
Tatapan Queena kini begitu tajam, menatap laki-laki di depannya. Saat ia ia tengah berada di dalam sebuah mobil, bersama dengan laki-laki yang belakangan ini menjadi alasannya untuk menangis.
“Mau lo apa sih? Gue udah bilang buat lo jauhin gue, jangan pernah muncul lagi di hadapan gue. Tuli lo?” tanya Queena dengan kekesalannya. Ini untuk pertama kalinya laki-laki tersebut mendapatkan sebuah umpatan dan kata-kata yang sekasar ini dari Queena.
Queena yang biasa nya selalu berbicara dengan lembut pada nya kini malah begitu kasar pada nya. Hatinya jelas terluka mendengar nya, namun ia tahu semua ini juga karena kesalahannya.
“Maaf, tapi aku gak bisa liat kamu terlalu deket sama cowok lain, Queen,” ucapnya dengan nada suara nya yang terdengar begitu frustasi.
Tawa Qieena malah terdengar begitu keras mendengar ucapan laki-laki di depannya yang tak lain adalah Arsen. Sebuah tawa yang sebenar nya hanya untuk menutupi sebuah luka dan sakit hati. Queena harus berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di depan laki-laki itu.
“Lo siapa gue? Lo cuma mantan gue. Lo cuma orang yang udah selingkuhin gue dan buang gue seenak lo,” marah Queena dengan tatapannya yang begitu tajam pada Arsen yang kini hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan Queena.
“Aku salah Queen, aku salah karena lebih milih dia karena nyatanya orang yang aku sayang itu kamu. Aku hanya terlena sesaat karena kedatangannya, tapi ternyata saat aku bersama dia semua terasa hambar Queen,” ucap Arsen dengan tatapan serius nya pada Queena. Arsen kini menggapai tangan Queena, menggenggam gadis tersebut namun Queena dengan segera menghempaskan tangan Arsen dengan kasar.
“Itu urusan lo, gak peduli dengan itu. Lo yang udah buang gue,” teriak Queena dengan amarah nya. Rahang nya kini bahkan sudah mengeras. Tatapannya kini begitu tajam, untuk untuk kali ini ia tak bisa menutupi kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan dalam tatapannya itu.
“Aku salah Queen, aku salah. Tolong maafin aku Queen, kasih aku satu kesempatan lagi. Bahkan jika memang harus berjuang dari awal lagi untuk mendapatkan kamu, aku tetep akan ngelakuin aku. Aku sayang sama kamu Queen,” ucap Arsen dengan tanpa sadar kini air mata nya sudah mengalir membasahi wajah tampan laki-laki tersebut.
“Kesempatan? Gue rasa udah gak perlu. Hati gue udah lo hancurin terlalu parah, sampai gue pun yakin lo sendiri gak akan bisa untuk memperbaiki itu,” marah Queena dengan begitu tegas nya. Tangannya kini mengepal berusaha menahan dirinya agar tidak kembali lulus pada Arsen.
__ADS_1
Apa lagi jika saat ini ia melihat Arsen yang tengah menangis, membuat nya merasa begitu kasihan pada Arsen. Namun mengingat apa yang laki-laki itu lakukan pada nya membuat nya begitu marah. Luka nya masih begitu dalam dan belum sembuh.
Suara ketukan di jendela mobil membuat mereka menoleh ke arah jendela dan mendapati laki-laki dengan jas formal nya kini berdiri di samping mobil .
“Keluar,” ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Adnan.
Melihat kedatangan Adnan membuat Arsen memejamkan matanya walau ia tak bisa menutupi rahang nya yang begitu tegas menampilkan kemarahannya melihat laki-laki yang digosipkan tengah dekat dengan Queena.
“Buka,” perintah Queena dengan begitu tegasnya. Kini tak ada yang bisa Arsen lakukan selain membuka pintu nya. Ia tak bisa membantah Adnan karena tahu jika Adnan adalah orang kepercayaan ayah Queena.
Melihat keberadaan Adnan di sini ia bisa menebak jika Carol kini juga berada di ana. Tak ingin mencari masalah dengan Carol ia hanya bisa membuka kunci mobil.
Setelah nya Queena segera keluar. Dan pergi meninggalkan Arsen. Gadis tersebut kini bahkan di rangkul oleh Adnan untuk pergi dari sana membuat Arsen semakin mengepalkan tangannya lalu memukul stir mobilnya.
***
Tatapan Queena kini terus mengarah pada hamparan bintang yang kini terlihat begitu indah. Tatapannya begitu sendu dengan pikirannya yang entah sudah melayang ke mana. Keadaannya kini begitu kacau, apalagi saat ia melihat Arsen yang tadi menangis untuk nya.
Ia pernah mendengar jika laki-laki bisa menangis untuk perempuannya itu membuktikan jika ia memang tulus untuk perempuan itu. Namun saat Queena memikirkan kembali tentang pengkhianatan yang Arsen lakukan pada nya membuat Queena bingung.
__ADS_1
“Masih mikirin Arsen?” tanya sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul dan kini sudah duduk di samping Queena. Queena menoleh ke arah sumber suara dan melihat kakaknya dengan helaan nafas kasar nya.
“Tadi kakak udah ketuk pintu tapi kamu malah gak denger,” jelas Dewi ada Queena karena tak ingin jika adik nya itu berpikir yang macam-macam tentangnya karena masuk ke kamar Queena tanpa permisi.
Queena yang mendengar nya kini hanya menganggukkan kepalanya lalu tatapannya kini kembali pada bintang-bintang di depannya yang kali ini bersinar begitu cerah nya.
“Kalau emang masih sayang ya udah ambil lagi. Kakak tau pasti masih sulit untuk kamu maafin Arsen lagi, tapi dengan kalian seperti ini kalian cuma lagi saling ngelukain satu sama lain. Kesalahan Arsen memang sulit untuk di maaf kan, tapi kakak tau saat itu dia cuma terlena sesaat,” ucap Dewi berusaha untuk memberikan wejangan pada adik nya itu. Queena menghela nafasnya kasar lalu memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri yang saat ini juga begitu hancur.
“Kesalahan Arsen benar-benar sulit untuk Queena maafin kak,” ucap Queena dengan tatapan sendunya. Dewi yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya karena Arsen memang sudah keterlaluan pada adiknya itu.
“Kakak tau. Dia memang salah. Dan saat ini kalian butuh waktu untuk saling menenangkan diri. Setelah lebih tenang pikirkan lagi semua nya dengan baik. Arsen itu sayang banget sama kamu,” ucap Dewi sambil mengelus punggung Queena berusaha untuk meyakinkan adiknya itu.
Setelah nya Dewi memilih untuk pergi dari kamar adik nya itu memberikan waktu untuk Queena agar ia bisa untuk memikirkan semua nya dengan baik.
Queena menghembuskan nafas nya kasar. Kini semua kejadian malah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Pengkhianatan Arsen, ucapan Arsen, juga ucapan Dewi. Semua seolah menyerang pikiran Queena saat ini.
Hatinya meminta kembali namun logikanya bahkan masih berperang sendiri. Antara kembali atau memilih mengakhiri.
“Argh Arsen lo bener-bener bikin ribet,” ucap Queena dengan kekesalannya. Tak ingin terus hanya larut dalam pikirannya sendiri Queena memutuskan untuk segera kembali ke kamar nya untuk beristirahat. Untuk saat ini memang lebih baik jika ia beristirahat saja.
__ADS_1
***