menunggu Queena. Melihat hak tersebut Bagas mengepalkan tangannya. Bodoh nya ia tak memperkirakan jika Carol yang akan datang untuk menjemput Queena.


Queen kini segera menyalami tangan ayahnya. Lalu segera membantu anaknya itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelah dirasa aman. Carol segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.


"Arsen kemana Dad?" Tanya Queena karena malah ayahnya yang kini menjemput nya. Padahal tadi Arsen mengatakan akan menjemputnya.


"Arsen lagi ada masalah di jalan jadi, Arsen minta Daddy untuk jemput kamu," ucap Carol menjelaskan pas Queena yang kini terlihat mengerutkan kening nya namun akhirnya ia tetap saja menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan ayah nya itu.


***

__ADS_1


Tatapan Queena kini terus saja menatap Arsen dengan tatapan ibahnya. Bahkan sesekali gadis itu meringis saat ia sedang memeriksa luka di wajah Arsen. Arsen yang melihat tingkah gadisnya itu bahkan di buat terkekeh karena nya.


"Aku gak papa Queen, ini cuma luka kecil," ucap Arsen dengan senyuman menenangkannya pada Qurena. Namun gadis itu sama sekali tidak bisa untuk tenang saat melihat luka lebam dan robek di bibir kiri tunangannya itu.


Malam ini Arsen tiba-tiba saja datang ke rumahnya dengan membawa martabak namun Queena malah di buat salah fokus melihat wajah Arsen yang penuh dengan luka.


"Ini muka kamu kenapa sih?" Tanya Queena dengan tatapan penasarannya pada Arsen.


“Tadi waktu aku jemput aku, tiba-tiba aja aku di hadang sama temen-temennya Bagas. Karena aku merasa ada yang aneh mangkanya aku minta Daddy kamu yang jemput, maaf ya tadi gak bisa jemput kamu,” ucap Arsen menjelaskan pada Queena yang kini menghembuskan nafasnya mbdengar ucapan Arsen. Tatapan Nya kini mengarah pada Arsen dengan tatapan iba nya.


“Emang Bagas ya, tadi dia tuh emang datang ke tempat les piano aku. Tapi untung Daddy datangnya tepat waktu,” ucap Queena dengan kekesalannya mengingat bagaimana tadi Bagas yang menghampirinya dan malah menggoda nya.


Arsen mengelus puncak kepala Queena sayang, menatap gadisnya itu dengan tatapan lembut nya.


“Jangan di hiraukan. Bagas emang gitu, semaunya,” ucap Arsen dengan senyumannya berusaha memperingati gadisnya itu yang kini menjawabnya dengan anggukan.


“Udah gak usah cemberut lagi, mending sekarang kamu makan dulu nuh martabak nya. Nanti keburu dingin gak enak,” ucap Arsen sambil menyodorkan kotak berisi martabak manis kesukaan Debby.


Melihat hal itu Debby tersenyum senang lalu segera mengambil satu untuk ia makan. Lalu ia juga menyiapkannya pada Arsen. Malam itu akhirnya mereka menghabiskan waktu mereka bersama dengan banyak tawa dan cerita dari Queena tentang bagaimana tadi kelas piano nya.


Di balik sebuah pilar besar kini ada yang terus mendengar pembicaraan mereka dengan perasaan yang begitu terluka. Tangannya bahkan mengepal mendengar tawa itu.


“Bagas. Lo gak bisa diandalkan,” kesal gadis tersebut yang tak lain adalah Dewi yang sedari tadi terus mendengar kan pembicaraan Arsen dan Queena dengan kekesalannya. Merasa tak lagi tahan berada di sana akhirnya ia segera pergi dari sana.

__ADS_1


***


__ADS_2