Renjana

Renjana
Arsen dan Basket


__ADS_3

Tiga hari tidak melihat Arsen rasanya sudah begitu lama bagi Queena. Upacara kali ini Queena berada di barisan paling depan, padahal sebelumnya ia sangat tak ingin untuk berada di bagian paling depan karena terlalu panas.


Namun karena hari ini Arsen yang menjadi petugas upacara membuat Queena kini berdiri di barisan paling depan untuk melihat pujaan hatinya itu.


“Queena, gak panas lo sana?” tanya Calya yang kini berada di bagian belakang, sedikit berteriak pada Queena agar sahabatnya itu bisa mendengarnya. Upacara belum juga dimulai jadi mereka masih bisa untuk berbincang.


“Aman lah, asal ada penyemangat,” ucap Queena dengan kekehannya yang membuat sahabatnya hanya tersenyum sambil menggeleng. Queena kini berada begitu jauh dari kedua sahabatnya yang memilih berada di bagian belakang tepat di bawah pepohonan.


“Lama gak liat Queena makin cantik aja nih, tumben mau di depan cantik?” tanya Edsel yang kali ini kebetulan lewat untuk memeriksa barisan dan merapikan barisan para murid.


“Iya dong, kak Arsen yang jadi Pemimpinnya, ya kali gue di belakang,” ucap Queena dengan cengirannya yang kini membuat Edsel tertawa mendengar jawaban Queena yang begitu jujur.


“Jangan pingsan ya Queen,” ucap Edsel yang kini sontak membuat Queena memutar bola matanya malas mendengar ucapan Edsel yang begitu meremehkannya.


“Ngeremehin doang Kak Edsel bisanya, pergi sana,” usir Queena karena sudah terlalu kesal pada sahabat laki-laki yang dicintainya itu.


Edsel yang sudah di dorong untuk pergi oleh Queena hanya tertawa mendengarnya lalu memilih pergi dari sana dan menuju ke arah Arsen yang kini ternyata terus menatap ke arahnya dengan tatapan tajamnya.


“Gak gue apa-apain Sen. Gue bully doang,” ucap Edsel dengan tawanya yang membuat Arsen kini semakin menatap tajam ke arah nya.


“Becanda doang elah,” ucap Edsel yang membuat wajah Arsen kini hanya menatapnya dengan datar.


Edsel yang sudah bersahabat dengan Arsen begitu lama bahkan belum pernah melihat wajah laki-laki itu berganti ekspresi. Seolah Arsen tak memiliki ekspresi lain dari wajah datarnya itu. Bahkan saat sahabatnya atau teman mereka membuat candaan Arsen kadang hanya tersenyum begitu tipis hingga orang lain mungkin tak akan melihat senyuman itu.


Hingga tak lama upacara akhirnya dimulai dan berjalan dengan khidmat. Walau terkadang masih saja ada yang berbincang sendiri namun osis yang mengawasi langsung menegurnya. Hingga upacara berjalan dengan baik.


***

__ADS_1


Seluruh sekolah kini tengah dibuat heboh dengan berita jika di lapangan kini Arsen tengah bermain basket bersama dengan teman-temannya. Queena yang awalnya tengah menyalin catatan yang belum ia catatan malah langsung meninggalkan catatannya begitu saja.


Tujuan gadis itu kini jelas adalah lapangan. Namun sebelum ke lapangan Queena menyempatkan diri untuk ke kantin dan membeli minuman untuk Arsen. Tak ingin hanya membelikan Arsen namun gadis itu juga membelikan kedua sahabat Arsen yang biasanya selalu baik padanya.


Queena kini berjalan seorang diri karena kedua sahabatnya masih di kelas, namun sepertinya kedua sahabatnya itu saat ini sudah  berada di lapangan. Dan benar saja saat sampai di lapangan basket ternyata disana sudah ada kedua sahabatnya yang duduk di tribun bagian depan.


“Queen, sini,” teriak Kina saat melihat keberadaan Queena. Melihat hal itu Queena tersenyum dan segera berjalan ke arah sahabatnya itu yang sudah menyisakan tempat untuk nya.


“Udah tadi dimulai?” tanya Queena saat melihat pertandingan yang sudah di mulai saat ia sampai.


“Baru aja,” ucap Calya yang membuat Queena mengangguk lalu setelahnya ia mulai fokus dengan pertandingan di depannya.


Arsen kini terlihat begitu keren saat laki-laki itu mulai mendrible bola yang dibawanya. Dengan kaos basket nya kini laki-laki itu terlihat semakin tampan.


“Kak Arsen semangat,” teriak Queena yang memang tak ada malu nya saat ia memberikan semangat pada Arsen. Tak ada yang berani berkomentar atau bersorak karena mereka jelas tak mau ambil resiko dengan menghina anak kesayangan dari pemilik sekolah.


“Sorry, terlalu semangat gue. Udah lama gak liat Kak Arsen main basket,” ucap Queena dengan cengirannya.


Memang semenjak laki-laki itu naik ke kelas XII sangat jarang bisa melihat Arsen yang bermain basket. Bahkan terakhir laki-laki itu ikut lomba adalah satu bulan yang lalu. Setelahnya Queena sudah tak pernah lagi melihat Arsen bermain basket.


Tak lama suara sorakan membuat Queena juga ikut bersorak saat Arsen berhasil memasukkan bola dengan begitu mudah nya.


“Mereka mau tandi? Kok tumben banget main basket lagi,” tanya Queena pada kedua sahabatnya yang kini sontak menoleh ke arah Queena dan menganggukkan kepalanya.


“Pertandingan persahabatan doang. Lagian Kak Arsen sama temen-temennya udah kelas dua belas. Gak mungkin lah mereka ada lomba. Palingan pertandingan perpisahan,” ucap Calya menjelaskan yang membuat Queena kini terlihat mengerucutkan bibirnya membuat kedua sahabatnya itu menaikan sebelah alisnya bingung melihat reaksi Queena.


“Kenapa Queen?” tanya Kini bingung.

__ADS_1


“Berarti setelah ini kita gak bisa liat kak Arsen main lagi dong,” ucap Queena yang kini mulai cemberut karena mengingat sebentar lagi Arsen sudah bukan lagi murid SMA.


“Lo ikut aja kak Arsen kuliah di mana,” saran Calya yang membuat senyuman Queena kini mengembang mengingat hal tersebut.


Terlalu larut dalam pembicaran hingga mereka tak menyadari jika pertandingan sudah selesai. Karena mereka hanya memanfaatkan waktu istirahat untuk berlatih.


“Ngobrol mulu sih,” kesal Queena pada kedua sahabatnya yang kini malah melongo karena di salah kan oleh Queena.


Queena kini sudah turun dari tribun dan berjalan ke arah Arsen yang kini tengah beristirahat bersama sahabat nya. Laki-laki itu kini terlihat tengah menyeka keringatnya yang membuat Queena tersenyum melihatnya.


“Buat Kak Arsen,” ucap Queena sambil menyodorkan minuman yang sudah ia beli. Arsen hanya melihatnya saja tanpa niat untuk mengambilnya.


“Buat gue aja Queen. Arsen gak haus,” ucap Edsel yang setelahnya langsung mengambil minuman yang Queena sodorkan.


Namun tiba-tiba saja Arsen malah merampasnya begitu begitu saja.  Queena juga kedua sahabat laki-laki itu kini berhasil dibuat melongo melihat Arsen yang menghabiskan minuman yang Queena sodorkan dalam sekali tegak.


“Nih kak, Queena beli buat kalian,” ucap Queena dengan senyumannya dan menyodorkan minuman tersebut namun kini lagi-lagi Arsen malah mengambilnya dan meminumnya hingga tandas.


Terlalu terkejut melihat tingkah Arsen bahkan Panca yang masih memegang minumannya tak juga meminumnya hingga akhirnya minumannya juga kini beralih pada Arsen.


“Udah kan? Pergi sana, kalian beli minum sendiri,” tegas Arsen yang setelahnya langsung pergi dari sana.


“Kak Arsen kenapa?” tanya Queena bingung.


“Lagi haus aja kali,” ucap Panca dengan seringainya yang setelahnya juga langsung pergi dari sana bersama dengan Edsel. Meninggalkan Queena dengan kebingungannya.


***

__ADS_1


__ADS_2