
Queena melangkahkan kakinya dengan ringan sambil bersenandung senang. Koridor kini tampak ramai, mengingat jam istirahat yang baru saja dimulai. Queena kini melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Arsen.
Di sepanjang jalan banyak yang menyapa Queena, yang di balas dengan senyuman atau sapaan balik dari gadis itu. Saat sampai di depan kelas Arsen, Queena menyumbulkan kepalanya untuk mencari Arsen. Terlihat di lantai belakang, Arsen bersama kedua sahabatnya terlihat begitu fokus dengan game yang tengah dimainkan.
“Kak Arsen,” teriak Queena menyapa Arsen sambil berjalan ke arah laki-laki tersebut. Arsen juga kedua sahabatnya yang mendengar spaan Queena langsung menoleh ke asal suara. Hingga mereka dapat melihat Queena yang kinui menghampiri mereka dengan senyuman cerah nya.
“Ngapain ke sini?” tanya Arsen sambil melihat ke arah Queena, hanya sekilas setelahnya ia kembali fokus dengan game nya tanpa menghiraukan keberadaan Queena.
“Nih, Queena bawa kue buat kakak,” ucap Queena sambil menyodorkan tote bag yang berisi kue yang ia bawa.
“Dimakan, awas ada dibuang. Queena bawainm sekalian sama toko-toko nya,” ancam Queena dengan tatapan tajamnya yang justru terlihat menggemaskan bagi ketiga pria yang kini dibuat melongo melihat ekspresi Queena.
“Emang tokonya bisa dibawa kemana-mana Queena?” tanya Panca dengan tatapan polosnya pada Queena yang kini tampak berpikir.
“Koki nya aja deh,” ucap Queena yang membuat Arsen dan kedua sahabat Arsen hanya bisa melongo sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arsen.
“Balik sana,” usir Arsen pada Queena. Queen berdecih mendengar usiran Arsen lalu segera meletakkan makanan yang dibawanya di samping Arsen. Setelahnya ia segera pergi dari kelas Arsen dengan kekesalannya.
“Weh, enak nih kayaknya,” ucap Panca yang kini sudah meletakkan ponselnya dan beralih mengambil kue yang Queena bawakan. Namun baru saja ia menyentuhnya. Arsen sudah memukul tangannya.
“Punya gue,” ketus Arsen yang setelahnya segera pergi dari sana dengan kue yang di bawakan Queena untuk nya.
“Ck dasar pelit,” ucap Edsel sambil menggelengkan kepalanya sedangkan Panca kini masih melongo tak percaya dengan apa yang Arsen lakukan. Padahal sebelumnya laki-laki itu bahkan tak pernah peduli dengan apapun yang dibawakan oleh gadis -gadis yang menyukainya.
Namun sekarang ia malah bersikap begitu pelit. Panca yang melihatnya jadi penasaran sebenarnya apa yang tengah Arsen rasakan saat ini.
“Ada something nih,” ucap Panca sambil menyipitkan matanya. Edsel yang menyadarinya semenjak camping, memilih untuk diam dan hanya terkekeh. Memilih untuk fokus dengan game yang tengah ia mainkan.
__ADS_1
***
Seharian ini rasanya begitu melelahkan bagi Dewi. Kegiatan di sekolah nya sudah begitu banyak. Kini ia hanya berharap agar tak orang rumah yang membuatnya sakit hati ataupun merasa iri di rumah ini. Ia hanya berharap semua berjalan baik-baik saja.
Suara ketukan pintu membuat Dewi melihat ke arah pintu dengan malas. Namun tak urung pada akhirnya Dewi berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu orang di luar sana. Yang bisa Dewi tebak adalah ibunya.
Memangnya siapa yang ia harapkan? Jelas tak mungkin ayahnya yang datang. Bahkan mereka jaag untuk berkomunikasi. Terkadang Dewi ingin seperti adiknya yang begitu dekat dengan ayahnya. Namun entah Dewi atau ayah nya mereka sama-sama menarik garis tak kasat mata.
“Mama?!” sapa Dewi saat sudah membuka pintu kamar nya dan mendapati ibunya yang kini tersenyum ke arah anaknya itu.
“Papa nunggu kamu di bawah, ada yang mau dibicarakan,” ucap Dhisi dengan senyumannya walau di balik senyuman itu ada perasaan tak menentu yang kini ia rsakan.
Dewi yang mendengar ucapan ibunya jika sang ayah mencarinya, sontak menaikkan sebelah alisnya. Karena tak biasanya ayahnya itu ingin berbicara dengannya. Dewi rasanya sudah merasakan alarm bahayanya berbunyi.
“Mau apa Ma?” tanya Dewi dengan bingung. Dhisi mengelus lengan anaknya sambil tersenyum dengan menenangkan.
“Mending samperin dulu yuk,” ajak Dhisi yang akhirnya hanya dijawab dengan anggukan oleh Dewi. Setelah menutup pintu kamarnya lagi Dewi segera berjalan ke arah lantai bawah bersama dengan ibunya.
“Jangan pulang terlalu malam. Jika hujan, telpon Daddy. Daddy akan menjemputmu,” ucap Carol dengan begitu perhatiannya. Dewi yang mendengarnya berusaha untuk tidak memperdulikannya walau bagaimanapun a masih bisa mendengarnya dan mustahil namanya jika tak ia masukkan ke dalam hati dan mempedulikannya. Namun sebisa mungkin ia melakukannya agar hatinya tak sakit sendiri mendengar semua itu.
“Daddy juga mencintaimu,” ucap Carol yang setelahnya langsung menutup telponnya. Terdengar helaan nafas kasar dari laki-laki itu.
Dhisi menoleh ke arah anaknya yang kini hanya menatap ayahnya itu dengan tatapan datar nya. Wanita itu mengelus tangan anaknya berusaha untuk memberikan kekuatan pada putrinya itu.
“Mas,” panggil Dhisi pada Carol yang kini mengalihkan tatapannya pada dua perempuan di depannya itu.
Carol yang awalnya begitu fokus dengan iPad nya langsung meletakkan iPad nya itu dan memusatkan perhatiannya pada apa yang akan aia bahas.
__ADS_1
“Duduklah,” ucap Carol memerintah sambil menunjuk sofa yang kosong dengan dagunya.
Tatapan laki-laki itu kini terlihat begitu fokus. Tangannya bersedekap dada kini membuat aura nya semakin memancar dengan sempurna seolah menunjukkan posisinya.
“Ada yang ingin papa bahas dengan kamu,” ucap Carol dengan tatapan seriusnya pada Dewi yang kini menaikkan sebelah alisnya sambil mengerutkan keningnya bingung. Karena jelas ini bukan seperti ayahnya yang akan membahas apapun dengannya.
“Apa yang ingin papa ingin aku lakukan?” tanya Dewi yang seolah sudah bisa menebak jika Carol hanya ingin memanfaatkannya saja untuk melakukan sesuatu. Entah untuk menjaga Queena ataupun mengalah dari gadis itu.
“Papa ingin kamu menikah dengan anak rekan bisnis Papa,” ucap Carol langsung tanpa basa-basi. Dewi dan Dhisi masih terdiam mencerna ucapan ayah nya itu yang mengatakannya dengan begitu mudah seolah apa yang ia katakan bukanlah apa-apa.
“Kamu bercanda?” tanya Dhisi dengan tatapan terkejut nya pada Carol. Ia tak menyangka jika Carol akan mengatakan hal tersebut.
“Apa aku terlihat bercanda?” tanya Carol sinis. Dhisi tahu pertanyaannya begitu konyol karena memang Carol yang tidak pernah bercanda dengannya ataupun Dewi. Namun pertanyaan laki-laki itu terasa lebih konyol bagi Dhisi.
“Papa gak bisa lakuin ini sama aku Pa,” ucap Dewi dengan penentangannya. Carol menaikkan sebelah alisnya menatap Dewi dengan bingung.
“Apa yang tidak bisa papa lakukan?” tanya Carol yang terdengar begitu angkuh.
Tanpa terasa kini air mata Dewi sudah mengalir membasahi wajah gadis tersebut mendengar pernyataan dari ayahnya. Mereka tak pernah dekat atau mengobrol bersama namun kini ayah nya itu justru meminta nya untuk di jodohkan dengan anak rekan bisnisnya untuk kepentingan bisnisnya sendiri.
“Papa keterlaluan sama aku Pa. Papa bahkan gak pernah buat ngasih aku kasih sayang tapi sekarang papa malah manfaatin aku untuk bisnis Papa,” ucap Dewi dengan amarahnya.
Mata Carol kini sudah menggelap mendengar ucapan Dewi yang begitu menohok untuknya.
“Jaga ucapan kamu Dewi,” marah Dhisi pada anaknya itu. Ia tak ingin semakin memperburuk hubungan ayah dan anak itu.
“Benar kan Ma. Selama ini yang ada di hati dan pikiran Papa hanya Queena dan ibunya yang sudah meninggal itu,” marah Dewi hingga tanpa sadar kini sudah membuat tangan Carol terangkat dan melayang di pipi Dewi.
__ADS_1
Dhisi yang melihat hal itu memelototkan matanya. Begitupun dengan orang yang berada di balik pintu. Yang kini menganga melihat adegan di depannya itu.
***