
Malam ini Queena terlihat begitu cantik dengan dress berwarna merah yang dibelikan oleh ibu Carol untuk nya. Malam ini adalah acara makan malam bersama di rumah orang tua Carol. Dengan senyuman yang mengambang dan langkah lebar nya Queena menuruni lantai tiga, kamar nya berada.
Saat sampai di lantai bawah ternyata di sana kedua orang tuanya juga Dewi sudah menunggunya. Mereka juga tak kalah terlihat cantik dan begitu tampan.
“Sudah?” tanya Carol pada putrinya itu yang langsung menjawabnya dengan anggukan.
Setelahnya mereka langsung menuju ke arah mobil Carol yang sudah siap terparkir di depan rumah mereka. Queena dan Dewi langsung duduk di kursi penumpang bagian tengah, sedangkan ayah dan ibu mereka duduk di bagian depan.
“Dad, apa akan banyak tamu yang diundang?” tanya Queena sambil memajukan tubuhnya untuk berbicara dengan ayahnya yang kini terlihat fokus menyetir.
“Tidak, hanya keluarga saja,” jawab Carol yang membuat Queena kini menganggukkan kepalanya lalu kembali membenarkan duduknya.
“Oma dan Opa mu juga akan datang,” ucap Carol dengan senyumannya yang bisa Queena melihat dengan jelas dari kaca bagian tengah mobil. Mendengar hal tersebut Queena kembali memajukan duduknya lalu menata ayahnya itu dengan tatapan tak percaya nya. Seolah meminta kepastian.
“Benarkah?” tanya Queena yang penuh semangat.
“Tentu saya sayang,” ucap Carol yang membuat Queena memekik senang karena nya.
Setelahnya Queena memilih untuk diam dan memainkan ponselnya. Ia terlalu sibuk dengan ponselnya, saling mengirim pesan pada sahabatnya. Terkadang juga mengirim pesan sebuah foto dirinya yang kali ini tampak begitu cantik, pada Arsen. Walau ia tahu, Arsen tak akan membuka pesan darinya.
Terlalu fokus pada ponselnya sampai membuat Queena tak sadar jika ternyata mereka sudah sampai di kediaman orang tua Carol. Queena melihat ke sekitar, melihat banyaknya mobil yang terparkir dengan rapi di depan rumah berlantai empat yang begitu besar itu.
“Ayo turun,” ajak Carol yang sudah membukakan pintu mobil untuk Queena. Queena tersenyum tulus pada Carol lalu menggandeng tangan ayahnya itu untuk segera masuk ke dalam rumah besar di depannya.
Saat memasuki rumah tersebut, bagian dalam terlihat begitu sepi. Hanya ada pelayan yang berlalu lalang. Namun saat sudah berada di taman belakang, tempat acara di adakan. Bisa dilihat dengan jelas, taman belakang begitu ramai dengan taman yang sudah dihiasi dengan lampu-lampu yang indah, juga kursi yang sudah ditata dengan rapi.
__ADS_1
“Queena datang,” ucap Queena dengan begitu semangat nya. Hal tersebut langsung membuat atensi keluarga nya itu langsung tertuju pada Queena. Senyuman terlihat jelas di wajah mereka, sambil menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah gadis remaja itu.
“Salam dulu sayang,” ucap Neymi pada cucu nya itu yang kini hanya menyengi saja. Dhisi dan Carol bahkan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan tingkah anak mereka yang satu itu.
Di balik semua orang yang menatap Queena gemas, ada satu laki-laki tua yang hanya menatap gadis itu dengan datar. Queena yang merasakannya memilih untuk acuh. Lalu berjalan ke arah keluarganya yang lain untuk bersalaman.
“Oma, Queena kangen,” ucap Queena pada wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik. Lena, nenek dari ibu kandung Queena yang kini juga hadir. Wanita itu memeluk cucu nya itu sayang.
“Opa apa kabar?” tanya Queena pada laki-laki tua di samping Lena, yang tak lain adalah Adam, kakek dari ibu kandung nya.
“Opa baik, duduk lah,” ucap Adam pada cucunya itu. Ia bergeser membiarkan cucu nya itu berada di tengah mereka.
Carol juga ikut menyalami ayah dan ibu mertuanya itu bergantian. Setelah menyalami kedua orang tuanya juga orang tua Dhisi.
“Semua baik Pa, Papa tenang aja,” ucap Carol dengan senyuman menenangkannya yang membuat Adam menghembuskan nafasnya lega. Adam memang meminta Carol untuk mengurus perusahaan yang seharusnya ia wariskan untuk anaknya, namun karena anaknya sudah tiada jadilah ia meminta Carol yang mengurusnya lebih dulu sampai Queena besar dan akan memberikan bagian Queena untuknya nanti.
“Bagaimana dengan Roy?” tanya Carol sambil menikmati makanannya.
“Entah lah aku begitu lelah dengan nya. Di usianya yang bahkan sudah menginjak kepala tiga, dia masih saja begitu sibuk dengan pekerjaannya tanpa mau memperdulikan jika ia harus menikah,” ucap Adam sambil menggelengkan kepalanya merasa lelah dengan anak bungsunya itu. Carol yang mendengar hal itu hanya terkekeh.
“Sepertinya uncle Roy ingin menjadi sugar Daddy, Opa,” ucap Queena asal yang membuat Oma nya memelotot mendengar ucapan cucunya itu.
“Kau terlalu banyak membaca Novel semacam itu, Queen,” ucap Carol pada anaknya itu yang kini hanya menjawabnya dengan cengirannya.
“Habiskan makananmu, dan tutup mulut manis mu itu hm,” ucap Lena pada cucu nya itu yang kini sudah tersenyum sambil menghabiskan makananya.
__ADS_1
“Queena, ayo pindah tempat. Biarkan para orang tua ini sibuk dengan pembicaraan mereka,” ajak seorang laki-laki tampan seumuran Queena yang merupakan sepupu nya. Anak dari adik ayahnya. Mendengar ajakan tersebut Queena menganggukkan kepalanya lalu segera pergi dengan makannya.
“Magenta, tolong bawakan makanan ku,” ucap Queena karena tangannya yang sudah tak cukup membawa makanannya.
“Ck, merepotkan,” ucap Magenta berdecak kesal yang kini malah membuat Queena menatapnya dengan datar.
“Kak Dewi, ayo ikut dengan kita,” ajak Queena pada kakaknya tersebut yang memang begitu pendiam membuat saudara mereka yang lain tak terlalu akrab dengan Dewi. Sangat berbeda dengan Queena yang memang terlalu banyak berbicara.
“Dimana ikan-ikan ku? Mengapa yang tersisa hanya ikan mu?” tanya Queena saat melihat ke arah kolam ikan yang berada di pinggir taman. Kini Queena dengan kedua sepupu nya juga kakaknya tengah berada di kursi yang dekat dengan kolam ikan.
“Bukan hanya milik mu kak, tapi milik ku juga sudah tidak ada. Dan semua ini karena kebodohan Litta yang mengira ikan kita akan kedinginan jika berada di dalam kolam terus,” jelas Raniya, adik Magenta yang kini duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama.
Mendengar penjelasan tersebut Queena memelototkan matanya, dengan amarahnya gadis itu lalu berjalan ke arah Litta, bocah berusia sepuluh tahun yang kini sibuk dengan makananya.
“Aku merasakan bahaya,” ucap Magenta sambil menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana tabiat Queena yang memang begitu manja.
“Litta, kamu yang sudah membunuh ikan ku?” tanya Queena dengan amarahnya. Litta yang awalnya sibuk dengan makannya kini menoleh ke arah kakak sepupu nya itu dengan cengiran nya lalu segera berlari karena merasa ia tengah berada dalam bahaya.
Hingga akhirnya mereka malah main kejar-kejaran. Para orang tua yang sudah biasa melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Sudah mengerti dengan sikap Queena yang begitu manja.
“Anakmu yang satu itu sepertinya tidak pernah dewasa kak,” ucap Luna sambil menggelengkan kepalanya dan terkekeh melihat ke arah kakaknya yang kini sudah pusing melihat tingkah anak nya yang satu itu.
“Sangat tidak berbeda jauh dari ibunya,” komentar Lena melihat cucunya itu, menerawang jauh bagaimana dulu putrinya yang suka sekali bertengkar hanya karena masalah kecil dengan pitra nya.
**
__ADS_1