Renjana

Renjana
Arti Kebersamaan dan Suka Duka dalam Persahabatan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tak terasa liburan hampir usai dan mereka juga akan mulai masuk di SMP.


Hari itu... Seperti biasa Aulia dan Thoriq bersepeda bersama mengelilingi kompleks perumahan. Setelah itu mereka kembali ke taman di dekat rumah mereka. Di taman itu Aulia dan Thoriq mempunyai rumah pohon yang mereka buat sendiri. Dan disanalah mereka sering menghabiskan waktunya bersama-sama.


" Aulia...Kamu tunggu di sini sebentar ya..." ujar Thoriq sambil berlalu


" Eh mau kemana ? " balas Aulia dengan setengah berteriak


" Aku ke depan dulu...Sebentar aja kok " jawab Thoriq sambil menoleh ke arah Aulia


Aulia hanya mengangguk lalu ia naik ke rumah pohon milik mereka. Sambil menunggu Thoriq, ia menulis di diarynya.


Tak lama kemudian...


" Hai... Serius amat " ujar Thoriq sambil duduk. di dekat Aulia


Tapi Aulia rupanya sedang asyik dengan


' dunianya sendiri '. Senyuman manis itu tersungging dari bibir merah alami miliknya.


Hufft...


Thoriq hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dikala Aulia tak menggubrisnya.


Ia tahu betul dengan tabiat sahabat perempuan satu - satunya itu. Ya... Dikala pena milik Aulia sudah menari - nari di diarynya, terkadang ia selalu terbawa suasana dan tidak sadar dengan keadaan di sekelilingnya.


" Ul... Kamu mau es krim gak ? " tawar Thoriq sambil membuka satu kemasan es krim


" Es krim...? Mau dong...! Ada cokelat gak ? " balas Aulia dengan penuh semangat


" Euyy.. Es krim cepet. Aku dari tadi ngomong, gak dijawab " ucap Thoriq


" Hehe..Sorry ya..." balas Aulia sambil tersenyum


" Ya.. Nih es krim buat kamu " lanjut Thoriq sambil menyodorkan es krim cokelat kepada Aulia


" Wah...! Makasih banget ya. Thoriq memang baik " timpal Aulia dengan kegirangan


" Oh jelas dong ! " sambung Thoriq lalu mereka pun tertawa bersama.


Mereka menikmati es krim bersama sambil melihat panorama taman itu dari atas, dengan muda - mudi yang berlalu lalang dan anak - anak yang berlarian sana - sini.


Di tengah keheningan...


Saat asyik - asyiknya Aulia menikmati es krimnya, tiba - tiba kejahilan Thoriq muncul.


Dengan wajah tak berdosa, ia mengoleskan sedikit es krim ke pipi sahabatnya itu.


Kaget...?


Tentu saja, sontak Aulia pun menoleh ke arah Thoriq dan mendapati sahabatnya itu tertawa lepas.


" Ih... Thoriq nyebelin... ! " ujar Aulia sambil berusaha membalas kelakuan Thoriq

__ADS_1


" Biarin... wleee.. " ledek Thoriq sambil berusaha menghindar dari Aulia


" Ih...Rasain nih " Aulia pun mengoleskan sedikit es krim ke pipi Thoriq dan akhirnya


' terkena '


" Yah... Aulia gak lucu..." timpal Thoriq sambil menghapus olesan es krim itu dari pipinya


" Makanya jangan jahil... wleee " sambung Aulia


Tapi rupanya Thoriq gak ada kapok - kapoknya. Ia malah menambah olesan es krim di pipi Aulia lalu dia berlari turun dari rumah pohon


" THORIQ...! " pekik Aulia lalu berlari menyusul Thoriq


Bau wangi semerbak bunga menjadi saksi sepasang sahabat ini yang tengah berlari - larian. Ya... Mereka memang seperti itu saat menghabiskan waktu bersama - sama. Selain penuh canda tawa, di antara mereka juga pastinya ada ' kejahilan '.


Thoriq terus berlari - lari di taman itu sambil tertawa puas melihat wajah Aulia yang sangat jengkel.


Tapi siapa sangka di balik kejahilan Thoriq, ternyata ia adalah sosok yang penyayang dan pelindung bagi Aulia.


Tawa itu berhenti, berubah menjadi raut muka yang panik dan cemas. Ya... Thoriq tiba - tiba melihat Aulia tidak mengejarnya lagi. Tapi kini ia berdiri di dekat batu besar dalam posisi membelakanginya, ia melihat Aulia tak menyadari itu. Parahnya Aulia terlihat berjalan mundur. Itu bisa fatal, pikir Thoriq.


Karena kekhawatiran yang begitu besar telah bersarang dalam sanubari Thoriq, ditambah ia tak ingin sahabatnya itu celaka karena ulahnya sendiri. Akhirnya, Thoriq pun menyiasati keadaan yang ' darurat ' itu.


Terlebih dahulu, ia mencoba berteriak memperingatkan Aulia untuk tidak mundur.


' Oh tidak...! '


Bukannya Aulia tuli, tapi seakan - akan telinganya dibuat tersumbat dengan


Mereka berdua jatuh ke rerumputan kering di taman itu. Aulia pun sangat kaget dan kekagetannya bertambah dikala ia melihat Thoriq juga ikut jatuh dengan nafas tersengal - sengal.


Aulia pikir Thoriq berbuat usil lagi, karena saking ' jengkelnya ' ia pun mencubit Thoriq.


" Aduh...! Maaf banget Ul, kali ini aku gak jahil. Tapi berusaha nolongin kamu " jelas Thoriq sambil meringis kesakitan


" Hah...? "


" Tuh liat Ul... " ujar Thoriq sambil menunjuk batu yang tak jauh dari depannya


Aulia pun menoleh melihat ke arah yang ditunjuk Thoriq


" Nah.. Tadi kamu berdiri di sana dengan posisi membelakangi batu itu dan parahnya kamu berjalan mundur. Kalau gak aku tolongin, bisa celaka lho Ul... " jelas Thoriq sambil mengambil nafas dalam - dalam karena kecapekan.


" Eh... Ya ampun, maaf banget ya Riq...Aku sudah cubit kamu, aku ga tau " balas Aulia dengan raut muka sangat bersalah


" Ah.. Gapapa Ul, ini bukan salahmu. Aku yang salah " ucap Thoriq sambil membantu Aulia berdiri


Aulia hanya mengangguk...


" Gak ada yang sakit kan...? Maafin aku ya Ul " lanjut Thoriq


" Iya... Gapapa kok Riq " balas Aulia sambil tersenyum

__ADS_1


" Oh iya.. Aku beli minum dulu ya " ucap Thoriq


" Eh.. Gausah Riq " bantahku


" Gapapa Ul.. Tunggu sebentar ya.. " sambungnya sambil berjalan menuju warung yang terletak di dekat taman ini


Tak lama kemudian...


" Aulia... " sapa Thoriq dengan ceria


" Ya ampun Riq, seharusnya kamu gak perlu kayak gini "


" Sudah Ul, gapapa. Anggap aja semua ini untuk nebus kesalahanku. Ayo minum dulu airnya " timpalnya sambil membuka tutup botol air mineral yang telah ia beli untukku dan langsung menyodorkan kepadaku


" Hmm.. Makasih ya Riq " ucapku


" Ya.. Gak masalah " jawabnya


" Oh ya Ul, kita kan udah mau masuk SMP. Ngomong - ngomong..., kamu lanjut ke mana ? " tanya Thoriq


" Ya... SMP yang tak jauh dari daerah ini sih Riq. Memangnya kenapa ? " balas Aulia


" Gapapa... Tapi gak kerasa juga ya, kita udah mau masuk SMP. Dan sedihnya libur sudah hampir usai..." jelas Thoriq dengan nada sedih sambil melihat sekilas ke arah Aulia


" Dan itu artinya..., aku tak lama lagi harus kembali ke Bondowoso " lanjutnya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar


Aulia sadar...


Ia bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam diri Thoriq.


Karena tak tega melihat sahabatnya bersedih, Aulia pun menghiburnya


" Hmm... Gak boleh sedih Riq, ya... mau ga mau kita harus jalani ini semua " nasihat Aulia sambil menepuk pelan bahu Thoriq


" Iya sih... "


" Tapi kalau setelah kamu balik ke Bondowoso, jangan lupa sering - sering kesini ya, Riq ? " lanjut Aulia


" Tentu saja Tuan Putri. Jangan pernah bersedih... " canda Thoriq mencairkan suasana


Ya...


Begitulah mereka, selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan di dalam persahabatan mereka itu.


Meskipun kini persahabatan mereka terbatas oleh jarak dan waktu, tapi persahabatan mereka tetap utuh dan selalu ada di hati mereka masing - masing.


Hari itu...


Angin melambai - lambai seakan turut berbahagia dengan canda tawa yang dilontarkan dari sepasang sahabat ini.


Mereka terus bersama menghabiskan waktu di taman itu sampai matahari sepenggal kepala. Lalu mereka pulang ke rumah masing - masing dengan wajah ceria nan penuh kebahagiaan yang turut menyertai langkah kecil mereka.


Duhai...

__ADS_1


Betapa bahagianya...!


__ADS_2