
Seorang laki-laki paruh baya kini terlihat begitu keren dengan setelan jas yang membalut tubuh indah laki-laki itu ditambah dengan rambutnya yang ditata begitu rapih. Aura karismatik memancar dari laki-laki itu membuat banyak kaum hawa yang terpanah pada laki-laki yang padahal sudah tak lagi muda itu.
Berbeda dengan itu kini kedua anak laki-laki itu malah memandang nya dengan pandangan yang berbeda. Laki-laki yang tak lain adalah Carol itu kini tengah menunggu kepulangan anaknya dari camping.
“Pake dateng segala lagi Daddy,” dengus Queena saat melihat ayah nya yang kini sudah menunggunya.
Bus camping mereka baru saja memasuki area sekolah tapi ayahnya sudah begitu sigap menjemputnya. Padahal sebelumnya ia sudah memiliki rencana untuk menipu Arsen agar ia bisa pulang bersama laki-laki itu. Namun ayahnya malah dengan begitu perhatiannya kini sudah datang untuk menjemput anaknya.
“Sabar Queen,” ucap Calya dengan tawanya sambil mengelus lengan Queena yang membuat Queena kini menghela nafasnya kasar lalu segera keluar dari bus. Arsen yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya hingga dari belakangnya ia dapat mendengar pembicaraan empat gadis.
“Papa lo jemput tuh,” ucap Megan salah satu teman Dewi sambil menunjuk ke arah laki-laki paruh baya yang kini sudah menunggu di samping bus.
“Palingan juga jemput Queena,” jawan Dewi dengan senyuman sinisnya lalu akhirnya ia juga ikut keluar dari bus.
Mendengar pernyataan itu Arsen menaikkan sebelah alisnya seolah mengetahui jika ada yang tak beres, namun akhirnya ia memilih untuk tidak memperdulikannya dan segera keluar dari bus.
Saat Queena baru saja turun dari bus. Ayah nya langsung menyambut gadis itu memeluk anaknya selayaknya anaknya itu masih putri kecilnya.
“Barang kamu di mana?” tanya Carol pada anaknya itu yang langsung menunjuk ke arah bagasi.
Carol segera berjalan ke arah bagasi bersama dengan Queena yang kini mengekor di belakang ayahnya itu.
“Dad punya kak Dewi sekalian,” ucap Queena sambil menunjuk barang milik Dewi.
Tanpa mengatakan apapun Carol segera mengambil koper milik kedua anaknya itu lalu menyeretnya. Saat bertemu dengan Dewi, gadis itu langsung bersalaman pada ayahnya.
“Langsung masuk mobil aja,” ucap Carol yang masih saja menyeret koper kedua putrinya yang kini hanya mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Kini banyak yang melihat mereka dengan tatapan memuja. Meskipun Carol sudah memiliki dua anak remaja namun tetap saja wajah tampan laki-laki itu tak memudar.
Saat sampai di depan mobil mereka. Carol langsung memasukkan koper tersebut ke bagasi mobilnya dan membukakan pintu untuk kedua anaknya itu. Queena yang kini duduk di bagian depan bersama Carol dan Dewi yang duduk di bagian belakang.
“Gimana campingnya?” tanya Carol saat sudah melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
“Seru Dad, meskipun capek tapi Queena seneng,” ucap Queena dengan senyumannya yang terlihat bersemangat menceritakan tentang campingnya. Bahkan selama di perjalanan cerita dari Queena lah yang meramaikan mobil.
Selama di perjalanan Dewi memilih diam karena ia tahu yang Ayah nya itu ajak berbicara hanya Queena dan tidak dengannya. Dari pada membuang tenaga untuk bercerita pada ayahnya itu yang jelas tak akan di dengar kan ia lebih memilih untuk memejamkan matanya.
***
Queena kini tengah berada di ruangan ayahnya untuk menemani ayahnya itu bekerja sedangkan ia kini tengah belajar. Memang Queena sering kali belajar dengan ayahnya itu apalagi jika ada yang tidak ia ketahui.
“Queena besok libur aja Dad sekolah nya. Nanggung banget masuk nya Cuma sehari. kan hari sabtu untuk libur lagi Dad,” ucap Queena yang kini tengah memohon agar diberikan keringanan oleh ayahnya itu yang kini menatap anaknya itu dengan serius.
Carol menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu.
“Fine, tapi kamu besok ikut daddy ke kantor. Daddy mau kamu belajar bisnis,” ucap Carol yang sontak membuat Queena kini mengerucutkan bibirnya kesal. Niat ingin berlibur dan bersantai kini malah harus menemani ayahnya itu ke kantor.
“Daddy nanti aja belajar nya. Queena mau rebahan aja di rumah,” ucap Queena yang dijawab dengan gelengen oleh Carol.
“Atau Daddy akan memotong uang bulanan mu,” tegas Carol yang kini semakin membuat Queena cemberut mendengar ucapan dari ayahnya itu.
“Daddy gak seru,” kesal Queena yang langsung membereskan buku-buku nya dan memilih untuk pergi dari ruangan ayahnya itu. Carol yang melihat tingkah anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Queena kini memilih untuk menuju ruang keluarga ia yakin disana pasti ada ibu juga kakaknya yang tengah menonton televisi. Dan benar saja saat sampai di ruang tamu ternyata di sana memang anak ibu juga kakaknya.
__ADS_1
“Ma,” panggil Queena yang sontak membuat Dhisi menoleh ke arah Queena yang baru saja turun dari tangga dan kini berjalan ke arah ibunya itu.
“Ada apa sayang?” tanya Dhisi menaikkan sebelah alisnya. Queena menghela nafasnya lalu memilih untuk duduk di samping Dhisi.
“Lagi kesel aja sama Daddy. Masak aku minta libur malah di suruh ke kantor buat belajar bisnis,” adu Queena dengan kekesalannya. Dhisi yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Queena sayang.
“Emang kenapa muka libur?” tanya Dhisi menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Kan nanggung Ma, masih capek juga,” ucap Queena menjelaskan yang kini membuat Dhisi terkekeh mendengar ucapan Queena.
Queena dan Dewi memang begitu berbeda. Mereka memiliki sikap yang tak sama. Sikap Queena lebih banyak menurun dari ibunya sedangkan sikap Dewi yang begitu pendiam menurun darinya dan sikap tegas nay menurun dari Carol.
Tak beberapa lama Queena dapat melihat ayahnya yang baru saja turun dari tangga dan terlihat akan pergi karena ayahnya itu menggunakan pakaian yang rapi.
“Daddy,” panggil Queena berteriak pada Carol yang kini membalikkan tubuhnya dan menaikkan sebelah alisnya pada anaknya itu.
“Daddy mau kemana?” tanya Queena penasaran. Seolah jika melihat ayahnya keluar maka ia akan penasaran dan khawatir.
“Mau ke depan bentar, ada yang harus Daddy beli,” ucap Carol menjelaskan pada anaknya yang suka sekali penasaran itu.
“Ikut,” ucap Queena yang setelahnya langsung mengejar ayahnya itu dan berjalan untuk mendekat ke arah Carol. Dhisi yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Padahal baru saja gadis itu berkata padanya jika ia tengah kesal pada ayahnya itu namun kini ia sudah kembali membaik dan pergi dengan ayahnya.
“Apa Dewi gak bisa seperti itu Ma?” tanya Dewi yang sedari tadi hanya memperhatikan saja. Mendengar pertanyaan anaknya itu Dhisi menghela nafasnya lalu mengelus puncak kepala anaknya itu sayang.
“Coba kamu deketin Papa kamu. Dia sebenarnya orang yang begitu baik,” ucap Dhisi dengan senyumannya menenangkan anaknya itu yang kini hanya bisa menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ibunya. Ia hanya ingin bersikap seperti Queena yang begitu dekat dengan ayah mereka.
***
__ADS_1