
Sebuah danau kini dihias dengan begitu indahnya. Dengan banyak lampu dan juga hiasan yang begitu memanjakan mata. Queena kini terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna pink yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Dewi pun kini tak kalah cantik dari Queena. Gadis itu mengenakan gaun berwarna putih yang begitu lucu.
Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun Queena. Namun karena Carol menyembunyikan identitas Dewi. Jadilah malam ini juga menjadi malam perayaan ulang tahun Dewi. Padahal Ulang tahun Dewi sudah lewat beberapa bulan lalu.
Terkadang Dewi merasa begitu sedih dan miris dengan semua yang dialaminya. Ia hanya hidup sebagai bayang-bayang Queena. Entah sampai kapan ia akan terus seperti ini.
Queena kini tampak begitu menikmati pesta nya berbeda dengan Dewi yang kini memilih untuk menjauh dari kerumunan dan duduk di bawah sebuah pohon besar seorang diri.
“Sendirian aja lo,” ucap seorang laki-laki yang kini duduk di samping Dewi. Dewi menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan senyumannya.
“Berdua sih,” jawab Dewi yang kini membuat laki-laki di samping nya itu sedikit menjauh kan badannya sambil mengerutkan kening nya. Tawa Dewi terdengar saat melihat ekspresi laki-laki tersebut yang tak lain adalah Bagas. Bagas memang hadir dalam acara tersebut karena ia lah yang mengguncang nya. Ia ingin memberikan Bagas kesempatan mendekati Queena di hari ulang tahunnya ini.
“Kok horor ya,” ucap laki-laki tersebut yang kini malah semakin membuat Dewi terkekeh mendengarnya.
“Berdua, sama lo kan,” ucap Dewi yang membuat laki-laki tersebut kini malah ikut tertawa mendengarnya.
“Lo cantik kalau ketawa gitu gitu,” ucap Bagas dengan senyumannya sambil menata Dewi dengan begitu lembut. Dewi yang mendengar ucapan laki-laki di samping nya itu justru tertawa.
“Manis banget mulut lo. Udah sana, ngapain sih lo ke sini? Mending lo samperin Queena noh,” ucap Dewi mengusir laki-laki tersebut dengan senyumannya yang membuat Bagas segera menoleh ke arah Queena yang tampak nya kini sedang sendiri karena.
“Gue mau ngasih ini buat lo. Happy birthday Dewi,” ucap Bagas dengan senyuman tulus nya sambil memberikan sebuah kota berwarna biru pada Dewi. Dewi segera mengambilnya dengan senyumannya yang mengembang dengan begitu sempurna.
“Thank nya,” ucap Dewi pada Bagas yang dijawab dengan anggukan oleh Bagas.
__ADS_1
“Gue kesana dulu ya! Lo mending samperin Arsen, semangat!” ucap Bagas dengan senyumannya lalu segera pergi dari sana meninggalkan Dewi yang kini ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Bagas.
Namun akhirnya tetap saja ia segera berjalan ke arah Arsen yang kini berada di depan stadium sambil membenarkan mic juga gitar nya. Ini adalah kesempatannya untuk mendekati Arsen. Selagi Queena kini tengah bersama dengan Bagas.
Di tempat lain kini Queena sedang menatap datar pada Bagas yang berada di depannya. Entah bagaimana laki-laki tersebut bisa datang ke acara ulang tahunnya pada hal yang bisa masuk hanya lah orang yang memiliki undangan lo.
“Gimana lo bisa masuk?” tanya Queena untuk menjawab rasa penasarannya yang kini malah embuat Bagas tersenyum mendengar pertanyaan Queena.
“Kebetulan gue kenal Dewi dan dia yang ngasih tahu gue,” jawab Bagas yang kini membuat Queena membelalakkan matanya terkejut mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa kakaknya itu malah mengenal laki-laki seperti Bagas. Namun mengingat tentang Bagas yang akhir-akhir ini selalu mengetahui tentang jadwal nya ia jadi mengerti bagaimana bisa mereka saling kenal. Mengingat itu membuat Queena tersenyum dengan begitu sinisnya.
“Lo kan tamu nya Kak Dewi, mending lo samperin dia. Gak usah ganggu gue,” kesel Queena yang kini langsung melihat ke arah Dewi yang ternyata tengah mendekati tunangannya. Melihat itu Queena menggelengkan kepalanya. Dugaannya jika Dewi dan Bagas bekerja sama untuk menghancurkan hubungannya sepertinya memang benar karena jelas mereka melakukannya secara terang-terangan.
“Kalian kalau buat rencana tuh sembunyi-sembunyi lah, ini malah terang-terangan gini. Bukannya menjauh kan ini malh buat kita makin enek sama kalian,” ucap Queena yang setelah nya langsung pergi dari sana. Bagas yang melihat tingkah Queena hanya terkekeh. Queena memang begitu menarik, tak heran jika Arsen menyukainya.
“Hentikan Bagas, lo kenapa?” tanya Bagas pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak lagi berpikiran Aneh.
Queena kini berjalan ke arah Arsen dengan kekesalannya. Arsen yang tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri kini mengerutkan kening nya melihat gadisnya itu yang terlihat kesal. Arsen dengan segera menghampirinya sambil menggenggam tangan Queena dengan begitu lembut nya.
“Kenapa hm?” tanya Arsen sambil menatap Queena dengan begitu lembutnya. Queena menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya bercerita pada Arsen.
“Kamu tahu? Ternyata kak Dewi kenal sama Bagas,” ucap Queena dengan kekesalannya sambil menatap Arsen dengan tatapan seriusnya.
“Tau, tadi aku sempat lihat mereka duduk berdua,” jawab Arsen dengan begitu santainya yang membuat Queena menatap Arsen dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya ia menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
“Mereka terang-terangan banget ya, kan jadi gak seru,” ucap Queena dengan gerutunya yang kini malah membuat Arsen terkekeh mendengar ucapan Queena.
“Lah kan bagus, jadi kita gak perlu buat saling berantem cuma karena ributin mereka,” ucap Arsen pada Queena yang kini tampah berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Arsen yang memang ada benar nya. Namun menurut Queena malah jadi tidak seru karena ia tak bisa merasakan pertengkaran seperti di novel yang pernah di bacanya.
“Udah jangan cemberut lagi, sekarang kan kamu ulang tahun. Harus happy. Bentar lagi acara potong kue jadi mending kamu panggil Dewi dan ajak dia buat ke stadium bareng,” ucap Arsen pada tunangannya itu yang terlihat menganggukkan kepalanya.
Setelah nya ia memilih untuk menghampiri Dewi yang kini tengah berdiri di pinggir Danau seorang diri. Queena beberapa kati menghembuskan nafasnya dan berusaha meyakinkan dirinya untuk menghampiri Dewi.
“Kak,” panggil Queena pada Dewi saat kini ia sudah berada di samping Dewi. Melihat itu Dewi segera mengalihkan tatapannya ke arah Queena dengan mengerutkan kening nya.
“Ke sana yuk, bentar lagi acara nya di mulai,” ucap Queena pada Dewi yang kini menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun pada Queena.
Mereka berjalan bersama menuju ke arah stadium namun saat mereka berjalan bersama. Queena merasakan ada yang mendorong nya hingga ia terjatuh di danau. Dewi yang dengan segera mendorong Queena melihat ke sekitar, membiarkan Queena berada di dalam danau semakin lama.
Terlihat kini tangan gadis tersebut yang berusaha menggapai permukaan namun Dewi yang melihat nya hanya mengepalkan tangannya. Ia sebenarnya begitu tak tega dan ingin membantu namun ego nya menahannya. Namun setelahnya ia tak bisa lagi menahannya. Ia kini begitu khawatir dengan Queena.
“Queena,” teriak Dewi sambil berusaha menggapai tangan Queena.
Ia tahu Queena bukannya tak bisa berenang. Namun entah mengapa kini Queena malah tak mau berenang ke arah nya. Dewi yang niat nya hanya ingin membantu pakaian Queena basah kini malah begitu takut.
Arsen yang berada di kejauhan dan mendengar teriakan Dewi sontak melihat ke arah sumber suara. Hingga matanya membelalak saat melihat Queena yang kini berusaha menggapai tangan Dewi.
“Queena,” teriak Arsen yang kini sudah berlari ke arah Queena dan ikut menyeburkan dirinya untuk membantu Queena.
__ADS_1
***