
“Hentikan. Apa kalian sudah selesai berbicara?” suara yang terdengar begitu tegas dan penuh amarah itu membuat kedua gadis yang tengah bertengkar di tangga itu menoleh hingga kini mereka dapat melihat Dhisi yang tengah menangis. Juga Carol yang sudah menatap tajam ke arah kedua anaknya itu.
“Mengapa kalian menjadi saling membenci seperti ini?” tanya Dhisi dengan begitu lemah pada kedua anaknya itu yang kini malah saling bertengkar satu sama lain.
“Queen masuk ke kamar,” tegas Carol pada anaknya itu namun Queena malah tetap di tempatnya tanpa mau beranjak sedikitpun dari sana.
“Queena,” tegas Carol sekali lagi. Queena berdecak lalu segera naik menuju kamar nya berada. Tatapannya kini terlihat begitu tajam. Sangat berbeda dengan Queena yang biasanya terlihat selalu bersikap lembut.
“Papa gak mengharapkan ucapan itu keluar dari mulut kamu, Dewi,” ucap Carol dengan wajah datarnya pada Dewi yang kini hanya tersenyum sinis pada Carol tanpa menghiraukan Dhisi yang kini sudah menatap Dewi dengan tatapan sendunya seolah tak mengenali anaknya.
Atau karena sudah terlalu banyak kesedihan juga beban yang selama ini Dewi rasakan hingga kini gadis itu malah menunjukkan semua nya. Tanggul pun akan pecah jika terlalu banyak menampung air kan?
“Apa yang papa harapkan? Sebuah ucapan lembut dari aku?” tanya Dewi dengan begitu sinis pada ayahnya itu.
“Dewi,” tegur Dhisi pada anaknya sambil menggelengkan kepalanya., Berharap agar anaknya itu bisa untuk bersikap sopan pada ayahnya dan tidak melewati batas.
“Baiklah, sepertinya menjodohkan kamu adalah keputusan yang tepat. Pertemuan akan diadakan besok. Jadi bersiaplah,” ucap Carol tegas lalu segera pergi dari sana. Dewi yang mendengar ucapan ayahnya itu kini sudah terduduk lemas sedangkan Dhisi yang tak kalah terkejut nya kini segera mengejar suaminya itu.
“Mas kamu gak bisa melakukan ini. Kamu tahu sendiri gimana pernikahan kita? Kamu ingin anak kita seperti aku?” tany Dhisi sambil menarik tangan Carol menghentikan suaminya itu untuk pergi.
“Dia tak akan menjadi sepertimu karena sebelumnya aku sudah bertanya tentang laki-laki itu. Dia tak memiliki kekasih dan dia juga setuju untuk dijodohkan dengan anak dari dari keluarga ini,” tegas Carol yang setelahnya langsung melepaskan tangan Dhisi yang kini membeku mendengar ucapan Carol.
__ADS_1
“Aku tidak seegois ayahmu yang tetap memaksa hanya demi harta,” tegas Carol yang terdengar begitu menusuk bagi Dhisi.
“Aku benci Mama. Harusnya aku bukan terlahir dengan cara yang salah Ma. Aku hanya anak di luar nikah yang bahkan tidak diharapkan oleh ayah nya sendiri. Bahkan sebelum aku lahir aku sudah menghancurkan seseorang. Dan sekarang lihat lah aku yang menjadi korban dari tindakan egois mama,” ucap Dewi dengan begitu marah nya pada Dhisi. Dhisi kini semakin terdiam begitu merasa bersalah. Hati dan jiwanya kini seolah ditusuk dari berbagai arah. Dan ia begitu membenci ini.
Carol kini memilih berjalan menuju kamar nya berada. Dibukanya pintu berwarna hitam yang menjulang begitu tinggi itu. Saat ia membuka pintu kamar nya itu wangi khas perempuan menusuk indra penciumannya.
Wangi lavender dengan perpaduan kayu manis yang begitu menenangkan. Wangi yang paling disukai oleh Erlinda. Untuk pewangi kamar nya Carol memang memilih wangi yang sama dengan parfum yang biasa wanita itu gunakan.
Carol memejamkan matanya hingga tatapannya kini begitu fokus pada dinding kamar nya yang memperlihatkan sebuah foto pernikahan yang terlihat begitu bahagia. Foto pernikahannya dengan Erlinda. Begitu banyak foto yang terpajang di dinding itu. Foto nya bersama dengan Erlinda semenjak mereka kecil hingga saat Erlinda meminta foto untuk eternity kehamilannya.
“I miss you wife,” ucap Carol dengan tatapan lemah nya pada foto tersebut.
“Ada apa sayang?” tanya Carol pada Queena yang kini menghembuskan nafasnya lalu segera masuk begitu saja ke kamar Carol. Ia begitu suka saat masuk ke kamar tersebut karena aroma nya begitu menenangkan dan di sana juga banyak foto-foto ibu yang terlihat begitu cantik.
“Daddy apa bisa batalin perjodohan kak Dewi?” fanya Queena dengan tatapan memohonnya pada ayahnya itu.
Meskipun ia begitu terluka dengan ucapan Dewi tadi namun tetap saja ia ingin menepati ucapannya pad Dhisi untuk membantu Dewi berbicara pada ayahnya.
“Tidak, keputusan daddy sudah bulan. Jadi Daddy gak mau lagi buat bahas ini,” tegas Carol yang membuat Queena menghembuskan nafasnya kasar.
Jika sudah seperti ini ayahnya itu akan sulit di bujuk. Sepertinya ia akan membujuknya perlahan. Dan membiarkan kakaknya itu melihat calon nya lebih dulu. Jika memang tidak baik atau kakaknya tak menyukainya maka Queena akan kembali membantunya.
__ADS_1
“Ingin melihat foto yang selama ini Daddy simpan sendiri?” tanya Carol pada anaknya itu yang kini tengah melihat foto-foto ibunya. Mendengar pertanyaan Carol, Queen segera menoleh ke arah ayahnya out sambil menaikkan sebelah alisnya.
Carol merangkul pundak Queena lalu menggiring Queena pada ruang baca yang ada di kamar nya. Setelahnya Carol menarik salah satu buku yang berada di sana. Hingga lemari buku itu bergerak dan terbuka. Terlihat dengan jelas sebuah foto besar yang disana memperlihat kan seorang ibu yang memejamkan matanya tengah memeluk anaknya yang baru lahir dengan suaminya yang juga memejamkan matanya memeluk anak dan istrinya itu sambil mencium kening istrinya.
“Ini foto terakhir yang Daddy ambil bersama Mommy kamu, dan itu adalah kamu,” ucap Carol yang membuat Queena terkejut mendengar ucapan ayahnya itu.
Queena semakin mendekat menatap tak percaya pada foto tersebut. Jantung nya kini bahkan berpacu dengan tidak menentu.
“Pelukan terakhir Mommy mu adalah kamu, Queen,” ucap Carol dengan air matanya yang kini juga tanpa sadar menetes. Foto tersebut selama ini selalu ia sembunyikan dan selalu ia pandangi saat ia merasa tengah lelah.
“Aku pernah di peluk Mommy?” tanya Queena tak percaya pada ayahnya itu yang kini menjawabnya dengan anggukan.
“Ya, bahkan saat memelukmu. Mommy mu menangis. Namun dia tak mau membuka matanya,” ucap Carol yang kini menundukkan kepalanya. Melihat hal itu Queena segera berjalan ke arah ayahnya lalu masuk ke dalam pelukan ayah nya itu.
“Ayah jahat nyembunyiin foto ini dari Queena,” ucap Queena dengan tangis nya yang membuat Carol terkekeh sambil mengelus puncak kepala anaknya itu sayang.
“Maaf kan Daddy,” ucap Carol yang kini semakin mengeratkan pelukannya itu pada anaknya.
Foto yang selama ini ia simpan untuk ia sendiri kini ia ingin berbagi untuk anaknya. Sebuah kenangan yang hanya bisa untuk ia abadikan tanpa bisa ia ulang kembali.
***
__ADS_1