
Mendengar ucapan Carol yang begitu tak mereka sangka kini membuat semua orang yang berada di sana terkejut mendengar nya. Bahkan Arsen yang sedari tadi tak menghiraukan pertengkaran tersebut langsung menoleh ke arah kedua orang tua yang tengah bertengkar tersebut saat mendengar ucapan Carol.
“Pa,” ucap Dewi menatap ayahnya kini dengan tatapan tak percaya.
Gadis tersebut kini malah sudah berlutut di bawah kaki ayah nya menatap ayahnya itu dengan tatapan sendunya. Ia tak menyangka jika ayahnya akan sampai menceraikan ibunya karena tindakannya kali ini. Ia memang salah, namun tidak dengan ibunya. Semua perkataan ibunya hanya untuk menuntut keadilan untuk nya.
“Pa, Dewi mohon Pa, jangan lakukan itu. Mama gak salah. Dewi yang salah Pa. Dewi yang salah karena udah buat Queena salah. Jangan ceraikan Mama Pa,” tangis Dewi sambil memohon pada ayahnya. Arsen yang melihat itu kini bahkan sudah berdiri. Keadaan menjadi semakin kacau dan tak menentu.
“Bukankah Mama kamu sendiri yang mau seperti ini?” tanya Carol dengan begitu sinisnya. Dewi kini semakin menangis. Dhisi yang mendengar ucapan suami tersebut masih terdiam. Ia juga tak kalah terkejutnya mendengar semua ini. Ia tak menyangka jika pada akhirnya ia juga akan kehilangan Carol.
Dari awal Carol memang bukan milik nya. Ia memiliki sebuah status sebagai istri Carol setelah Erlinda melinggal namun selama ini ia tak pernah mendapatkan hati Carol. Carol masih dengan masa lalunya. Carol masih dengan hati yang sama. Hati laki-laki tersebut memang hanya untuk Erlinda.
“Pa, Mama bilang kayak gitu hanya karena Mama mau. Papa bisa menjadi papa yang baik untuk aku. Aku memang butuh Papa. Tapi kalau Papa memang tidak mau untuk itu aku tidak masalah Pa. Tapi jangan ceraikan Mama. Mama begitu mencintai Papa,” ucap Dewi dengan air matanya yang kini sudah mengalir dengan begitu derasnya. Ia tak ingin jika Mama nya itu harus kehilangan laki-laki yang begitu dicintainya. laki-laki yang selama ini selalu ia perjuangkan untuknya. Meskipun ayahnya itu tak pernah melihat perjuangan ibunya. Namun Dewi tahu, hanya dengan menjadi istri yang baik untuk Carol saja, Mama nya itu sudah bahagia meskipun Carol tak pernah menganggap keberadaannya.
“Tapi tidak dengan Papa. Yang ada hanya luka dan kekecewaan. Papa kehilangan orang yang begitu Papa cintai, hubungan rumah tangga yang Papa harapkan akan bahagia malah hanya menyisakan luka. Queena adalah satu-satunya kenangan yang di sisa kan. Dan sekarang kamu juga ingin mengambil nya?” tanya Carol dengan tatapan sendunya pada Dewi yang kini masih bersimpuh di kaki ayahnya itu.
Bagas sedari tadi ingin menghampiri Dewi dan meminta gadis itu untuk bangun. Namun ia tahu, ia tak memiliki hak untuk ikut campur masalah itu.
__ADS_1
Dhisi yang sedari tadi hanya diam kini segera menarik anaknya itu dan memintanya untuk segera berdiri.
“Hentikan Dewi, jangan mengemis lagi. Jika ini yang Papa kamu inginkan maka biarkan saja. Ini adalah yang terbaik untuk kita,” ucap Dhisi sambil memejamkan matanya saat mengatakan hal tersebut. Air matanya tak hentinya mengalir membasahi wajah wanita tersebut.
Tak lama berselang seorang dokter yang memeriksa Queena bersama dengan para perawat, akhirnya keluar dari ruangannya. Melihat hal tersebut Arsen yang lebih dulu menghampirinya yang langsung disusul oleh Carol juga yang lainnya.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Carol dengan tatapan khawatir nya.
“Pasien sudah melewati masa kritis nya. Beruntung anak bapak tidak berada sedikit lebih lama di dalam air,” ucap dokter tersebut yang membuat semua yang berada di sana kini menghembuskan nafasnya lega saat mendengar ucapan dokter tersebut.
“Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat nya,” ucap dokter tersebut lagi yang setelah nya segera pergi. Hingga tak lama Queena yang masih setia memejamkan matanya dibawa pergi untuk menuju ruangannya sendiri.
“Jangan dekati anak saya lagi, dan jangan muncul dihadapan anak saya lagi. Saya bisa menjaga nya, Queena juga masih memiliki Oma yang lengkap untuk merawat nya,” ucap Carol pada Dhisi yang kini terlihat mengetat kan wajah nya mendengar ucapan Carol yang melarang nya untuk menemui Queena.
Meskipun Queena bukan anak nya namun selama ini ia lah yang menjaga Queena, menjadi ibu untuk Queena. Dan merawat Queena layak nya anak sendiri.
“Jangan halangi aku untuk menjaga Queena, dan jangan larang aku untuk menemui Queena. Aku akan tetap menjaga Queena sampai Queena tahu tentang perceraian kita. Dan satu lagi, meskipun aku bukan ibu kandung Queena tapi selama ini, aku lah yang menjaga nya dan menjadi ibunya. Tidak ada yang namanya mantan ibu,” ucap Dhisi tegas yang setelah nya segera pergi dari sana sambil menghempaskan tangannya dari Carol.
__ADS_1
Carol yang mendengar nya kini hanya mengepalkan tangannya lalu segera mengikuti Dhisi yang sudah lebih dulu berjalan mengikuti Queena juga yang lainnya.
Tanpa Carol tahu kini hati Dhisi begitu hancur. Laki-laki yang begitu dicintainya nyatanya sampai saat ini masih belum saja bisa menerima nya. Dan kita bukan nya ia mendapatkan hatinya justru ia malah kehilangan Carol. Memang sesuatu yang dari awal bukan untuk kita maka tidak bisa kita paksakan. Jika terus di paksa pada akhirnya yang kini dapat hanya lah luka.
Seperti yang pernah Dhisi dengar dari seseorang. Jangan pernah ingin memeluk langit jika kau tidak bisa memeluk nya.
Memang benar pada akhirnya ia tetap tidak bisa memeluk langit. Meskipun ia sudah berusaha ia tetap tidak bisa menggapainya. Ia hanya bisa untuk memandangnya dengan kekaguman tanpa bisa untuk menggapainya dan memeluknya dengan nyata.
Harapan semu dan nyata yang menyakitkan, semua berbanding terbalik. Tak ada yang mudah. Bahkan dengan perjuangan yang begitu besar tetap tidak bisa untuk menggapainya.
Baswara memang seperti menyatu dengan Bagaskara, namun nyatanya Baswara hanya sebuah Akara yang tak akan bisa menjadi atma untuk Bagaskara.
“Harusnya dari awal aku sudah mengetahui ini. Namun aku malah buta dan tetap memaksa,” batin Dhisi dengan senyuman miris nya. Melihat dirinya yang saat ini hanya lah sampah untuk laki-laki yang dicintainya.
“Memaksa dalam sebuah hubungan, dari dulu harusnya tak perlu aku lakukan. Bodoh nya aku bermain dengan perasaan yang nyatanya bukan milik ku,” lanjut Dhisi yang kini tengah meratapi nasib nya yang terlihat begitu menyedihkan.
Entah bagaimana bisa ada manusia yang menjalani hidup yang begitu menyedihkan ini selama delapan belas tahun? Entah ia memang wanita yang begitu kuat, atau malah ia hanya lah wanita menyedihkan yang tidak tahu malu.
__ADS_1
***