
Sepeninggal Thoriq, Aulia tak kuat lagi menahan rasa tangisnya, oleh karena itu ia lantas memeluk pigura foto yang diberikan oleh sahabatnya itu. Dulu ketika Thoriq masih ada di sisinya, dia selalu bahagia. Tapi semuanya benar-benar tidak seperti dulu lagi, kini Aulia tidak mempunyai teman dekat lagi.
Di sekolah, Aulia sering kena bully oleh teman-teman kelasnya. Tak hanya itu, dia selalu dikucilkan, padahal dulunya semuanya tidak seperti itu. Aulia tidak pernah kena bully karena Thoriq selalu menjaganya dari orang-orang yang akan menyakiti dia.
Seiring berjalannya waktu, Aulia berusaha menghibur dirinya sendiri, berusaha yakin kalau dia bisa bareng-bareng lagi dengan sahabatnya itu. Aulia selalu ingat dengan kata-kata Thoriq bahwa 'persahabatan yang kuat tak butuh percakapan sehari-hari atau kebersamaan setiap waktu, selama persahabatan itu ada di hati, sahabat sejati tidak akan pernah terpisah'.
Selama Thoriq tidak ada di sisinya, hanya pigura foto pemberian dari sahabatnya itu yang membuat Aulia sedikit tak pernah merasa sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan telah ia lewati dan tidak terasa Aulia sudah duduk di bangku kelas 5 dan liburan kenaikan kelas telah tiba. Itulah saat yang dia tunggu-tunggu.
Thoriq pasti datang menemuiku, pikir Aulia.
Dia benar-benar tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Thoriq.
***
Suatu hari ....
Sore itu, Aulia melihat mobil yang terparkir di depan rumah Thoriq. Dia melihat Ayah sahabatnya itu keluar dari mobil tersebut dan tanpa berpikir panjang dia pun menghampirinya.
__ADS_1
"Om Riki?" sapa Aulia sambil tersenyum ramah.
"Eh, Aulia!" balas Om Riki seraya tersenyum lebar.
Aulia tersenyum lagi, mata indahnya itu menatap ke dalam mobil Om Riki, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan orang yang ia cari di sana. Bahkan, dia juga mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Thoriq, tapi nihil!
"Om, Thoriq gak ikut?" tanya Aulia lantas duduk di dekat Ayah sahabatnya itu.
"Oh itu, Thoriq lagi ikut perkemahan. Sebenarnya dia pengen banget kesini, tapi bertabrakan dengan perkemahan itu!" jelas Om Riki seraya menatap Aulia dengan iba.
"Oh gitu ya, Om!" balas Aulia dengan raut wajah yang terlihat murung.
"Baik, Om. Jadi selama Thoriq di sana, gimana keadaannya?" tanya Aulia.
"Baik-baik aja sih, tapi Om liat Thoriq sering melamun, dia juga selalu bilang katanya ia sangat kesepian! Dia pengen bareng-bareng sama kamu lagi, tapi beginilah kami selalu gak punya waktu buat ke sini!" jelas Om Riki dengan nada tak tega.
"Gak papa, Om, titip salamku juga buat Thoriq, ya!" timpal Aulia seraya tersenyum lebar.
"Baiklah, Om juga tidak lama di sini, sebentar subuh Om balik lagi ke Bondowoso!"
"Cepat banget, Om!"
__ADS_1
"Ya, mau gimana lagi, masih ada perkemahan di sana, Om juga mau ngurus anak didik Om!"
Aulia hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Ayahanda sahabatnya itu.
***
Subuh itu ....
Aulia melihat dari jendela rumahnya, Om Riki sudah bersiap-siap. Ia pun langsung langsung menghampirinya.
"Om sudah mau berangkat?" sapa Aulia.
"Iya, Nak," jawabnya sambil menata barang-barangnya dalam mobil.
"Jangan lupa titip salamku buat Thoriq ya, Om!"
"Oke, siap! Om berangkat dulu, baik-baik di sini, ya!" tutur Om Riki seraya membelai kepala Aulia.
Setelah berjabat tangan dengan Aulia, Om Riki pun pergi. Di balik wajah indahnya itu, Aulia kelihatan sangat merindukan kehadiran Thoriq di sisinya.Tapi sepertinya Tuhan belum meridhoi mereka untuk bertemu.
__ADS_1