
Carol kini menatap lockscreen di ponselnya dengan tarapan nanarnya. Sebuah foto pernikahan yang terlihat penuh akan kebahagiaan. Senyuman terlihat jelas di wajah kedua mempelai mengungkapkan kebahagian dan rasa syukur mereka atas pernikahan yang kini mereka jalani. Kisah tujuh tahun menjalin kasih seolah tak sia-sia untuk mereka karena mereka akhirnya berada di puncak nya.
“I miss you wife,” ungkap Carol dengan begitu sendunya.
Tatapannya kini masih terus terarah pada foto di ponselnya, foto yang merupakan foto pernikahannya dengan Erlinda, wanita yang begitu ia cintai.
Ingatannya kini kembali pada kejadian enam belas tahun lalu. Ya, sudah enam belas tahun berlalu namun rasa sakit nya masih tak kunjung terobati. Cinta nya masih begitu besar pada wanita yang dulu selalu menemaninya itu.
Saat itu Carol tengah mengantar Dhisi untuk memeriksakan Dewi. Awalnya Carol menolak untuk mengantar Dhisi dan meminta bawahannya untuk mengantar mereka. Namun Erlinda malah memaksa nya untuk ikut karena bagaimanapun Dewi adalah anak Carol.
“Sayang, aku nemenin kamu aja ya,” pinta Carol pada Erlinda yang kini tengah berada di kamar mereka sambil menyiapkan keperluan melahirkan nya yang prediksi nya satu minggu lagi.
“No, sekarang kamu mending anter mereka sebelum Dewi makin parah. Dewi masih kecil, dia butuh papa nya,” ucap Erlinda dengan begitu sabar nya sambil mengelus kepala suaminya itu. Padahal kondisi Dewi kini sudah terus menangis merasakan rasa sakit nya, namun Carol masih saja berada di kamar mereka dan merajuk seperti anak kecil.
“Akh sial. Aku benar-benar akan menceraikannya sebentar lagi,” kesal Carol yang setelahnya langsung pergi dari sana. Erlinda yang mendengarnya hanya menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
Saat itu Carol akhirnya benar-benar [ergi untuk mengantar Dewi namun pikirannya terus saja pada istri tercinta nya di rumah. Carol benar-benar tak tenang. Hingga ia di kejut kan dengan telepon dari asisten rumah tangganya jika Dhisi akan melahirkan namun wanita itu malah jatuh pingsan saat di bawa ke rumah sakit.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, Carol yang saat itu tengah berada di ruang dokter untuk memeriksakan Dewi segera pergi dan menunggu di depan rumah sakit.
Sebuah mobil yang begitu ia kenali terlihat memasuki halaman rumah sakit. Dengan terburu-buru Carol menghampirinya dan ia dapat melihat istri yang begitu ia cintai sudah tak sadarkan diri. Dengan terburu-buru Carol menggendong Erlinda, para dokter dan suster sudah bersiap dan membawa brankar untuk nya.
__ADS_1
“Bertahan lah sayang, aku mohon bertahan lah untuk anak kita,” ucap Carol dengan air matanya yang tanpa sadar sudah menetes. Tangannya menggenggam tangan Erlinda begitu erat sambil ikut mendorong benar tersebut menuju ruang operasi. Karena Erlinda yang sudah tak sadarkan diri mau tak mau akhirnya ia di oprasi.
“Jangan tinggalin aku sayang, aku gak bisa rawat anak kita sendiri, aku butuh kamu. Jadi aku mohon bertahan lah,” ucap Carol dengan air matanya yang tak hentinya mengalir.
ia benar-benar tak kuat melihat istri yang begitu ia cintai kini terbaring dengan tidak sadarkan diri. Ia begitu takut jika sampai ia kehilangan istrinya itu.
Saat Erlinda mulai menjelana oprasi nya, Carol kini terduduk di depan ruang operasi dengan tatapannya yang terlihat begitu sendu dan tubuhnya yang sudah lemas ia begitu takut jika wanita yang begitu ia cintai itu meninggalkannya.
Tak lama orang tua mereka datang dengan tatapan khawatir nya. Mereka semua terlihat begitu gusar. Adam segera berjalan ke arah Carol lalu memukul laki-laki itu dengan begitu keras membuat semua yang berada di sana memekik karena nya.
“Lihat lah, kau bahkan tak bisa menjaga istri mu. Bagaimana bisa kau berpikir untuk menikah lagi? Jika sampai terjadi sesuatu pada anak dan cucu ku, aku tak akan memaafkan mu,” kecam Adam yang sama sekali tidak Carol perdulikan. Hatinya kini begitu hancur. Tak hanya adam, bahkan ia sendiri tak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada istri juga anak nya itu.
Operasi itu berjalan dalam waktu yang begitu lama. Carol kini bahkan terlihat begitu berantakan. Hingga setelah operasi yang memakan waktu yang begitu lama. Beberapa dokter keluar dengan wajah kekah mereka.
“Selamat pak, anak Anda lahir dengan sehat dan berjenis kelamin perempuan. Namun kami juga mengucapkan bela sungkawa juga meminta maaf yang sebesar-besar nya karena kami tidak bisa untuk menyelamatkan istri Anda,” ucapan Dokter itu bagai sebuah pisau yang kini menusuk jantung nya.
Hancur, rasanya ia sudah hancur. Wanita yang begitu ia cintai kini telah pergi, pergi meninggalkannya untuk selama-lama nya. Dengan langkah lemahnya dan tatapannya yang terlihat begitu menyakitkan. Carol berjalan ke arah istrinya yang kini setia memejamkan matanya. Terlihat begitu damai dalam tidurnya. Tanpa tahu jika kini Carol begitu hancur, dunianya seolah runtuh. Separuh jiwanya ikut pergi bersama wanita yang begitu ia cintai itu.
“Kamu ninggalin aku dan anak kita?” tanya Carol dengan tatapan tak percaya nya pada Erlinda yang kini begitu setia memejamkan matanya.
“Anak kita butuh kamu sayang. Anak kita butuh Mommy nya,” teriak Carol dengan tangis nya yang terdengar begitu menyesak kan. Air matanya terus saja turun tanpa bisa ia kendalikan.
__ADS_1
Carol berjalan ke arah bayi yang kini tertidur dengan lelap itu. Lalu menggendong nya dan meletakkannya di atas dada Erlinda. Membawa tangan wanita itu untuk memeluk anaknya. Tanpa disangka Erlinda mengeluarkan air matanya namun tetap saja tak ada tanda kehidupan di sana.
“Bagaimana aku bisa mengurus anak kita tanpa kamu sayang? Aku gak mau, aku gak mau ngurus dia. Kamu harus bamngun atau anak kita akan tumbuh sendiri tanpa Mommy dan Daddy nya karena aku gak mau ngurus dia sendiri,” tangis Carol meratapi nasib nya. Begitu banyak perandaian yang kini memenuhi otak nya namun ia tahu semua itu hanya perandaian yang tak mungkin bisa terwujud. Pikirannya kini terus menyalahkan Dhisi juga anak nya.
“Minta mommy mu untuk bangun Nak. Daddy tak akan mengurusmu jika kau tak bisa membuat Mommy mu bangun,” ucap Carol yang jelas hanya gertakan semata. Namun tetap saja wanita itu tak mau untuk membuka matanya.
Keluarga mereka yang melihat semua itu hanya menangis. Mereka jelas tak kalah hancur nya dari Carol. Apalagi saat melihat cucu mereka yang kini kehilangan ibu nya. Cucu perempuan mereka yang begitu cantik.
Namun takdir seolah begitu jahat pada nya hingga mengambil ibu nya. Selama itu juga Carol tak pernah mengizinkan siapapun untuk menyentuh anaknya. Hanya mertuanya juga ibu nya yang ia diperbolehkan menyentuh anaknya itu.
Carol mengurus anaknya sendiri dengan baik. Namun pada akhirnya Dhisi tetap berusaha agar Carol membiarkannya merawat Queena dan menyakinkan Carol jika ia akan menjadi ibu yang baik untuk Queena dan menyayangi Queena seperti anaknya sendiri.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Carol menyetujuinya walau ia tak sepenuh nya percaya pada Dhisi.
Sapuan lembut di pundak Carol membuyarkan lamunan Carol, hingga ia mendapati anak nya yang kini tengah menatap sendu ke arah ayahnya yang tengah menangis itu.
“Dad, mengapa menangis?” tanya Queena dengan tatapan sendunya pada ayah nya itu. Carol segera menghapus air matanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Hanya mengingat mommy mu,” ucap Carol dengan senyuman sendunya yang membuat Queena langsung memeluk ayahnya itu. Hingga mereka akhirnya saling memeluk untuk memberikan kekuatan satu sama lain.
Queena tahu pasti begitu sulit untuk ayahnya itu menerima ini. Terbukti dengan seberapa benci nya ayahnya itu pada Dhisi. Kini Queena mengerti mengapa kedua orang tuanya itu tak seperti pasangan pada umum nya, dan mengapa ayahnya memperlakukan dirinya dan Dewi berbeda.
__ADS_1
***