Renjana

Renjana
Rindu


__ADS_3

Queena kini berlari keluar dari rumah nya. Para pelayan beberapa memanggilnya namun Queen seolah tuli. Ia terus berlari tanpa memikirkan panggilan tersebut. Hatinya kini begitu hancur dan terluka setelah mengetahui segala fakta tersebut.


Kekecewaan, kemarahan, dan rasa sayang. Semua seolah bersatu untuk melawan Queena. Menciptakan perasaan bersalah juga terluka nya. Ibu yang selama ini sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri dan yang sudah merawat nya dan menjaga nya, ternyata adalah dalang dari pembunuhan ibu kandungnya.


Itulah yang kini Queena rasakan dan ia percaya untuk saat ini. Pikiranya kini begitu kacau. Dengan langkah lelah nya kini gadis tersebut terus berlari. Lalu memberhentikan taksi yang lewat.  Tujuannya kini adalah tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah. Hingga tak lama ia sampai di sebuah pemakaman. Ya, kini


Queena ingin mengunjungi makam ibunya untuk memberitahu semua yang ia rasakan.  Dengan langkah lelah nya kini Queena berjalan mencari makan ibu nya. Hingga ia sampai di depan sebuah batu nisan bertuliskan Elinda


Hasyim. Queena langsung meluruhkan tubuhnya di sana. Menangis sejadi-jadi nya di atas makam ibunya itu.


Perasaannya kini terasa begitu hancur. Ingin sekali ia menceritakan semuanya pada ibunya itu. Wanita yang tak pernah ia temui sekalipunbtapi begitu ia cintai. Wanita yang pasti begitu mencintainya. Sebesar cinta ayahnya pada nya.


“Mom, Mommy baik kan pasti di sana? Sekarang Queena dateng sendiri Mom. Gak sama Daddy, Queena lagi marah sama Daddy,” adu Queena pada ibunya itu. Menjelaskan perasaannya pada sang ibu. Walaupun ia tahu jika ibunya itu pasti tak akan bisa untuk membalas ucapannya.


“Queena kesel sama Daddy yang nyembunyiin banyak hal dari Queena,” ucap Queena yang kembali bercerita pada ibunya itu tentang apa yang ayahnya lakukan padanya.


“Bahkan Daddy nyembunyiin kenapa Queena bisa kehilangan Mommy. Mom, Queena kangen. Queena pengen ketemu Mommy, dipeluk Mommy dan dijagain Mama. Queena pengen Mommy disini sama Queena, harusnya perempuan itu yang pergi Mommy, bukan Mommy,” ucap Queena dengan tangis nya yang kini terasa memilikukan.


Queena tak bisa lagi menahan semuanya. Ia begitu merindukan ibunya. Ia ingin ibunya berada di dekat nya. Ia ingin ibunya itu menemaninya. Selama ini Dhisi selalu berusaha untuk menjadi ibu sambung yang baik untuk Queena dan sedikit mengurangi rasa rindu Queena pada ibunya.

__ADS_1


Namun setelah apa yang ia ketahui hari ini ia benar-benar tak bisa untuk tidak kecewa. Rasa rindu dan ingin bertemu dengan ibu kandung nya semakin menyesakkan bagi Queena.


Tangis gadis tersebut akhirnya pecah, menangis dan meraung di atas pusaran terakhir ibu nya. Dulu ayahnya hanya mengatakan jika ibu nya meninggal karena melahirkan Queena. Ibunya terlalu mencintainya hingga rela bertarung nyawa untuknya. Saat Queena merasa begitu bersalah pada ibunya dan sering kali berkata harusnya ia saja yang tak pernah hadir di dunia itu.


Ayah nya selalu mengatakan jika semua bukan karena Queena. Queena di hadirkan kedua ini untuk menemani ayah nya. Itulah yang selalu Carol katakan. Kehadiran Queena adalah berkah dan tanda cinta dari Carol juga Erlinda hingga akhirnya Queena tak pernah lagi menyesali kehadirannya.


“Mom. Mengapa wanita itu begitu jahat? Selama ini Queena mencintainya dan menyayanginya dengan tulus. Karena Queena pikir dia adalah orang yang baik. Dia adalah orang yang menjaga dan menyayangi Queena seperti anaknya sendiri. Tapi ternyata Queena salah Mom. Dia adalah orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan Mommy,” ucap Queena dengan air matanya yang terus mengalir dengan deras.


Bersamaan dengan itu, air hujan seolah menjadi pendukung. Langit yang awalnya cerah kini malah langsung berubah gelap dan menurunkan hujan nya dengan deras. Namun tak ada tanda-tanda jika gadis yang kini menangis sambil memeluk batu nisan ibunya itu akan beranjak dari sana. Ia malah semakin menangis sejadi-jadi nya di sana.


“Maaf karena telah menyayangi orang yang menghancurkan kebahagiaanmu mom. Maaf karena telah menganggap orang yang menjadi dalang dari kematian mu sebagai ibu yang baik Mom,” tangis Queena lagi. Menghiraukan hujan yang kini turun dengan begitu deras nya.


***


Carol memasuki rumah nya dengan langkah lelah nya. Setelah pertengkarannya tadi ia merasa begitu lelah. Namun baru saja ia membuka balkon kamar nya. Suara ketukan pintu dari arah luar membuat Carol menoleh hingga ia segera berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu kamar nya.


“Tuan. Nona tadi berlari keluar rumah seorang diri. Sepertinya Nona mendengar pertengkaran Anda,” ucap pelayan wanita tua yang sudah bekerja di kediaman Carol begitu lama. Saat ia masih baru menikah dengan Elinda.


Mendengar ucapan pelayan tersebut, raut wajah khawatir Carol terlihat begitu jelas. Hingga dengan langkah lebar nya. Carol buru-buru untuk turun dari kamar nya.

__ADS_1


Wajah laki-laki itu terlihat begitu menakutkan saat ini. Siapapun pasti tak akan berani untuk melihat nya.  Dhisi yang baru saja kembali dari kamar Dewi bahkan mengerutkan keningnya saat melihat Carol yang berjalan dengan tergesa-gesa dengan pelayan yang mengikutinya di belakang.


“Bi Mirna,” panggil Dhisi pada pelayan yang mengikuti Carol. Mendengar panggilan itu Mirna menoleh ke arah sumber suara lalu segera menghampiri Dhisi dengan wajah khawatirnya.


“Apa yang terjadi Bi?” tanya Dhisi dengan wajah yang ikut khawatir.


“Nona Queena mendengar pertengkaran kalian, sekarang dia pergi entah kemana,” ucap Mirna dengan tegas pada Dhisi yang kini sontak langsung memegangi pagar tangga yang dilaluinya.


Mirna sebelumnya memang tak pernah menyukai Dhisi apa lagi ia begitu tahu bagaimana dulu Tuan nya dengan Erlinda. Dan bagaimana tiba-tiba Dhisi datang dan menghancurkan kebahagian itu. Namun Mirna selalu menghormati majikannya itu. Apa lagi Dhisi juga cukup baik walaupun ia adalah dalang dari kesengsaraan di rumah itu.


Dhisi kini begitu takut. Ia takut jika Queena akan membencinya. Ia sudah menganggap Queena sebagai anaknya sendiri. Penyesalannya pada gadis itu begitu besar, rasa bersalah nya pada Queena begitu menyiksanya. Dan kini gadis itu malah sudah mengetahui semuanya.


“Nyonya maaf, saya pergi dulu,” ucap Mirna yang setelah nya langsung pergi meninggalkan  Dhisi yang kini sudah begitu lemas mendengar semua fakta ini. Bahkan kini Dewi tidak mau untuk berbicara dengannya.


Ia benar-benar menyesali apa yang ia lakukan di masa lalu. Kesalahan nya di masa lalu hanya membawa kehancuran untuk nya di masa sekarang. Benar kata pepatah. Apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai.


Di sisi lain kini Carol kini merasa begitu frustasi mencari keberadaan anaknya di sepanjang ******. Ia jua mencari Queena ke rumah teman temannya namun tak ada satupun yang tahu keberadaan Queena.


***

__ADS_1


__ADS_2