Renjana

Renjana
Berbicara Dengan Luka


__ADS_3

  Tatapan Queena kini terlihat ragu. Sekali lagi ia menatap pintu bercat putih di depannya dengan tatapan bingungnya. Haruskan ia benar-benar masuk seperti janjinya pada Arsen atau malah ia pergi saja dari sana dan mengingkari janjinya pada Arsen.


“Nggak Queen, lo gak boleh mundur. Lo udah janji sama Arsen. Seenggak nya Cuma bilang kalo dia jahat terus pergi aja udah cukup. Yang penting lo udah ngomong sama dia,” ucap Queena yang kini bermonolog di depan pintu kamar Dhisi.


Queena menghembuskan nafasnya kasar berusaha untuk memantapkan hati dan menyiapkan mental nya untuk berbicara dengan wanita yang sudah membesarkannya itu, sekaligus wanita yang menjadi alasan ia kehilangan ibunya.


Queena memang sudah berjanji pada Arsen untuk berbicara dengan Dhisi juga Dewi dengan imbalan Arsen akan mengajaknya untuk jalan-jalan. Dan Arsen benar-benar melakukannya meskipun laki-laki itu hanya melakukan apa yang ia mau saja.


Tapi kini sudah giliran Queena untuk menepati ucapannya. Arsen tidak memaksa Queena untuk segera melakukannya. Bahkan Arsen mengatakan jika Queena sudah sipa baru lakukan. Dan kini Queena sudah berdiri di depan kamar Dhisi, ia tangah memantapkan hatinya.


Setelah berperang dengan pikirannya sendiri akhirnya kini Queena mengetuk pintu kamar tersebut. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuknya menunggu. Seorang wanita kini berdiri di depannya dengan wajah nya yang nampak begitu terkejut saat melihat kedatangan Queena.


“Queena, ada apa nak?” tanya Dhisi dengan tatapan bingung nya melihat kedatangan Queena ke kamar nya.


“Mama bilang mau ngomong sama Queena, apa yang mau diomongin?” tanya Queen yang merasa gengsi jika mengatakan jika ia yang ingin berbicara pada wanita tersebut.


Mendengar ucapan Queena, Dhisi tersenyum, dengan lembut. Ia begitu senang karena kini Queena mau berbicara dengannya. Setelah semua yang telah gadis itu dengar. Queena benar-benar menghindarinya dan kini Queena kembali mau berbicara dengannya.

__ADS_1


“Kita masuk aja ya. kita ngobrol di dalam,” ucap Dhisi sambil mengajak Queena untuk segera masuk ke kamar nya.


Ya. Hanya kamar Dhisi saja, karena semenjak menikah dengan Carol ia memang ada di kamar nya sendiri dan tidak pernah tidur dengan Carol. Carol selalu memberikan batasan untuk nya. Carol terlalu mencintai Erlinda hingga ia tak ingin ada wanita lain yang menyentuhnya.


Saat memasuki kamar tersebut, wangi khas Dhisi langsung masuk ke indra penciuman Queena. Tatapannya begitu datar melihat sebuah foto pernikahan yang terlihat begitu ironis. Seorang laki-;laki yang berwajah datar dengan tatapan tajam dan wanita yang menyembangkan senyumnya dengan begitu sempurna.


Entah mengapa kini malah hati Queena yang terasa sakit saat melihat foto pernikahan sederhana tersebut. Bahkan Queena yakin jika itu adalah satu-satu nya foto pernikahan yang ada.


“Queena, sebelumnya Mama mau minta maaf sama kamu. Kamu mungkin berpikir jika mama adalah orang yang jahat,” ucap Dhisi dengan tatapannya yang kini begitu lurus menatapo Queena. Tangannya hendak menggenggam tangan Queena namun gadis tersebut segera menghempaskan tangannya tak ingin jika Dhisi memegang nya.


Hati Dhisi begitu sakit melihat nya. Queena tak pernah bersikap sekasar ini. Dan ia tahu pasti kekecewaan dan kemarahan gadis itu sudah begitu besar hingga ia melakukan ini.Kemarahan gadis itu pasti begitu besar untuknya. Dan sakit rasanya saat melihat anak yang sudah ia rawat dari kecil dengan penuh kasih sayang kin membencinya.


Queena yang melihat nya hanya diam saja. Ia tak tegas sebenarnya melihat itu, namun ia juga tak bisa untuk memaafkannya dengan begitu mudah. Setelah aa yang dilakukan oleh wanita itu pada ibunya dulu.


“Sudah kan? Queena pergi. Mama tenang aja, Queena bakalan bantu Dewi buat bicara sama Daddy untuk batalin perjodohan ini, biar gak ada lagi Mommy dan Daddy kedua,” ucap Queena yang setelahnya langsung pergi dari sana dengan ucapannya yang begitu menohok. Seolah Dewi bisa saja jadi seperti ibunya itu jika ia sudah menyukai laki-laki yang akan di jodohkan dengan nya.


Setelah keluar dari kamar Dhisi, Queena segera berlalu menuju kamarnya. Sebenarnya ia ingin untuk langsung menuju kamar Dewi namun hatinya kini masih tak sanggung. Ia masih tak kuat dan tak bisa melakukan itu.

__ADS_1


Jadi ia ingin menenangkan dirinya lebih dulu, baru ia akan berbicara dengan Dewi. Bukankah semua membutuhkan proses.


Setelah sampai di kamar nya Queena langsung merebahkan tubuhnya di kasur nya dan menenggelamkan wajahnya di sana untuk menahan isak tangisnya. Melihat Dhisi yang menangis ia begitu tak tega karena bagaimana pun dulu nya wanita itu lah yang merawatnya dan menjaganya serta menyayanginya dari kecil.


Namun disisi lain. Jika saja Dhisi tak hadir dan menjadi orang ketiga dalam hubungan ibu juga ayahnya maka ayahnya akan menjadi orang yang hangat, ibunya akan tetap bersama nya dan menyayangi serta menjaganya dengan baik, ia akan memiliki seorang adik yang bisa diajak bermain saat kecil. Bisa Queena tebak hidupnya akan jauh lebih membahagiakan dengan keberadaan ibunya.


“Mommy, apa yang harus Queena lakukan?” tanya Queena dengan hembusan nafas kasarnya. Kini ia menegakkan tubuhnya lalu segera menghapus air matanya. Kini rasanya ia benar-benar bingung dengan pikirannya sendiri. Antara memaafkan ataupun malah membiarkan.


Queena kini segera turun dari ranjangnya dan tujuannya saat ini adalah ruangan kerja ayahnya. Karena saat malam seperti ini ayahnya akan berada di ruang kerjanya. Dengan langkah lemahnya Queena segera berjalan ke ruangan Carol.


Tanpa mengetuk pintu Queena segera masuk ke ruangan Carol. Terlihat Carol yang kini begitu fokus dengan pekerjaan di depannya.


“Daddy,” panggil Queena dengan lembut yang membuat Carol kini menaikkan sebelah alisnya menoleh ke arah anaknya itu dengan tatapan bingung nya.


“Peluk Queena, boleh gak?” tanya Queena dengan tatapan sendunya pada ayahnya itu. Kini Queena sudah merentangkan tangannya. Carol yang melihat nya segera berjalan ke arah Queena lalu segera memeluk anaknya itu walau ia tak tahu apa yang baru saja Queena alami.


“Queena sayang Daddy dan Mommy,” ucap Queena yang kini semakin mengeratkan pelukannya pada sang yang membuat Carol juga mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengecup puncak kepala Queena.

__ADS_1


Kini Carol mengerti pasti semua ini ada hubungannya tentang fakta orang tuanya yang baru saja Queena ketahui. Namun Carol tak ingin membahasnya karena tak ingin membuat Queena semakin sedih jadi ia memilih untuk tetap memeluk anaknya itu tanpa mengatakan apapun. Hanya memberikan kenyaman juga ketenangan untuk anaknya itu.


***


__ADS_2