
Saat sampai di rumah Aura kegelapan seolah melingkupi rumah tersebut. Queena sudah hendak pergi menuju kamar nya sendiri. Begitu pun dengan Carol. Mereka sudah terlalu lelah setelah apa yang terjadi. Namun Dewi seolah ingin meluapkan semuanya malam ini. Ia seolah ingin merasakan lelah itu sekaligus.
“Kenapa Papa batalin pertunangannya? Bukannya papa yang sebelumnya maksa perjodohan ini? Kenapa setelah aku nerima perjodohan ini, papa malah membatalkannya?” tanya Dewi dengan amarahnya yang mulai memuncak.
Ia sudah menahan amarah nya begitu lama, jadi ia ingin melepaskannya malam ini juga. Ia sudah begitu lelah dengan semua yang terjadi pada hidupnya.
“Apa kamu gak bisa baca situasi? Kamu masih berharap melanjutkannya setelah situasi kacau itu?” tanya Carol yang kali ini membalikkan tubuhnya dan menatap anaknya itu dengan tatapan tajamnya.
Queena yang awalnya sudah ingin untuk pergi ke kamar nya pun mengurungkan niat nya untuk pergi. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang berat untuk nya.
“Kakak masih ingin melanjutkan pertunangan setelah tahu dia laki-laki yang aku suka?” tanya Queena dengan tatapan tak percaya pada Dewi yang kini menatap Queena dengan tatapan menantang nya.
“Emang nya kenapa? Gak Cuma kamu yang suka sama dia Queena, aku juga suka sama Arsen,” ucap Dewi yang kali ini mampu membuat Queena terkejut mendengarnya. Sebelumnya ia tak pernah mengetahui jika kakaknya itu menyukai Arsen karena Dewi memang tidak pernah menunjukkannya.
Namun ingatan Queena kini langsung terarah pada beberapa kejadian di mana Dewi selalu mencari Arsen dan mencoba untuk mendekatinya namun Arsen malah menolaknya dan menjadikannya sebagai tameng untuk laki-laki itu. Queena kini mengetahui mengapa saat itu kakaknya mencari Arsen untuk ikut dengan laki-laki itu ke SMA Pedro ternyata saat itu Dewi sudah menyukai Arsen.
“Dewi, hentikan. Kamu tahu sendiri kalau Arsen sudah menolak perjodohan itu. Dia menerima perjodohan itu sebelumnya karena Arsen pikir yang akan dijodohkan dengannya adalah Queena, bukan kamu,” peringat Dhisi pada anaknya itu. Dhisi tak ingin ada kehidupan lain seperti dirinya apalagi jika itu anaknya sendiri.
__ADS_1
Queena yang mendengar ucapan ibunya itu terkejut. Ia tak menyangka jika Arsen menerima perjodohan itu karena nya. Karena Arsen berpikir ia lah gadis yang akan di jodohkan dengan laki-laki itu.
“Bukankah Papa dengan sikap memaksa nya, masih bisa memaksa Arsen?” tanya Dewi yang kini terdengar begitu menantang. Dhisi kini menggelengkan kepalanya menatap anaknya itu. Kini ia seperti tak mengenali anaknya itu.
“Tidak. Kamu tahu sendiri adikmu menyukainya. Jadi Papa lebih memilih untuk menyatukan satu hati dari pada cinta beda rasa yang kamu inginkan itu. Jangan egois Dewi, jangan hanya memikirkan tentang mu hingga kamu harus melukai dua hati secara bersamaan. Atau malah pada akhirnya bukan hanya dua hati, tapi hati kamu juga akan ikut terluka karena keputusan kamu itu,” ucap Carol begitu tegas dan tajamnya.
Kini ia seolah melihat dirinya sendiri, melihat luka yang sama meskipun dengan kisah yang sedikit berbeda. Dhisi yang mendengar ucapan Carol terdiam. Ucapan laki-laki itu terdengar begitu menohok untuk Dhisi.
“Padahal kak Dewi tau sendiri gimana perjuangan aku buat dapetin kak Arsen yang akhirnya sekarang membuah kan hasil. Apa kak Dewi tega merusak semua itu? Kak Dewi ingin menjadi orang ketiga? Orang ketiga gak akan berakhir baik kak,” ucap Queena dengan begitu tajamnya. Dan sekali lagi ucapan itu seolah menampar Dhisi berulang kali.
“Bukankah ucapan Papa terlalu jahat? Yang selama ini egois itu Papa. Papa yang selalu mementingkan Queena dari pada aku. Papa yang selalu bersikap berbeda. Dan untuk kali ini untuk pertama kali ini aku meminta Papa agar bisa menyatukan aku dan Arsen,” ucap Dewi tegas seolah tak ingin di bantah.
“Ya, bahkan jika perlu aku akan melakukan apa yang mama lakukan. Bukankah menambah satu anak haram lagi di keluarga ini tak jadi masalah?” tanya Dewi yang kali ini berhasil membuat Dhisi murka mendengar ucapan anaknya itu. Tanpa sadar tangan wanita itu melayang untuk menampar anaknya.
Queena bahkan terkejut melihatnya. Carol yang sedari tadi menahan tangannya agar tak melukai Dewi hanya menghela nafasnya kasar sambil memejamkan matanya.
Dhisi yang menampar anaknya itu kini melihat tangannya, ia tak percaya jika kini ia menampar anaknya itu. Sedangkan Dewi kini menatap ibunya itu dengan tatapan tak percaya nya. Ia tak percaya jika ibunya itu akan menamparnya.
__ADS_1
“Ucapan mu keterlaluan Dewi. Papa benar-benar kecewa mendengar nya,” ucap Carol yang kini membuat Dewi mengalihkan tatapan nya ke arah ayah nya itu, setelah tamparan dari ibunya kini ucapan ayahnya yang sarat akan kekecewaan yang harus ia dengar.
“Kalau kakak emang mau kak Arsen, silahkan. Aku pilih ngalah. Anggap saja aku sedang mengikhlaskan sebuah cinta, untuk pengemis seperti kakak,” ucap Queena dengan begitu tajamnya dan setelah nya ia segera naik ke kamar nya meninggalkan kekacauan di bawah sana.
Sebenarnya ia tak ingin untuk menghina kakaknya itu. Namun melihat bagaimana kakak nya yang kini berubah bagi Queena ia menjadi begitu emosional hingga ia harus mengatakan hal yang menyakitkan itu pada kakaknya.
“Maafkan Queena kak,” gumam Queena dan segera pergi dari sana. Melihat kepergian anaknya Carol segera mengejar nya.
Dewi yang mendengar itu segera pergi dari sana ia merasa jika kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Bahkan Mama nya sendiri yang begitu ia percaya kini malah dengan tega menamparnya. Dewi seolah jatuh ke jurang yang paling bawah.
“Dewi, tunggu nak,” ucap Dhisi yang berusaha untuk mengejar anaknya itu dan menjelaskan padanya. Ia ingin berbicara dengan anaknya itu dari kehati berharap jika anaknya itu mengerti.
Disisi lain kini Carol tengah berbicara pada Queena seolah menenangkan anaknya itu.
“Jangan membuat keputusan sepihak nak. Hati dan perasaan adalah dua hal yang menghancurkan. Tenangkan dirimu. Ini bukan saatnya membuat keputusan. Tentang perjodohan ini, mari kita bicarakan lagi nanti saat semua nya sudah tenang,” ucap Carol dengan begitu lembut pada Queena.
“Queena capek dad, Queena mau istirahat,” ucap Queena mengusir ayahnya itu dengan halus. Ia benar-benar sudah lelah. Entah fisik ataupun hati nya. Semua sudah begitu melelahkan.
__ADS_1
Carol tak bisa memaksa anaknya itu dan memang mereka butuh istirahat dan menenangkan diri mereka lebih dulu. Carol akhirnya memilih untuk segera pergi dari sana.
***