
Memandangi bintang malam memang sudah menjadi kebiasaan untuk Queena. Seperti saat ini, saat pikirannya sedang terasa begitu kacau. Ia masih saja memikirkan tentang Arsen yang tadi datang untuk menjemput Meylen. Sebelumnya ia merasa jika Arsen benar-benar menyesal, namun nyatanya ia salah karena laki-laki itu tak pernah menyesal.
“Huft, berhenti buat bersikap begini Queen. Lo harus bangkit,” ucap Queena sambil menepuk pipi nya berusaha untuk menyadarkan dirinya jika ia tak bisa terus berlarut dalam perasaan seperti ini. Kini sudah waktunya ia untuk bangkit. Ia tak bisa untuk terus larut seperti in.
“Queena, kakak masuk ya?” suara di luar sana yang bersamaan dengan suara ketukan pintu membuat Queena mengalihkan tatapannya ke arah pintu.
“Masuk aja kak,” ucap Queena yang memang tidak pernah mengunci pintu kamar nya.
Dewi dengan segera masuk ke kamar adiknya itu dengan senyumannya yang menembang. Kini ia berjalan ke arah adik nya dan duduk di samping Queena. Ikut menatap langit di depannya yang kini bersinar dengan begitu cerah nya di tambah dengan taburan bintang di atas sana.
“Tadi Arsen ke sini,” ucap Dewi memberitahu Queena. Queena yang mendengar nya mengerutkan kening nya bingung bertanya-tanya untuk apa laki-laki itu datang. Queena kini menatap ke arah Dewi dengan tatapan penuh tanya nya.
“Dia mau ketemu kamu, tapi kamu masih tidur,” ucap Dewi lagi menjelaskan pada adiknya itu yang kini hanya tersenyum dengan begitu sinis mendengar nya.
“Buat apa? Buat mencari pembenaran? Meminta maaf lalu mengulangi?” tanya Queena dengan tawa hambar nya yang membuat Dewi merasa ikut bersedih mendengar ucapan adik nya itu. Ia tahu pasti begitu sulit untuk Queena bisa memaafkan Arsen.
“Kakak gak dukung aku sama dia kan? Kakak tau sendiri tadi dia gimana? Minta maaf dan bilang nyesel, bilang mau berjuang lagi. Tapi ternyata? Apa yang tadi kita lihat?” tanya Queena dengan tatapan yang terlihat penuh dengan luka. Dewi menghela nafasnya kasar sambil menggenggam tangan adiknya itu.
“Kita hanya salah paham atas apa yang dia lakukan Queen,” ucap Dewi dengan begitu tenang pada Queena yang kini mengerutkan keningnya. Meminta kakaknya itu untuk menjelaskan apa yang kakaknya itu maksud.
“Arsen tadi ngejelasin ke kakak….” baru saja Dewi akan menjelaskan namun kini suara dering telepon sudah lebih dulu memotong ucapannya.
__ADS_1
“Bentar kak,” ucap Queena pada kakaknya itu. Gadis itu dengan segera berjalan ke arah ponselnya yang berada di nakas untuk melihat siapa yang menelponnya.
Kening Queena mengerut bingung saat melihat nama Panca yang kini ternyata menelponnya. Tanpa pikir panjang akhirnya dengan segera Queena menjawab panggilan itu.
“Kenapa Pan?” tanya Queena setelah panggilannya terjawab. Suara dentuman musik yang begitu keras dari seberang sana membuat Queena bisa menebak dimana kini laki-laki itu berada.
“Bisa jemput Arsen gak? Dia lagi mabuk parah. Gue lagi ada urusan. Please ya Queen. Gue takut kalau dia nyetir sendiri malah khawatir gue. Please ya Queen. Bentar gue sherlock.,” ucap Panca yang terdengar begitu terburu-buru.
“Kok gue pac….” belum sempat Queena menyelesaikan ucapannya kini panggilan tersebut malah sudah lebih dulu di tutup membuat Queena memejamkan matanya menahan kekesalannya.
Namun kini ia juga tak bisa berbohong jika dia juga mengkhawatirkan Arsen. Tak lama sampai akhirnya Queena menggelengkan kepalanya berusaha untuk meng enyah kan pikiran bodoh nya itu. Tidak, ia tak boleh lagi kalah pada perasaannya pada Arsen.
“Kenapa?” tanya Dewi keheranan melihat adiknya yang langsung berubah menjadi gelisah.
“Gak papa. Tadi Arsen daten buat apa?” tanya Queena lagi pada Dewi. Ia ingin meyakinkan hatinya jika Arsen memang tidak pantas untuk nya. Mungkin dengan apa yang disampaikan Dewi ia bisa meyakinkan hatinya.
“Arsen dateng buat ngejelasin kalau dia jemput Meylen untuk ngasih tau ke Meylen buat mengakhiri hubungan mereka dan agar Meylen gak lagi ganggu Arsen ataupun kamu,” jelas Dewi yang kali ini berhasil membuat Queena terkejut mendengar penjelasan kakaknya itu. Kini bukannya semakin meyakinkan hatinya malah semakin membuat Queena goyah.
“Ah sial,” rutuk Queena yang setelah nya langsung pergi dari kamar nya. Dewi yang mendengar itu mengerutkan keningnya bingung tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Namun tak lama Queena pergi kini ia kembali menarik Dewi membuat Dewi kebingungan. Queena jelas akan mengajak Dewi karena ini sudah malam dan ayah nya tak akan membiarkannya pergi sendiri.
__ADS_1
“Mau kemana?”tanya Dewi dengan bingyung saat Queena kini malah menarik nya keluar dari rumah mereka. Saat sampai di depan kini sudah ada supir pribadi Queena yang menghampiri mereka.
“Mau kemana Non?” tanya laki-laki paruh baya tersebut pada Queena dan Dewi. Dewi kini sudah merasa takut jika malah ia yang dimarahi oleh ayah mereka karena mengajak Queena keluar di malam hari.
“Balik aja yuk Queen, jangan keluar udah malem,” ucap Dewi berusaha untuk membujuk adiknya itu. Namun kini tekad Queena sudah bulat. Ia takut jika terjadi sesuatu pada laki-laki itu.
“Gak bisa ini darurat. Udah mang anterin aja. Daddy gampang lah nanti,” ucap Queena yang kini langsung menarik tangan Dewi untuk menuju ke arah mobil. Dewi hanya bisa mengikuti dengan perasaan takut nya. Sedangkan sopir Queena kini juga mengikuti dan duduk dibalik kemudi.
“Mau kemana emang nya Non,,” tanya sipir Queena pada gadis itu. Queena membuka ponsel nya lalu memberikan alamat yang sudah diberikan oleh Panca pada Queena.
“Aduh Non, ini kita ke club malam? Jangan aneh-aneh atuh non nanti saya yang di marah sama bapak,” ucap sopir Queena dengan memelas. Dewi yang mendengar jika adiknya itu akan ke klub langsung membelalakkan matanya. Bukan hanya sopir mereka namun bisa dipastikan jika ia juga akan terkena amarah ayah nya.
“Lo gila? Gak, kita puter balik,” tegas Dewi tak ingin berada dalam bahaya.
“Kalau gitu gue sendiri,” ancam Queena yang membuat Dewi kini frustasi mendengar nya.
“Fine, gue telfon Bagas buat jagain. Kamu ngapain sih ke sana. Cari bahaya aja,” ucap Dewi dengan helaan nafasnya namun Queena memilih untuk bungkam dan tidak memberitahu pada kakaknya itu apa yang sebenar nya membawa nya ke tempat seperti itu.
Tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Namun kini ia harus datang karena terlalu khawatir dengan laki-laki yang kini bahkan dengan tega menyelingkuhinya.
***
__ADS_1