Renjana

Renjana
Arsen Mode Manja?


__ADS_3

Pertandingan yang begitu sengit dan menegangkan kini akhirnya selesai juga dengan SMA Atlantik yang memenangkan pertandingan.  Arsen kini berjalan dengan berusaha mengatur nafasnya menuju ke arah Queena yang kini sudah menunggu dengan senyuman gadis itu yang mengembang sempurna.


“Kak Arsen keren,” ucap Queena sambil menyodorkan air pada Arsen. Arsen segera mengambilnya dan langsung menegak nya hingga tandas.


“Lapin,” perintah Arsen pada Queena yang malah membuat gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah tak percaya dengan ucapan Arsen.


“Kenapa diem?” tanya Arsen sambil menaikkan sebelah alisnya menatap bingung pada Queena yang kini menggigit bibir bagian bawahnya.


“Jangan di gigit bibirnya, jelek lo begitu,” ketus Arsen dengan nada tak suka. Sebenarnya Queena terlihat begitu menggoda dengan ekspresinya itu dan ia tak suka melihat laki-laki lain memandang Queena dengan tatapan penuh minat. Queena yang mendengarnya hanya memberengut kesal mendengarnya dan ia segera mengelap keringat di wajah laki-laki itu. Berusaha untuk menahan nafasnya saat wajah nya kini berada begitu dekat dengan Arsen yang malah menundukkan wajah nya sambil menatap Queena yang kini fokus dengan kegiatannya.


Tak menyadari Arsen yang kini terus menatapnya, Queena malah mengalihkan tatapannya ke arah Arsen. Hingga ia dibuat terkejut saat melihat Arsen yang kini menatap ke arah nya. Hingga kini mereka saling bertatapan. Detak jantung Queena kini sudah bertalu dengan tidak menentu, begitupun dengan detak jantung Arsen yang juga berpacu tak kalah cepat nya.


“Udah?” tanya Arsen yang kini memilih untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia merasa tak aman jika terus menatap pada Queena.


Dengan gugur Queena menganggukkan kepalanya lalu menyerahkan handuk kecil yang di bawahnya pada Arsen. Setelahnya Arsen langsung mengambilnya dan mengelap keringat di lehernya.


“Chiki nya udah abis?” tanya Arsen menatap tak percaya pada makanan ringan yang dibelinya kini hanya tersisa bungkus nya saja. Mendengar pertanyaan Arsen, Queena hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya sedangkan Arsen hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ayo gue anter pulang,” ajak Arsen sambil membawa tas nya, juga kantong plastik yang kini hanya berisi sampah saja. Queena kini hanya mengikuti di samping Arsen. Berjalan bersama dengan laki-laki tersebut yang kini menggenggam tangan Queena. Ia benar-benar tak ingin jika gadis itu di lihat oleh laki-laki lain, seolah menunjukkan pada laki-laki yang terus melihat ke arah Queena jika gadis itu adalah miliknya.


Tak ada lagi yang berani untuk terang-terangan menggoda atau memuji Queena saat melihat wajah tampan yang menggandeng tangan Queena kini di lingkupi dengan aura dingin dan tatapan tajam. Queena bahkan terkejut saat Arsen menggenggam tangannya. Namun setelahnya senyumannya mengembang dengan begitu sempurna. Ia begitu senang karena Arsen yang menggenggam tangannya.


Saat sampai di parkiran Arsen segera melepaskan tangan mereka lalu memakaikan helm untuk Queena. Setelahnya ia segera naik ke atas motornya dan menggunakan helm nya. Lalu membantu Queena untuk naik ke atas motornya.


Selama perjalanan Queena kini lebih banyak diam dan memilih menikmati perjalannya dengan bersandar pada punggung lebar Arsen dan memejamkan matanya. Hingga setelah perjalan yang cukup jauh kini akhirnya mereka sampai di depan rumah Queena.


“Makasih ya kak,” ucap Queena dengan senyumannya setelah Arsen melepaskan helm nya.


“Iya. Gue balik,” ucap Arsen yang setelahnya langsung melaju meninggalkan rumah besar berlantai tiga tersebut.


Queena berjalan ke arah meja makan, dan dapat ia lihat banyaknya makanan yang kini tersaji di atas sana.


“Wah banyak banget makanannya,” ucap Queena dengan senyumannya melihat banyaknya makanan yang tersaji. Dan semua makanan itu adalah makanan yang ia sukai.


“Sudah pulang Queen? Ganti baju dulu sana, terus kita makan. Mama udah masakin makanan kesukaan kamu,” ucap Dhisi yang baru kembali dari dapur sambil membawa cake yang ia buat sendiri.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun kini Queena segera berlalu dari sana. Dhisi yang melihat hal itu hanya menghembuskan nafasnya berusaha untuk lebih bersabar agar mendapatkan maaf dari gadis itu.


Memang setelah mendengar ucapan Arsen tadi ia merasa ingin segera memaafkan Dhisi, hanya saja untuk saat ini ia merasa belum siap.


“Kak Dewi,” panggil Queena saat melihat Dewi yang baru saja akan menaiki tangga ke kamar nya. Mendengar namanya dipanggil Queena segera berjalan ke arah Dewi yang kini menunggunya.


“Kita bicara sebentar, boleh?” tanya Queena meminta izin. Takut jika Dewi tidak ingin berbicara pada nya.


“Apa lagi yang mau lo omongin sama gue? Tentang Mama gue yang ngebunuh Nyokap lo? Lo mau gue minta maaf soal itu?” tanya Dewi dengan begitu sinisnya pada Queena yang kini menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Dewi. Padahal ia ingin berbicara baik-baik pada kakak nya itu namun Dewi malah mengatakan tentang nya seenak nya saja.


“Buat apa aku harus mengemis maaf? Kalau kakak sadar diri juga kakak sendiri yang minta maaf ke aku, gak perlu aku yang mengemis maaf karena aku bukan orang yang suka mengemis permintaan maaf, gak akan mengembalikan keadaan juga,” sinis Queena dengan begitu tajam nya yang terasa begitu menohok untuk Dewi yang kini terdiam mendengar ucapan Queena.


“Aku Cuma mau nanya ke kakak. Kakak terima atau engga dengan perjodohan ini. Kalau kakak gak mau di jodohin, aku akan bantu kakak ngomong sama Daddy,” ucap Queena menjelaskan dengan nada suara nya yang ia buat terlihat baik walau sebenarnya kini ia begitu kasar dengan ucapan kakaknya tadi.


“Gak perlu, gue gak mau ada hutang budi sama lo. Lagian buat apa lo bantuin gue? Gue Cuma anak dari perempuan yang dituduh bunuh nyokap lo, mau pamer lo kalau elo adalah anak yang di sayang bokap? Gue gak butuh Queena. Gue udah terbiasa jadi bayangan lo, gue udah terbiasa ada di belakang lo buat jadi pengganti lo. Semua yang baik buat lo dan yang buruk buat gue. Gue udah terbiasa, jadi lo gak perlu sok baik sama gue, gue muak liat tingkah lo yang sok polos dan naif itu,” marah Dewi pada Queena yang kini terdiam mendengar ucapan kakaknya itu.


“Maaf ya kak, kalau aku selalu jadi orang yang naif. Maaf udah buat kakak di paksa dewasa oleh keadaan. Kakak pikir aku mau seperti ini? Engga. Keadaan juga yang maksa aku bersikap seperti ini. Aku belum bisa untuk dewasa kak karena lingkungan aku di penuhi orang-orang yang selalu memanjakan aku. Mereka selalu memberikan aku segala hal. Kakak tahu kenapa? Karena sebuah rasa bersalah dan belas kasihan,” ucap Queena tajam. Ia tak pernah ingin hidup nya selalu di manja dan di atur ini dan itu. Namun keadaan yang membawanya sampai pada keadaan ini. Ia tak ingin hidup dengan belas kasihan keluarganya namun ia juga tak bisa memaksa mereka untuk itu.

__ADS_1


“Hentikan. Apa kalian sudah cukup berbicara?”


***


__ADS_2