
Queena yang berada di belakang Arsen kini mengerucutkan bibirnya kesal. Pasalnya tadi Arsen sudah setuju untuk mengajaknya belajar di café lagi. Namun tiba-tiba saja setelah laki-laki itu mendapatkan nelpon, ia langsung membatalkan belajar mereka dan mengatakan jika ia harus segera pulang.
Padahal Queena sudah mengatakan pada ayahnya jika ia akan belajar dulu dan meminta ayahnya agar tak menjemputnya. Namun kini malah Arsen yang tidak bisa untuk mengajarnya karena ada acara.
“Gak mau masuk dulu kak?” tanya Queena saat mereka sudah sampai di depan rumah Queena.
“Gak,” jawab Arsen singkat uang akhirnya hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh Queena yang kini masih saja menampilkan wajah cemberutnya.
“Aku masuk ya kak. Kakak hati-hati,” ucap Queena yang Arsen balas dengan anggukan. Setelahnya laki-laki itu segera melajukan motornya meninggalkan rumah Queena.
Dengan langkah malasnya kini Queena berjalan memasuki rumahnya. Hingga sampai di ruang tamu. Queena dapat mendengar suara keributan dari arah ruang keluarga. Queena mendekatkan langkah nya menuju ruang keluarga.
Hingga ia melihat keluarganya yang kini tengah bertengkar. Hingga ia terkejut melihat Dewi yang di tampar oleh ayahnya setelah mengatakan tentang nya juga ibunya.
“Mas,” pekik Dhisi menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya itu.
“Jaga ucapan kamu Dewi. Harusnya kamu tahu siapa yang menjadi akibat dari meninggalkan Mommy Queena,” marah Carol yang kini sudah tak bisa lagi untuk menahan semua amarah dan juga kebencian juga kekecewaan yang selama ini ia rasakan.
__ADS_1
“Mas, aku mohon hentikan,” ucap Dhisi yang kini sudah menangis. Ia hanya tak ingin masa lalunya kembali ke permukaan dan diketahui oleh anaknya.
Queena yang mendengar pembicaraan itu terdiam. Nafasnya seolah terhenti. Akankah kini ia akan mengetahui kebenarannya?
“Kenapa? Bukankah anak mu yang lebih dulu membahasnya? Aku tak suka jika ada orang yang menyalahkan Queena ataupun Erlina. Sekalipun itu Dewi. Dia harus tahu kebenarannya agar ia berhenti menyalahkan Erlina,” ucap Carol dengan amarahnya. Tatapannya kini sudah begitu tajam. Dewi hanya diam menunggu, ia juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Semua ini adalah kesalahan Mamamu, Mama kamu yang menjadi dalang atas kematian Mommy Queena,” marah Carol yang kini tak lagi memperdulikan batasannya. Harusnya ia tak pernah mengungkapkan ini dan membiarkan ini menjadi rahasia mereka agar anak anak mereka tak saling membenci seperti dirinya.
“Papa bercanda? Jangan menutupi kesalahan Papa dengan menyalahkan Mama,” ucap Dewi dengan tajam. Ia jelas tak akan mempercayainya begitu saja. Berbeda dengan Queena yang kini berpegangan pada pilar di dekat nya. Kakinya kini sudah terasa begitu lemas mendengar informasi yang baru saja ia dengar.
“Apa Papa pernah bercanda sama kamu? Mama kamu memang dalang dari kematian wanita yang sangat saya cintai. Hubungan Papa dengan Erlina bahkan sudah terjalin tujuh tahun lebih, kami sudah bertunangan. Namun Mama kamu malah datang, dan Kakek papa yang menjodohkan kamu. Papa sudah menolak karena papa tidak ingin merusak kebahagian papa.” Carol terdiam sambil memejamkan matanya, berusaha menahan sesak yang kini ia alami. Dhisi kini juga memejamkan matanya merasa bersalah atas sikap egois nya.
Mengingat kembali masa lalunya yang hanya tersimpan luka.
“Mas cukup,” ucap Dhisi dengan tatapan memohonnya. Namun Carol seolah tuli. Ia sama sekali tidak ingin berhenti begitu saja. Ia ingin Dewi mengetahui semuanya. Meskipun itu sebenarnya salah. Carol hanya tak ingin wanita yang begitu ia cintai selalu di salahkan dan di fitnah.
“Mommy Queena adalah orang yang baik dan Naif, hingga ia mau menampung Mama kamu bersama kami setelah tahu Papa menikahi Mama kamu. Dia sama sekali tidak marah pada Mama kamu yang sudah menjebak Papa, hingga kamu ada.” Carol terdengar begitu frustasi. Tatapan nya terlihat berkaca-kaca menunjukkan seberapa besar cinta yang ia miliki untuk wanita yang sudah berbeda dunia dengannya itu.
__ADS_1
Queena kini mengepalkan tangannya, amarahnya kini sudah tak dapat ia bendung lagi mendengar penjelasan dari ayahnya itu.
“Setelah mengetahui itu, Mommy Queena semakin lemah begitupun kandungannya. Dan saat Mommy Queena melajirkan, Papa seharusnya ada di sana, tapi karena mama kamu yang gak becus jaga kamu akhirnya membuat kamu masuk rumah sakit, dan Papa harus ke sana. Meninggalkan Mommy Queena sendiri di rumah, sampai tidak ada yang tahu jika ia akan melahirkan sampai Nenek kamu yang menemukannya. Namun kandungannya yang lemah dan air ketebunannya yang sampai kering, Mommy Queena tidak bisa diselamatkan,” marah Carol membuat Dhisi kini menoleh ke arah anaknya yang terlihat terkejut mendengar semua penjelasan dari Carol.
Queena yang berada di tempatnya seolah sudah tak sanggup lagi untuk terus berada di sana. Perasannya begitu hancur mengetahui semua fakta yang baru saja di terimanya. Ia tak menyangka jika kehidupan ibunya selama ini begitu berat.
Namun disisi lain ia juga sudah mencintai Dhisi seperti ibunya sendiri, mengingat wanita itu lah yang selama ini menjaga nya. Wanita itu lah yang menyayanginya dan menganggapnya seperti anak sendiri.
Pikiran Queena kini rasanya begitu hancur dengan semua ini.
“Kamu gak seharusnya mengatakan semua ini,” ucap Dhisi dengan tatapan tak percaya pada Carol yang kini sudah tesenyum sinis pada Dhisi.
“Biarkan dia tahu bagaimana kelakuan ibu nya. Agar ia tak terus menyalahkan Queena. Dia memang harus menanggung akibat dari ulahmu. Karena tak mungkin aku membiarkan Queena yang berada di posisi ini. Dia sudah terlalu menderita setelah kehilangan ibunya,” ucap Carol yang kini malah membuat Dewi tertawa mendengar ucapan ayahnya.
“Apa Papa pikir selama ini aku tidak menderita? Papa selalu mendahulukan Queena untuk segala hal yang baik. Namun jika soal memanfaat kan, maka aku yang akan Papa tumbal kan. Papa bahkan gak pernah menganggap aku ada selama ini. Queena kehilangan ibunya, namun Mama menjaganya dengan baik. Namun aku, aku tidak kehilangan papa ku, tapi serasa kehilangan Papa,” sinis Dewi yang setelahnya langsung pergi dari sana meninggalkan Carol dengan kemarahannya mendengar ucapan anaknya itu.
“Kau beruntung bisa melihat Mama mu. Queena bahkan tak bisa melihat Mommy nya. Apa lagi merasakan bagaimana jika hidup bersama dengan ibu kandungnya. Selalu ada perbedaan antara ibu sambung dan ibu kandung, kau tak akan tahu karena kau tak pernah merasakannya,” marah Carol yang masih bisa didengar oleh Dewi.
__ADS_1
Melihat kepergian anaknya itu Dhisi segera mengejarnya. Perasannya kini tak kalah hancur dengan anaknya. Namun penyesalan dan rasa bersalah lebih besar ia rasakan.
***