Renjana

Renjana
Larangan Bertemu


__ADS_3

Sebuah motor sport besar berwarna hitam dengan sedikit biru kini melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang terlihat sesak. Namun motor itu dengan lihai menyelip di antara para pengendara lain. Ia sama sekali tidak menghiraukan suara klakson dari pengendara lain yang dibunyikan untuknya.


Ia tahu tindakannya ini begitu berbahaya, namun keadaan hatinya kini begitu kacau. Dan menurutnya jalanan adalah tempat terbaik untuk melampiaskan nya. Tujuannya kali ini bukanlah rumahnya. Melainkan rumah seorang gadis yang seharian ini selalu mengisi kepalanya.


Hingga kini laki-laki tersebut akhirnya sampai di sebuah rumah besar berlantai tiga yang terlihat begitu mewah dan megah yang berada di salah satu kompleks perumahan terbaik di kota mereka.


Laki-laki yang tak lain adalah Arsen tersebut langsung turun dari motor nya setelah ia sampai di depan rumah gadis yang ingin ia temu. Setelah membuka helm nya kini laki-laki itu berjalan dengan langkah tegas nya menuju ke arah pintu rumah tersebut.


Beberapa kali Arsen memencet bel rumah tersebut hingga akhirnya seorang wanita paruh baya kini berada di depannya setelah pintu dibuka.


“Nak Arsen?” tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut, tersenyum ramah pada Arsen. Arsen ikut tersenyum sambil menyalami tangannya.


“Arsen, mau ketemu sama Queena tante,” ucap Arsen secara langsung agar ibu dari Dewi itu tak menyalah artikan kedatangan Arsen. Membuat wanita itu salah paham tak akan bagus untuk kedepannya mengingat kini pun keadaan masih begitu kacau.


“Tapi Queena nya lagi gak di rumah. Dia lagi sakit dan minta di rawat di rumah oma nya,” ucap Dhisi dengan tatapan sendu sekaligus bersalah pada Arsen.


Bisa Arsen lihat tatapan lain di sana. Arsen bisa melihat tatapan Khawatir Dhisi pada Queena. Arsen tahu pasti ada kekacauan besar di rumah mereka hingga Queena memutuskan untuk dirawat di rumah neneknya saja.


“Ok deh tante, Arsen ke sana dulu,” ucap Arsen tanpa bertanya lagi di rumah neneknya yang mana Queena di rawat. Karena memilih Dhisi yang berada di rumah nya dan tak ikut menemani Queena itu berarti Queena di rawat di rumah ibu dari Alm. Erlinda.

__ADS_1


“Emang kamu tahu dia dimana?” tanya Dhisi yang tampan kebingungan sekaligus terkejut melihat Arsen yang pergi begitu saja setelah menyalami tangannya. Arsen menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dhisi dengan senyuman dan anggukannya.


“Di rumah Mama, Alm. tante Erlinda kan?” tanya Arsen pada Dhisi yang sontak membuat Dhisi terkejut saat mendengar ucapan Arsen yang ternyata amengetahui tentang Erlinda.


Dari sini saja Dhisi tahu sedekat apa hubungan Queena dan Arsen. Bahkan Arsen juga mengetahui dimana rumah ibu Erlinda. Hal itu semakin membuat Dhisi yakin dengan hubungan Queena dan Arsen.


Kini yang pergi ia lakukan hanyalah mencegah Dewi untuk melakukan hal buruk. Ia tak ingin Dewi bernasib sepertinya yang hidup dengan laki-laki yang tak mencintainya. Mereka memang memiliki raganya namun hatinya, tidak.


Memiliki raga seseorang bahkan belum selesai dengan masa lalunya dan hidup dengan bayang-bayang masa lalunya. Hanya akan ada luka dan kesengsaraan.


Dhisi kini hanya diam membeku. Melihat kepergian Arsen yang bahkan sudah meninggalkan rumahnya.


Hingga akhirnya ia sampai di rumah berlantai tiga dengan cat berwarna krem. Rumah yang pernah ia tuju saat mengantar Queena. Arsen segera turun dari motornya dan berjalan ke arah pintu. Namun baru saja ia akan memencet bel. Suara mobil yang memasuki pekarangan rumah tersebut membuat nya menoleh dan melihat sebuah mobil hitam kini terparkir tak jauh dari motornya.


laki-laki paruh baya yang begitu Arsen kenali kini keluar dari mobilnya dan menatap Arsen datar, sama seperti Arsen yang kini juga menatap laki-laki paruh baya itu dengan datar. Sepertinya yang sering Queena katakan itu benar jika ayah nya dan Arsen itu sama-sama memiliki wajah yang datar.


“Ngapain kamu kesini?” pertanyaan itu langsung menyambut Arsen saat laki-laki paruh baya itu menghampirinya. Arsen yang hendak menyalami tangan laki-laki yang tak lain adalah Carol itu bahkan mengurungkannya dan kembali berdiri di posisinya.


“Saya hanya ingin bertemu dengan Queena Om,” ucap Arsen menyampaikan maksud kedatangannya.

__ADS_1


“Tidak sekarang. Lebih baik kamu sekarang pulang. Queena sedang sakit. Saya tidak ingin dia semakin sakit saat melihat kamu berada di sini,” ucap Carol dengan nada yang dibuat setegar mungkin. Demi kebaikan anaknya ia ingin tegas. Ia tak ingin lagi kecolongan dan membuat anaknya itu kembali terluka.


“Saya mohon om, sebentar saja,” ucap Arsen yang kini kembali memohon pada Carol namun lagi-lagi Carol menjawabnya dengan gelangan.


“Tidak, sampai perjodohan ini selesai ditentukan,” ucap Carol dengan ketegasannya yang membuat Arsen kini menghela nafasnya. Tidak. Ia tidak bisa menunggu selama itu. Ia benar-benar ingin untuk segera bertemu dengan Queena.


“Tapi itu begitu lama om. Saya hanya ingin berbicara dengan Queena om,” ucap Arsen dengan tatapan memohonnya pada Carol. Carol menghembuskan nafasnya. Ia pernah ada di posisi ini. Dan tentu rasanya begitu menyakitkan dan begitu sulit untuk ia lewati.


Dilarang bertemu dengan gadis yang ia cintai. Ia tak bisa melakukannya. Bahkan sata itu ia sampai dekat memanjat rumah Erlinda menuju kamar gadis itu hanya untuk bertemu dengannya.


Melihat Arsen seolah melihat dia dulu. Hingga kini perasaannya malah lulus pada laki-laki muda di depannya itu. Carol menghembuskan nafasnya.


“Tunggu sampai Queena sembuh. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu,” ucap Carol tegas. Ia tak ingin mertua atau adik ipar nya yang kini juga berada di rumah melihat kedatangan Arsen. Ia tak ingin mereka mengetahui tentang masalah keluarganya yang kini terjadi.


Bahkan Queena pun tak mengatakan pada mereka karena ia tahu ayahnya pasti akan disalahkan. Arsen sendiri kini hanya bisa menghela nafasnya kasa mendengar ucapan Carol. Namun setidaknya itu lebih baik daripada ia harus menunggu sampai masalah perjodohan ini selesai.


“Saya mau minta maaf sama om karena tak bisa mempertegas pada papa saya tentang siapa gadis yang saya inginkan. Mungkin jika saya bisa memberitahu ayah saya dengan jelas semua tak akan menjadi seperti ini. Sekali lagi sama ingin meminta maaf pada Anda,” ucap Arsen dengan permintaan maafnya yang tulus.


Arse menundukkan kepalanya lalu menyalami tangan Carol. Setelahnya ia segera pergi dari sana meninggalkan Carol yang masih saja menatap kepergian Arsen. Ia menghela nafasnya. Bisa ia lihat Arsen adalah orang yang mencintai anaknya dengan tulus. Ia hanya berharap jika kisah nya tak lagi terulang pada anaknya. Ia tak igi jika anaknya itu merasakan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


***


__ADS_2