
"Aku boleh ikutan disini kan?" tanya Alina tersenyum.
"Boleh." Semua orang menyambut Alina dengan ramah.
Akhirnya Alina menemukan sisi rumah yang memancarkan sinar terang. Setiap hari rasanya hanya ada kegelapan di rumah itu, Alina tidak menyangka ternyata semua sinar itu berkumpul disini. Apa Bu Rose juga sering kesini ya?
Alina kemudian membantu para pelayan itu menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak untuk makan malam nanti. Jaraknya yang cukup jauh dari ruang utama, membuat mereka bisa dengan bebas mengobrol dan saling tertawa.
"Besok-besok aku boleh sering kesini kan?" tanya Alina kembali.
"Tentu saja cantik, kasian ya kamu selama ini pasti ikut murung karena suasana rumah kayak gitu," ucap salah satu pelayan yang terlihat paling senior daripada yang lain.
"Rasanya mau kabur, huhuhu ... " jawab Alina berpura-pura menangis, kemudian tertawa dengan yang lain.
Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Para pelayan harus sudah menyiapkan makan malam dengan rapih. Alina juga turut membantu mereka, tetapi kali ini Alina tidak membawa piring-piring karena takut terjatuh. Semua orang bergantian membawa menu makan malam hari ini.
Ibu Rose kemudian menghampiri mereka dan ikut mengecek semuanya. Alina yang melihatnya lalu pergi menyapa Ibu Rose yang sejak tadi tidak sempat bertemu.
"Bu, maaf dari tadi Alina belum sempet sapa Ibu."
"Aduh iya gapapa, nanti makan malam ikut sini lagi ya," ajak Ibu Rose kepada Alina.
"Iya Bu, baik."
Satu persatu anggota keluarga Miller mengisi kursinya masing-masing, begitu juga dengan kepala pengawal dan pelayan. Hari ini ada tambahan, karena Dokter Indra turut diundang makan malam bersama dengan mereka. Arkana yang baru saja pulang kemudian menjadi yang paling terakhir datang.
"Sibuk kamu Ar, jam segini baru pulang." Tuan Miller selalu membuka pembicaraan dengan nada yang sinis kepada anaknya itu.
"Hari ini full meeting," jawab Arkana tanpa melihat ayahnya.
"Ayo-ayo dimakan, kita mulai aja makan malamnya." Rose mencairkan suasana yang sempat tegang.
__ADS_1
Baskara terlihat tidak bersemangat, membuat Dokter Indra kemudian menghampirinya khawatir. Tuan Miller yang melihat itu juga ikut khawatir. Hanya Arkana yang terlihat biasa saja dengan keadaan itu. Mata Alina bolak-balik melihat keadaan Baskara dan melihat reaksi Arkana.
Hubungan kakak adik yang aneh, sepertinya ini yang ada didalam kepala Alina saat ini. Jujur mengetahui jika mereka kakak beradik, Alina berharap hubungan yang baik dan akrab seperti dirinya dan kakaknya dulu. Namun, tidak berlaku untuk seorang Arkana dan Baskara.
Baskara akhirnya dibawa ke kamarnya bersama dengan Dokter Indra dan ibunya. Sebelum menyusul mereka Tuan Miller menyuruh Arkana ke ruang kerjanya. "Ada yang mau saya bicarakan ke kamu."
Dengan santai dan tidak bereaksi apapun Arkana pergi menyusul ayahnya kesana. Alina yang mendengar perkataan Tuan Miller menjadi penasaran dengan apa yang terjadi diantara keduanya.
"Cari apa kamu ketemu sama Dokter Indra?" tanya ayahnya.
"Sepertinya itu bukan urusan Papa."
"Semua hal yang menyangkut anak saya, itu jadi urusan saya juga," ucap Tuan Miller tegas.
"Anak yang mana? Baskara maksudnya? " Arkana bertanya sembari tersenyum sinis.
Tuan Miller jelas sekali memihak Baskara. Anak yang dimaksud olehnya pun sudah pasti Baskara. Dirinya tidak mau sampai Baskara tahu sesuatu yang tidak perlu diketahuinya. "Lagian untuk apa kamu cari tahu itu, tidak ada hubungannya dengan kamu Ar," tegas Tuan Miller.
Suara yang terdengar persis seperti kejadian hari itu. Jalanan licin membuat Arkana terpeleset dan terjatuh dari motornya dengan kasar di jalan raya besar menuju rumahnya. Benturan itu cukup keras dan hampir membuatnya tidak sadarkan diri. Namun, dirinya tidak bisa berhenti karena ada banyak orang yang mengejarnya dari belakang.
Setelah berhasil sampai rumah, Arkana tergeletak tidak berdaya didepan pos satpam. Dengan panik Rose membawa Arkana ke rumah sakit. Melihat keadaan anaknya yang babak belur dan penuh luka membuatnya sangat khawatir. Ditambah Arkana tidak juga sadarkan diri.
Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara teriakan dari Tuan Miller kepada anaknya yang masih tergeletak lemah diatas kasur, "Dasar tidak berguna!"
"Berani-beraninya ya kamu berantem sama orang banyak, mau sok jagoan kamu."
"Udah Pah," ucap Rose meredakan kemarahan suaminya.
"Rusak kan sekarang ... kemungkinan tidak bisa dipakai, terus sekarang kamu mau gimana?"
"Kakak kamu harus gimana sekarang!" teriak Tuan Miller meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
Arkana hanya bisa diam dan memalingkan wajahnya. Bukan dirinya yang mau hal seperti ini terjadi. Dirinya bahan tidak menyangka jika kejadian hari ini bisa berakhir seperti ini. Baskara kemungkinan tidak bisa menerima donor hati dari adiknya.
Alina melihat Arkana keluar dari ruangan ayahnya dan terlihat marah. Alina mencoba mengikuti kemana Arkana pergi setelah ini. Dirinya berpikir Arka akan menyusul ibunya ke paviliun kakaknya. Namun, langkah Arkana ternyata menuju kebun bunga.
Sepertinya ketika suasana hatinya tidak baik, kebun bunga itu lah tempat Arkana menenangkan diri. Setelah mengamati dari jauh beberapa saat, Alina menyusul Arka dan duduk disampingnya. Arka hanya melirik sedikit ke arah wanita itu, dan kembali terdiam.
Keduanya kembali memandang bintang-bintang di langit malam hari ini. Arkana tidak mengucapkan sepatah kata apapun, padahal Alina sudah mempersiapkan mentalnya jika diusir oleh Arkana.
"Kirain bakal ngusir lagi kayak tadi siang."
"Diem aja deh," ucap Arkana singkat dan kembali terdiam.
Cukup lama keduanya hanya saling diam menikmati kerlap-kerlip lampu di kebun bunga itu. Cuaca hari ini tidak terlalu dingin seperti kemarin, dan mungkin karena itu Arkana tidak menyuruh Alina masuk.
Beberapa kali Arka menarik nafas dalam kemudian kembali diam. Alina menyadari itu, tetapi tidak berani untuk bertanya. Tiba-tiba Arkana yang memulai pembicaraan, "Sebelum ini ngapain?" tanyanya singkat.
"Mahasiswa ... tepatnya mahasiswa tingkat akhir," jawab Alina.
"Ngapain kerja?" Arkana benar-benar memberikan Alina pertanyaan singkat tanpa basa-basi.
"Buat kuliah, aku kerja buat bayar kuliah ... tapi karena sama Mas Baskara ga dibayar, aku dibayar Bu Rose buat ngurus kebun ini."
Arkana hanya mengagguk mendengar jawaban Alina. Dirinya termasuk orang yang cukup jarang tertarik kepada kehidupan orang lain. Namun, anehnya Arkana menemukan sesuatu pada diri Alina yang membuatnya ingin tahu lebih dalam.
Sama halnya dengan Rose, Alina berhasil membuat Arkana tertarik meskipun baru saja mengenalnya. Setelah sesi bertanya Arkana yang tidak ada bedanya seperti sensus penduduk karena terlalu singkat. Alina tidak kembali bertanya kepadanya.
Alina takut akan diacuhkan. Melihat kepribadian Arkana yang seperti itu membuat Alina tidak berani bertanya meskipun dirinya cukup penasaran dengan seseorang bernama Arkana ini. Salah satunya mungkin mengapa hubungannya dengan keluarganya tidak terlihat baik. Terutama kepada ayahnya dan Baskara kakaknya.
Meskipun Baskara adalah kakaknya, tetapi Arkana tidak secara langsung memanggilnya kakak. Selama berada disana Alina tidak pernah mendengar Arkana memanggil Baskara dengan panggilan Kak. Saling mengobrol pun jarang.
Tidak lama terdengar suara riuh dari arah paviliun. Arkana langsung bereaksi dan berlari kearah sana, disusul oleh Alina dibelakangnya. Ternyata keadaan Baskara tiba-tiba memburuk dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Arkana yang melihatnya terlihat khawatir. Itu pertama kalinya Alina melihat perubahan raut wajah dari Arkana. "Arkana ... ayo, kamu ikut juga." Dokter Indra memanggil Arka dan menyuruhnya ikut.