Renjana

Renjana
Akan Kah Menjadi Luka


__ADS_3

Dewi berjalan dengan santainya memasuki rumah besar yang dulu menjadi rumah nya. Ia begitu merindukan rumah tersebut, meskipun dulu ia begitu jauh dengan ayahnya namun ia lebih menyukai keluarganya yang lengkap seperti dulu. Melihat keluarganya saat ini terkadang membuat nya sedih. Namun kini tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menerima nya.


“Assalamualaikum Pa,” salam Dewi saat melihat ayahnya yang baru saja menuruni tangga. Melihat anaknya itu Carol tersenyum, Dewi segera menyalami tangan ayah nya itu. Hubungan mereka kini memang sudah membaik dan Dewi bersyukur akan hal itu.


“Queena mana Pa?” tanya Dewi pada ayahnya saat tak melihat keberadaan Queena yang biasanya selalu mengikuti ayahnya mereka.


“Ada di kamar nya. Tumben banget dia gak keluar dari sarang nya, coba deh liatin. Ajak main gitu, ngurung diri mulu dia,” ucap Carol pada anaknya itu yang membuat Dewi kini menatap ayahnya itu dengan tatapan tak percayanya. Baru kali ini Carol meminta nya untuk membawa Queena bermain dengannya, sebelumnya Carol begitu membatasi interaksi mereka dan begitu posesif pada Queena.


“Malam minggu gini, tumben gak sama kak Arsen?” tanya Dewi sambil menaikkan sebelah alisnya yang dijawab dengan gidikan bahu oleh Carol.


“Liatin deh sana, Papa mau menghangatkan makan malam dulu,” ucap Carol yang dibalas dengan anggukan oleh Dewi.


Dewi segera berjalan ke arah kamar Queena, mengetuk pintu kamar adiknya itu. Setelah mendengar jawaban dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk barulah Dewi masuk ke kamar adiknya yang lebih luas dari kamar nya itu.


Queena kini tengah berada di balkon kamar nya sambil menikmati pemandangan bintang yang tapak begitu indah. Pikiran Queena kini terus melayang pada kejadian beberapa hari lalu saat Arsen tiba-tiba saja datang ke kelas nya dan memeluknya. Semenjak itu, Queena merasa jika Arsen mulai berubah. Ada yang berbeda dengan laki-laki tersebut.


Bahkan kini Arsen jarang memberinya kabar. Arsen kini hanya datang ke rumahnya untuk mengajari Queena, setelah nya ia akan langsung pergi. Queena terus saja bertanya-tanya ada apa dengan laki-laki tersebut sebenarnya.


“Ngelamun aja,” ucap Dewi sambil duduk di samping adiknya itu dengan menakkan sebelah alisnya, Queena yang mendengar ucapan Dewi menghembuskan nafasnya kasar lalu segera menghadap ke arah kakaknya itu untuk menceritakan apa yang kini terjadi padanya.


***

__ADS_1


Suara deru motor yang begitu memekak kan telinga kini terdengar begitu keras. Seorang laki-laki dengan motor hitam nya kini sudah siap untuk berlomba balap motor dengan laki-laki di samping nya yang kini menggunakan motor berwarna merah.


“Tuh cewek emang cuma bawa dampak buruk buat Arsen. Karena Queena dia perlahan mulai meninggalkan dunia begini, sekarang malah balik lagi,” ucap Edsel yang kini berada di pinggiran jalanan bersama dengan teman Arsen yang lainnya. Menatap pada gadis yang kini berada tak jauh darinya dengan tatapan sinisnya.


“Arsen juga, udah tau tuh cewek bakalan datang masih aja mau di dateng ke tempat begini,” ucap Panca yang kali ini menimpali ucapan sahabat nya itu yang menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Edsel. Melihat Arsen yang seperti ini sejujurnya mereka begitu kesal. Mereka malah merasa kasihan pada Queena.


Kembali pada Arsen yang kini sudah mulai melajukan kecepatan motornya dengan kecepatan tinggi, seolah melampiaskan amarahnya lewat balapan tersebut. Ingatannya kini kembali pada Meylan namun juga pada Queena. Rasanya kini ia berada di tengah-tengah kedua wanita tersebut dengan perasaannya sendiri yang masih tak menentu.


Hingga tak butuh waktu lama untuk Arsen memenangkan balapan tersebut. Semua temannya menghampiri Arsen memberikan selamat untuk Arsen.


“Arsen selamat ya, kamu emang gak pernah berubah selalu menjadi raja jalanan,” ucap Meylen dengan senyumannya pada Arsen yang kini hanya menatapnya dengan tatapan datar nya.


“Kemarin-kemarin mah udah insaf, pawang nya kan gak begajulan,” ucap Edsel yang kini terdengar begitu menohok untuk Meylen yang langsung menoleh ke arah Edsel dengan tatapan tak suka nya.


“Gue balik,” ucap Arsen tanpa mengatakan apapun pada teman-temannya itu.


Melihat Arsen akan pergi, Meylen segerab menahannya membuat Arsen kini menatap gadis tersebut dengan begitu datar nya.


“Kita bicara sebentar ya, aku rasa kita butuh untuk bicara,” ucap Meylen pada Arsen entah untuk yang keberapa kalinya. Meylen selalu saja mengajak Arsen untuk berbicara namun Arsen selalu saya menolaknya. Namun kali ini Arsen rasa ia memang harus berbicara pada Meylen dan meyakinkan perasaannya jika yang kini dicintainya adalah Queena.


“Naik,” ucap Arsen pada Meylen dengan begitu singkat. Sahabat Arsen yang melihat itu membelalakkan matanya berbeda dengan Meylen yang kini justru tersenyum dengan begitu lebar karena akhirnya Arsen mau untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


Selama di perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan, mereka kini saling terdiam selama di perjalanan. Tak ada yang memulai pembicaraan, Arsen hanya fokus dengan jalanan di depannya. Hingga ia sampai di sebuah cafe. Arsen segera menghentikan laju motornya.


Mereka saling beriringan berjalan memasuki cafe, setelah memesan makanan mereka. Arsen dan Meylen mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian.


“Apa yang mau lo bicarain? Gue gak punya waktu banyak,” ucap Arsen dengan tatapan datar nya menatap gadis di depannya itu yang kini menghembuskan nafasnya kasar.


“Kamu tahu alasan aku pergi dari kamu? Semua karena aku di jodohin Ar, aku gak bisa untuk nolak itu karena ancaman dari kedua orang tua aku. Aku gak bisa apa-apa selain nerima pertunangan itu, tapi aku selama ini gak diem aja Ar. Aku cari cara untuk mengakhiri pertunangan itu demi kamu Ar, tapi sekarang apa yang aku dapet? Kamu udah tunangan sama perempuan lain,” ucap Meylen dengan senyuman sinis nya sambil menatap Arsen dengan ttapan sendunya.


Arsen yang mendengar ucapan gadis tersebut kini terdiam sambil menatap Meylen dengan tatapan tidak percayanya. Arsen dan Meylen memang pernah menjalin hubungan, lucu memang karena mereka menjalin hubungan sejak kelas 1 sekolah menengah pertama hingga kelas 1 sekolah menengah atas sampai akhirnya Meylen harus pergi karena ia dijodohkan dengan laki-laki lain.


Arsen saat itu begitu terluka saat mengetahui jika Meylen pergi begitu saja darinya dan ia malah melihat foto pertunangan Meylen dengan laki-laki lain. Apalagi Meylen terlihat begitu bahagia di foto tersebut. Saat melihat semua itu Arsen begitu hancur. Arsen yang memang begitu Anti dengan perempuan semenjak kejadian Meylen yang mengkhianatinya semakin menjauh dari makhluk yang namanya perempuan. Hingga Queena datang dan menyembuhkan semuanya.


Namun saat kini Meylen kembali mengapa perasaannya kembali menjadi tak menentu seperti ini? Apa lagi setelah mendengar alasan Meylen meninggalkannya kini malah membuatnya semakin goyah dan bingung dengan perasaannya sendiri.


“Lo udah putus dari tunangan lo?” tanya Arsen dengan tatapan tak percaya nya pada Meylen yang kini menganggukkan kepalanya.


“Iya, aku udah putus dan semua aku lakuin demi kamu. Jadi Arsen, apa kamu juga bisa putusin tunangan kamu demi aku?” tanya Meylen dengan tatapan penuh harap nya pada Arsen yang kini tampak hanya terdiam dengan tatapan datar nya.


“Sorry, tapi pertunangan gue sama Queena atas dasar cinta bukan paksaan,” ucap Arsen dengan begitu tegas nya pada Meylen yang kini tersenyum dengan begitu sinis pada Arsen.


“Arsen aku….” belum sempat Meylen melanjutkan ucapannya, Arsen lebih dulu memotong ucapan gadis itu.

__ADS_1


“Udah malem, gue capek. Mending sekarang lo balik, gue duluan,” ucap Arsen yang setelah nya segera pergi dari sana setelah mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. Kini ia merasa begitu kacau. Ia merasa butuh untuk menenangkan dirinya.


***


__ADS_2