Renjana

Renjana
Perduli


__ADS_3

Setelah hujan yang mengguyur malam tadi, kini langit bersinar dengan begitu cerahnya. Tak hanya langit yang kini bersinar dengan begitu cerah, namun senyuman Queena kini juga bersinar begitu cerah dan lebar nya.


“Apa sih Queena dari tadi senyum-senyum mulu?” tanya Calya yang kini tersenyum bingung ke arah Queena yang sedari sampai di sekolah terus memancarkan senyuman nya. Seolah ia tak lelah dengan ekspresi tersebut.


“Nih liat,” ucap Queena sambil memamerkan jaket yang dibawanya yang tak lain adalah Jaket milik Arsen. Kedua sahabat Queena yang sudah mengenal dengan jelas jaket tersebut sontak memelototkan matanya.


“Wah, punya kak Arsen?” tanya Calya memastikan yang membuat Queena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.


Kedua sahabat Queena kini sama-sama terkejut nya namun mereka senang karena Arsen yang mulai peduli pada sahabat mereka. Perjuangan sahabat mereka selama ini seolah membuah kan hasil.Meskipun semua masih terasa abu-abu namun mereka selalu berharap yang terbaik untuk sahabatnya itu.


“Kemarin kita pulang bareng, yah karena hujan jadi dia pinjemin ini buat gue,” ucap Queena menjelaskan yang membuat sahabatnya kini tersenyum menggoda ke arah Queena.


“Ciee yang pulang bareng, cepet oficial deh,” ucap Kina dengan senyuman menggodanya yang membuat Queena kini menengadahkan tangannya.


“Aamiin,” ucap Queena dengan senyumannya. Tentu itu hal itu yang begitu diharapkan oleh Queena.


Tak lama suara bel yang berbunyi dengan nyaring. Membuat para murid kelas Queena yang kini pelajaran olahraga segera keluar dari kelas untuk menuju lapangan.


“Jaket nya gak mau sekalian di kembalikan Queena?” tanya Calya yang melihat Queena yang kini malah meletakkan kembali jaket milik Arsen ke dalam tas nya.


“Engga, nanti aja tunggu bau nya ke Arsen ilang dulu,” ucap Queena dengan cengirannya yang membuat kedua sahabatnya itu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Queena.


“Mending kembaliin aja, mumpung kak Arsen sekarang juga kelas olahraga kan? Sekalian pamer dong,” ucap Kina memanasi. Queena terdiam sejenak sebelum sebuah senyuman mengembang di wajah gadis itu dan akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Queena setelahnya langsung berjalan ke arah meja nya dan mengambil jaket milik Arsen yang sudah ia letakkan di tote bag. Sebenarnya ia sudah mencuci jaket tersebut namun rasanya masih malas untuk mengembalikannya.


“Ayo,” ajak Queena kepada kedua sahabatnya itu dan setelahnya mereka segera menuju ke arah lapangan untuk pelajaran olahraga.


Saat sampai di lapangan terlihat kini kelas X, XI, juga kelas XII yang mendapatkan jam olahraga kali ini tengah berkumpul dalam satu lapangan untuk melakukan doa juga pemanasan. Queena langsung menuju barisannya dan meletakkan tote bag yang dibawanya di pinggir lapangan.


Queena memulai pemanasan dengan tidak fokus. Tatapannya terus saja terarah pada Arsen yang kini juga melakukan pemanasan di barisan kelas nya. Setelah selesai melakukan pemanasan Queena langsung mengambil totebag nya dan berjalan ke arah Arsen untuk memberikan jaket laki-laki itu.


“Jaket kakak, sudah dicuci bersih,” ucap Queena dengan senyumannya pada Arsen yang segera mengambil jaket tersebut lalu menganggukkan kepalanya.


Namun kini Queena masih saja berada di tempatnya tanpa niat ingin pindah, melihat hal tersebut Arsen menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya ‘Apa?’


“Gak ada ucapan terima kasih?” tanya Queena dengan begitu polosnya pada Arsen yang kini memutar bola matanya mendengar ucapan Queena. Kedua sahabat Arsen yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Makasih,” ucap Arsen singkat karena tidak ingin untuk memperpanjang keadaan. Mendengar ucapan tersebut Queena tersenyum dengan begitu lebar nya.


“Queena, udah kan?” tanya guru yang mengajar di kelas Queena dengan lembutnya. Mendengar hal tersebut Queena langsung menoleh ke arah sumber suara lalu menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia langsung kembali pada barisan kelasnya.


“Baik kita lanjut. Untuk pembelajaran kali ini basket ya,” ucap pak Aji, guru yang mengajar olah raga untuk kelas XI.


“Kita bagi kelompok dulu. Buat yang perempuan main pertama,” tegas Pak Aji yang langsung membuat para murid begitu heboh mencari teman untuk tim basket mereka.


“Buat yang udah dapet tim silahkan maju untuk mengambil nomor undi,” perintah pak Aji yang langsung di turuti oleh para murid yang langsung maju untuk mengambil nomor urut pertandingan mereka.

__ADS_1


Dan pertandingan pertama kali ini adalah time Queena melawan tim Dewi. Pertandingan antar adik kakak pemilik sekolah yang membuat banyak murid heboh untuk melihatnya.


Queena kini sudah bersiap di tengah lapangan begitupun Dewi yang kali ini menjadi ketua masing-masing tim mereka. Queena kini terlihat berbeda dari biasanya. Tak lagi lagi wajah nya yang terlihat begitu manja yang ada kini hanya wajah serius nya yang malah membuatnya terlihat begitu cantik.


Hingga saat peluit berbunyi, wasit mulai melambungkan bola nya dan Queena dengan cekatan melempar bula nya ke arah sahabat nya. Kina yang sudah berjaga segera mengambilnya lalu melakukan dribble pada bola tersebut.


“Oper Kin,” ucap Calya pada sahabatnya itu yang langsung melihat ke sekitar. Hingga di lihatnya Queena yang berada di dekat nya dan dekat dengan gawang lawan. Melihat hal itu Queena sudah bersiap dengan wajah seriusnya.


Hingga bola dilemparkan padanya, Queena dengan segera mengambilnya dengan mudah. Tatapannya yang kini berubah begitu tajam menatap lawannya dengan tatapan tajamnya itu. Lalu mulai mendrible bole dan menghindari lawan di depannya yang akan mengambil bola.


Kini mereka sudah banyak yang menonton. Ekspresi Queena yang begitu berbeda dari biasanya banyak yang akhirnya tertarik pada Queena jika sedang serius seperti ini.


Queena memutar tubuhnya lalu segera melambungkan bola untuk melakukan shooting ke ring lawan. Dan berhasil. Gadis itu berhasil mencetak skor pertama untuk tim nya. Suara sorakan terdengar begitu hebohnya.


Wajah serius Queena bahkan langsung berubah menjadi senyuman cerahnya saat ia membentuk lingkaran dengan teman temannya untuk berpelukan.


Dewi di pinggiran lapangan kini terlihat serius memegang bola nya untuk ia lambungkan dan berikan pada temannya. Sedangkan Queena kini berjalan dengan santai untuk menuju posisinya. Namun karena Dewi yang salah mengambil lemparan, bola tersebut malah mendarat ke arah yang salah dan mengenai kepala Queena dengan begitu keras nya.


“Queena,” suara teriakan yang begitu kencang dari banyak murid terdengar bersamaan saat bola tersebut mengenai kepala Queena.


Queena masih terdiam di tempat nya. Hingga cairan kental berwarna merah keluar dari hidung nya. Dan tak lama Queena malah pingsan.


***

__ADS_1


__ADS_2