
Arsen bersama kedua sahabatnya kini berada di pinggir lapangan sambil memperhatikan pada perempuan di kelasnya yang kali ini mendapatkan pelajaran volly. Para perempuan kini sudah begitu serius bertanding di lapangan voli.
“Gue baru tahu kalau Queena bisa badas juga,” ucap Panca sambil melihat ke arah kelas XI yang kini tengah bertanding basket.
Lapangan basket dan lapangan voli untuk olahraga memang tak terlalu jauh jadi mereka masih bisa melihat dengan jelas pertandingan yang tengah berlangsung itu. Arsen yang awalnya ditugaskan untuk mengawasi pertandingan voli perempuan itu sontak menoleh ke arah kelas XI setelah mendengar ucapan Panca.
Dan benar saja di lapangan basket terlihat Queena yang kini terlihat begitu serius dengan permainannya. Wajahnya yang biasanya terlihat begitu cantik dengan senyumnya kini tergantikan dengan wajah cantik seriusnya.
“Seksi banget kalau serius gini. Kebiasaan liat dia yang petakilan pas liat dia begini jadi aneh,” ucap Edsel menanggapi ucapan sahabatnya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Edsel.
Arsen yang mendengarnya kini hanya menatap datar pada sahabatnya, ingin sekali rasanya Arsen melarang mereka melihat wajah Queena saat sedang serius seperti ini. Karena Arsen pun begitu mengagumi wajah serius Queena.
“Mendeng awasin tuh yang lagi main voli, bukannya jelalatan tuh mata,” ucap Asen dengan begitu tegasnya pada sahabatnya yang kii langsung melihat ke arah Arsen dengan menyipitkan matanya curiga.
“Cemburu ya?” tanya Panca menggoda Arsen yang kini menatapnya dengan begitu tajamnya.
“Ngaco lo,” ucap Arsen asal yang membuat sahabatnya kini tertawa mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
“Udah berubah lagi asli nya,” ucap Panca dengan tawanya saat melihat Queena yang kini sudah kembali tersenyum dengan cerah menunjukkan sikap aslinya.
“Emang gak bertahan lama kayaknya,” ucap Edsel yang juga ikut tertawa mendengar ucapan Panca.
Tatapan Arsen kini masih saja tertuju pada Queena hingga matanya membelalak saat melihat bola yang kini melambung ke arah Queena.
“Queena,” teriak Arsen yang terburu-buru berlari ke arah Queena namun Ia terlambat karena bola itu sudah lebih dulu mengenai Queena.
Darah segar mengalir dari hidung gadis itu sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. Namun belum sempat Queena menyentuh permukaan lapangan, Arsen lebih dulu menahannya. Dengan panik laki-laki itu langsung membawa Queena ke UKS. Meninggalkan Dewi yang kini sudah ketakutan.
__ADS_1
Ia segera mengikuti Arsen yang membawa Queena ke UKS. Bersama dengan sahabat Queena juga sahabat Arsen. Dewi kini benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Queena jelas ia yang akan disalahkan oleh ayahnya.
Saat sampai di UKS, Arsen langsung menidurkan Queena di atas ranjang UKS yang sudah disambut oleh dokter yang berjaga. Dokter tersebut langsung memeriksa Queena.
“Bagaimana dok?” tanya Arsen setelah dokter itu selesai memeriksa Queena.
“Tidak ada yang serius. Benturan di kepalanya cukup keras oleh karena itu mengakibatkan Queena mimisan juga pingsan,” jelas dokter tersebut yang membuat semua orang yang berada di sana menghembuskan nafasnya lega.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya kepala sekolah yang kali ini datang untuk melihat keadan Queena.
Saat mendengar anak dari pemilik sekolah yang jatuh pingsan dan mimisan, kepala sekolah langsung datang. Tentu saja karena ia takut disalahkan. Namun beruntung kali ini yang menjadi akibat nya adalah anak dari pemilik sekolah juga hingga tak membuat murid atau guru disalahkan karena tidak becus dalam mengajar.
“Semua baik-baik saja pak. Mungkin sebentar lagi akan segera sadar,” jelas dokter tersebut yang membuat mereka menghela nafas lega.
“Kalau begitu yang lain kembali saja, biar saya juga Dewi yang menjaganya,” ucap dokter yang berada di sana. Namun Arsen langsung menggeleng.
“Biarkan dokter Lidya dan Dewi saja yang berjaga. Sebentar lagi Tuan Carol juga datang,” ucap kepala sekolah tersebut yang kali ini berhasil membuat Dewi memelototkan matanya mendengar ucapan kepala sekolah itu.
“Papa saya mengetahuinya?” tanya Dewi dengan tatapan takut nya yang terlihat begitu jelas.
“Iya Dewi. Tadi kebetulan ada ajudan Tuan Carol datang untuk pemeriksaan,” ucap kepala sekolah tersebut yang kini membuat Dewi semakin merasa takut. Hingga tanpa sadar kini ia memilih tangan nya begitu kuat.
“Sebaiknya kita segera pergi,” ucap kepala sekolah menggiring murid nya yang lain.
Dewi kini duduk di kursi dengan tidak tenang. Dan semua itu ditangkap dengan jelas oleh dokter yang berjaga bersama dengan Dewi.
“Dewi tenang aja, adik kamu gak papa,” ucap dokter tersebut dengan senyuman menenangkannya. Mendengar hal itu Dewi menoleh ke arah sang dokter dengan senyuman mirisnya sambil menganggukkan kepalanya. Dokter tersebut hanya tak tahu jika ketakutan Dewi yang sebenarnya adalah ayahnya.
__ADS_1
“Kak,” suara panggilan yang terdengar begitu lemah itu membuat Dewi juga dokter yang berjaga menoleh ke arah asal suara dan mereka mendapati Queena yang kini sudah membuka matanya sempurna.
“Queena,” panggil Dewi lalu berjalan ke arah Queena untuk memastikan keadaan adiknya itu baik- baik saja.
“Queen maafin kakak ya, kakak gak sengaja. Kamu tahu sendiri kan kalau kakak gak bisa main basket,” ucap Dewi sambil menundukkan kepalanya. Queena yang mendengar ucapan kakaknya itu tersenyum menenangkan sebelum menganggukkan kepalanya mengerti.
Suara pintu yang dibuka dengan keras membuat Dewi dan dokter tersebut menoleh ke arah sumber suara, begitupun dengan Queena. Hingga dapat Queena lihat. Ayah nya yang kini berjalan ke arah nya dengan raut wajah khawatirnya.
“Queena kamu gak papa sayang?” tanya Carol dengan begitu khawatirnya pada Queena yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Aku gapapa Dad. Kenapa Daddy harus kesini?” tanya Queena dengan decakan kesalnya melihat ayahnya itu yang memang begitu posesif kini sudah berada di depannya. Padahal ia baik-baik saja. Entah siapa yang memberitahu ayahnya itu.
“Kita pulang,” ucap Carol tegas yang membuat Queena memelototkan matanya mendengar ucapan ayahnya itu.
“Daddy, Queena baik-baik saja,” ucap Queena berusaha untuk bernegosiasi dan menenangkan ayahnya itu.
“Tidak ada bantahan,” ucap Carol tegas yang membuat Queena kini mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan ayahnya itu yang begitu posesif.
“Jika tak bisa bermain lain kali tidak perlu bermain. Kamu sering kali teledor dan mencelakai adiknya. Kamu sama sekali tidak pantas disebut seorang kakak. Bahkan Queena sebagai adikmu selalu menjagamu dan tidak pernah mencelakai mu,” sarkas Carol pada Dewi yang kini hanya menundukkan kepalanya takut mendengar ucapan ayahnya itu.
Lidya yang masih berada di sana cukup terkejut melihat bagaimana sikap Carol yang begitu berbeda kepada kedua anaknya itu. Kini bahkan ia seolah mengerti mengapa sedari tadi Dewi terlihat ketakutan.
“Daddy, jangan berbicara seperti itu. Daddy jangan keterlaluan pada kak Dewi. Dia selalu menjaga ku dengan baik,” ucap Queena karena merasa tak tega dan kasihan pada kakaknya itu. Namun Carol sama sekali tidak peduli. Ia lalu menggendong Queen di belakang nya untuk menuju ke arah mobil.
“Dewi,” panggil Lidya poda Dewi yang kini sontak menoleh ke arah Lidya sambil tersenyum menenangkan seolah ia mengatakan jika ia baik-baik saja.
***
__ADS_1