Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
38. SENYUMAN


__ADS_3

Alina tidak bisa lagi membendung perasaannya. Tangisnya pecah di kamar mandi. Bahkan suara gemercik air yang sengaja Alina nyalakan tidak bisa menghalangi suara hati penuh luka itu terdengar oleh Arkana yang sejak tadi diam didepan pintu kamar mandi.


Arkana berdiri disana meskipun Alina tidak menyadarinya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi kepada Alina. Tangisnya terdengar menyakitkan di telinga Arkana.


Setelah beberapa saat Alina keluar dari kamar mandi. Bengkak di matanya masih belum hilang, bahkan cenderung bertambah. Alina melihat Arkana didepan laptopnya fokus mengerjakan pekerjaannya. Dalam hatinya Alina berharap kalau Arkana tidak mendengar tangisannya tadi.


"Kalo mau minum ambil sendiri aja." Dari kejauhan Arkana melihat Alina yang kebingungan tidak tahu harus melakukan apa. Alina pun berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Diatas meja sudah ada sup hangat untuk Alina.


Melihat itu, Alina melirik ke arah Arkana. Arkana hanya melihat Alina dari ujung matanya dan berkata, "Makan. Cape tadi nangis terus." Alina kemudian meletakkan handuk yang dipakainya dan mulai memakan sup hangatnya.


"Mm enak ... Mas Arkana bikin sendiri?" tanya Alina.


"Beli dibawah ... kalo enak abisin, besok saya anter pulang."


"Ga usah Ma, nanti ngerepotin ... aku pulang sendiri aja," ucap Alina yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pulang.


"Oke." Arkana kembali fokus dengan pekerjaannya.


Arkana terlihat sibuk menyiapkan sesuatu di sofa depan TV sementara Alina mencuci mangkuk bekas supnya tadi. Arkana mengeluarkan selimut dan bantal lalu ia susun dengan rapi di atas sofa. "Kamu tidur di kamar, saya disini," ucap Arkana tangannya penuh membawa bantal.


Alina tentu saja menolak. Ditampung oleh Arkana dan tidak dibiarkan di pinggir jalan saja sudah untung bagi Alina. Ia tidak mungkin sampai hati menggunakan kamar Arkana. Namun, Arkana cukup kuat untuk mendorong tubuh Alina masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


Mulanya terasa canggung, tetapi matanya mulai lelah karena banyak menangis hari ini. Alina berniat duduk sebentar dan tidak lama tertidur di kasur Arkana. Tubuh dan mentalnya sangat lelah hari ini. Dari rasa bahagia hingga kesedihan yang menyakitkan terjadi dalam satu waktu.

__ADS_1


Paginya Alina dibangungkan oleh alarm yang berbunyi di kamar Arkana. Alarm itu bertugas membangunkan Arkana tepat pukul lima pagi. Biasanya di saat seperti ini Arkana memulai harinya dengan berolahraga di gym yang disediakan apartemennya.


Perlahan-lahan Alina membuka pintu dan menemukan apartemen Arkana sudah tak berpenghuni. "Mas Arkana kemana?" gumamnya sendiri. Alina berkeliling mencari keberadaan Arkana yang ternyata sudah pergi ke gym sesuai jadwalnya.


Alina membuka gorden dan kaget dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan sesaat sebelum matahari terbit yang begitu indah terlihat dengan jelas didepan matanya. Alina tidak bisa memalingkan pandangannya dari pemandangan didepannya.


"Mas Arkana bener-bener punya apartemen dengan pemandangan paling keren."


"Pantes aja dia gamau pulang ke rumahnya." lanjut Alina masih mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.


Terlalu asyik menikmati sampai tidak menyadari suara yang muncul dari tombol password yang dipencet. Arkana sudah kembali dari gym lalu melihat Alina berdiri didepan jendela.


"Keren kan," ucap Arkana mengangetkan Alina.


"Ih, kasih tanda dong kalo dateng." lanjut Alina kesal Arkana mengangetkan nya.


"Suara pintu kebuka harusnya udah cukup sih." Arkana berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap ke kantor meninggalkan Alina yang masih asyik didepan jendela.


Setelah rapi, keduanya makan sarapan yang sudah dipesan Arkana bersama-sama. Arkana kembali menanyakan kepada Alina untuk diantar ke rumahnya. Namun, Alina tetap dengan jawaban yang sama. Alina tidak mau lebih  banyak merepotkan Arkana.


Arkana akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Alina sampai mendapatkan taksi menuju rumahnya. Arkana memastikan Alina sudah naik lalu dirinya pun segera berangkat ke kantor. Dijalan Alina mengirim Arkana pesan berisikan ucapan terima kasih.


Sejak semalam Alina belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Arkana. Sebuah kebetulan Alina bisa bertemu dengan Arkana semalam. Tidak terbayangkan olehnya jika ia harus berakhir tidur di pinggir jalan.

__ADS_1


Alina sebenarnya tidak berniat pulang. Dirinya ingin menenangkan diri terutama dari ayahnya yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Karena itu setelah sampai nanti, Alina akan langsung membereskan pakaiannya dan kembali ke rumah keluarga Miller.


Meskipun disana berisi orang yang benar-benar asing untuk Alina, tetapi disana ia menemukan kehangatan dari Bu Rose, Bi Iyah, dan para pelayan yang lain. Selain itu kini setelah beberapa kali ditolong oleh Arkana, Alina ternyata bisa menemukan keamanan saat bersamanya.


Arkana telah sampai di kantornya, lalu disambut oleh Satrio yang sudah menunggu dari tadi. Satrio memberikan sedikit pengarahan tentang jadwal Arkana hari ini. Karena menunggu Alina tadi pagi, Arkana terlambat sepuluh menit.


Beberapa klien dan staff sudah hadir di ruang rapat. Arkana menarik nafasnya dalam lalu masuk ke ruang rapat. "Maaf sudah menunggu, tadi ada sedikit hal yang harus saya urus terlebih dahulu ... terima kasih atas pengertiannya telah menunggu."


"Oke, kita mulai rapat hari ini." Seperti biasa Arkana membuka rapat dengan tenang.


Alina membereskan pakaiannya dengan cepat. Jangan sampai ia bertemu dengan ayahnya. Saat ini Alina ingin memberontak dan menunjukan kekesalannya kepada ayahnya. Alina ingin ayahnya bisa sedikit saja mengerti perasaannya.


Adi yang masih tertidur di kamarnya sama sekali tidak menyadari Alina yang sudah pulang sejak tadi. Setelah berhasil membereskan pakaiannya tanpa membangunkan ayahnya, Alina lalu keluar dengan hati-hati. Tidak lupa Alina juga membawa helm milik Arkana yang ada pada dirinya.


Kini Alina hanya berdiam diri di halte bus yang tidak jauh dari rumahnya. Ia menunggu bus yang langsung menuju rumah Tari. Pagi tadi Alina sudah memberi kabar kepada Tari yang cemas mencarinya dari semalam. Rencananya hari ini Tari yang akan mengantarkan Alina ke rumah keluarga Miller.


Didalam bus Alina hanya memandang jalanan yang mulai ramai. Dirinya kini seperti tidak punya arah tujuan. Tidak tahu lagi harus melakukan apa kedepannya. Alina terus saja menghembuskan nafasnya berat, tertunduk lesu.


Tiba-tiba ada seorang nenek yang duduk mendekat ke Alina. Nenek itu tersenyum melihat Alina, "Kenapa kok pagi-pagi sudah lesu?" tanya nenek itu dengan hangat. Alina hanya menggelengkan kepalanya lalu membalas senyuman nenek itu.


"Senyum dong cantik, jangan biarkan masalah yang ada menghilangkan senyum indah kamu." Nenek yang baru Alina temui saat itu berhasil membuat Alina tersenyum. "Tau ga, banyak orang yang tidak menyadari senyuman mereka itu indah karena terlalu larut memikirkan masalah yang nanti juga akan berlalu," lanjut sang nenek.


Makasih Nek, aku akan berusaha terus tersenyum demi orang-orang yang sayang sama aku. 

__ADS_1


__ADS_2