Renjana

Renjana
Perhatian Arsen


__ADS_3

Pagi ini Queena terlihat begitu berbeda saat di sekolah, tak ada lagi Queena yang ceria dan tak ada lagi Queena yang suka mengganggu Arsen. Bahkan kini Queena hanya berada di kelas nya sambil tertidur dengan tangannya sebagai bantalan di atas meja.


Tak berbeda jauh dengan Queena, Dewi pun sekarang hanya diam di kelas nya dan melakukan hal yang sama seperti Queena. Sahabat mereka mengira jika Dewi dan Queena sedang ada masalah di keluarganya hingga kedua gadis itu kompak untuk mengurung diri di kelas nya.


“Queena, makan dulu nih. Kita beliin roti sama susu,” ucap Calya sambil memberikan makanan yang sudah dibelinya untuk Queena.


“Tarok aja, Queena ngantuk,” ucap Queena acuh dan memilih untuk melanjutkan tidur nya dan memilih memejamkan matanya. Kedua sahabatnya itu hanya menghela nafasnya melihat Queena yang kini terlihat tak seperti biasanya.


“Makan dulu Queena, lo abis sakit,” tegas Kina berusaha untuk membujuk Queena agar ia mau makan walau hanya sedikit saja.


Namun Queena sama sekali tidak menanggapinya. Lagi-lagi sahabatnya hanya bisa menghela nafasnya. Sampai tak lama kelas yang awalnya begitu ramai sontak hening. Queena bahkan kebingungan karena nya. Sampai ia merasakan sapuan lembut di kepalanya membuat Queena mendongak dan kini ia mendapati Arsen yang sudah berada di depannya.


“Nasi goreng dan teh hangat. Makan sekarang,” tegas Arsen seolah tak menerima penolakan.


Perlakuan Arsen tersebut tentu saja membuat para murid di kelas yang melihat nya jadi bertanya-tanya ada apa dengan kedua orang itu. Queena yang biasanya selalu mengganggu Arsen kini malah sama sekali tidak mengganggu Arsen. Dan kini malah Arsen yang datang untuk menghampiri Queena.


“Kenapa Cuma di liatin? Cepet makan,” ucap Arsen dengan begitu tegas nya pada Queena.


“Lagi mastiin aja ini nyata apa enggak,” ucap Queena dengan cengiran nya yang membuat Arsen memutar bola matanya malas mendengar ucapan Queena.


“Mau makan di sini atau taman belakang?” tawar Arsen. Ia merasa Queena kini ingin mengeluarkan isi pikirannya yang pasti tengah kacau.

__ADS_1


“Taman belakang aja,” ucap Queena yang membuat Arsen kini menjawabnya dengan anggukan.


Setelahnya mereka segera pergi dari kelas Queena, tentu saja hal itu membuat kehebohan di sana. Kedua sahabat Queena kini bahkan tak kalah kagetnya melihat hal tersebut. Mereka tak menyangka jika Queena kini begitu dekat pada Arsen. Mereka seolah melewatkan sesuatu atas hubungan mereka.


Dewi yang sedari tadi melihat adegan di depannya semakin mengepalkan tangannya tak suka melihat bagaimana Arsen yang kini begitu dekat dengan Queena. Tak hanya mereka, Arsen sendiri bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya hingga ia mau untuk menghampiri Queena dan membawakan makanan untuk gadis itu.


Di sepanjang koridor pun para siswa dan siswi tak kalah heboh melihat Arsen yang kini membawa plastik berisi makanan dan minuman dengan Queena yang berjalan di samping nya tanpa banyak bicara. Sebuah pertunjukan yang langkah karena Queena kini hanya diam saja berada di dekat laki-laki yang dicintainya.


“Sini duduk,” ucap Arsen yang sudah lebih dulu duduk di kursi yang berada di taman itu.


Queena ikut duduk di samping Arsen. Arsen membukakan kotak nasi goreng milik Queena lalu menyerahanna pada Queena,  gadis itu segera mengambil nya dan mulai memakan makanannya dengan lahap karena sebenarnya ia juga sudah begitu lapar.


 Arsen hanya diam memperhatikan Queena, rasanya ia begitu gemas dengan gadis itu. Melihat bagaimana cara Queena memakan makannya dengan begitu lahap membuat senyuman Arsen tanpa sadar mengembang dan hal itu bisa ditangkap oleh Queena.


“Makan, gak usah ngerusuh,” ucap Arsen dengan tatapan datar dan dinginnya pada Queena yang hanya berdecih saja mengetahui jika laki-laki itu hanya malu saja karena ketahuan tengah memandangi Queena sambil tersenyum.


“Udah abis,” ucap Queena sambil menyerahkan bekas makannya pada Arsen yang segera menerima nya lalu segera menyerahkan minuman untuk Queena. Queena segera mengambilnya lalu meneguk nya hingga tandas.


“Makasih ya kak,” ucap Queena tulus sambil memngembangkan senyumnya. Arsen hanya menjawabnya dengan anggukan.


“Udah ngobrol sama mama lo dan Dewi?” tanya Arsen yang kini menatap Queena dengan wajah seriusnya. Mendengar pertanyaan Arsen, Queena menggelengkan kepalanya karena memang ia belum sempat untuk berbicara pada Dhisi juga Dewi. Atau memang ia belum siap untuk bertemu dengan mereka.

__ADS_1


“Aku belum siap untuk berbicara dengan mereka,” ucap Queena dengan tatapan nanar nya ke arah depan.


Arsen menghembuskan nafasnya kasar, ia mengerti apa yang Queena rasakan. Pasti sulit untuk nya, bertemu dengan orang yang ia pikir yang menjadi alasan ia tak bisa untuk bertemu dengan ibu kandungnya.


“Setelah siap, coba untuk berbicara,” ucap Arsen sambil mengelus tangan Queena yang membuat Queena tersenyum sambil menjawabnya dengan anggukan.


“Queena kemarin lihat Daddy nangis sambil ngeliat foto perhnikahannya sama Mommy, Queena jadi gak tega lihat nya,” ucap Queena yang kini menatap Arsen dengan mata nya yang berkaca-kaca. Arsen menggenggam tangan Queena memberikan ketenangan juga kekuatan pada gadis itu seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


“Pasti sulit baut Daddy lo ngelupain mama lo,” ucap Arsen yang Queena balas dengan anggukan.


“Daddy sama Mama udah kenal mulai SD terus mereka pacaran mulai SMP kelas tiga, setelah lulus kuliah mereka langsung nikah, padahal ijazah belum keluar. Dan satu tahun lebih menikah akhirnya Mommy pergi untuk selama-lama nya,” ucap Debby dengan senyuman sendu nya pada Arsen.


“Daddy lo pasti sangat banget sama Mommy lo, gak heran kalau sulit buat Daddy lo ngelupain dia,” ucap Arsen yang lagi-lagi Queena balas dengan anggukan.


“Queena berharap kak Arsen juga bisa mencintai Queena kayak Daddy mencintai Mommy,” ucap Queena dengan cengirannya yang kini malah membuat Arsen menatap gadis di depannya itu dengan tatapan datar nya.


Gadis itu sepertinya memang tak kenal tempat dan kondisi untuk terus menggoda Arsen. Bahkan dalam keadaan seperti ini ia masih sempat menggoda Arsen dan mengungkapkan perasaannya.


“Ayo balik, makin lama sama lo, makin gak waras,” ucap Arsen yang membuat Queena kini mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan laki-laki tersebut.


“Makin gak waras atau takut makin cinta?” tanya Queena menggoda Arsen yang kini lebih memilih untuk segera pergi dari sana. Apa yang Queena katakan benar. Makin lama bersama Queena, hanya membuat perasaan semakin tak menentu. Jadi lebih baik ia segera pergi meninggalkan gadis itu.

__ADS_1


Namun Queena tetap saja akhirnya mengikuti Arsen untuk pergi dari sana.


***


__ADS_2