
"Punya hutang?"
Arkana jelas sangat kaget mendengar itu. Menurutnya Kai bahkan tidak mengenal keluarganya. Arkana tidak pernah menceritakan tentang siapa dirinya kepada teman-teman sekolahnya. Lalu bagaimana Kai bisa mengenal Tuan Miller jika bukan dari Arkana?
"Ibu."
"Ini pasti kerjaan ibu ... dari dulu dia memang selalu boros dan suka foya-foya, bukan hal yang aneh kalau sampai ia terlilit hutang," jelas Alina.
"Tapi kalau sampai berurusan dengan John Miller, saya yakin itu bukan sekedar hal biasa."
Raut wajah Alina berubah sendu. Alina mencoba membayangkan berada di posisi kakaknya saat itu. Mencoba menyelesaikan semua permasalahan seorang diri. Sebenarnya ada salah satu bagian puzzle yang dimiliki Arkana dan belum siap ia bagikan dengan Alina.
Tampak Tuan Miller sedang menerima telepon dari seseorang didalam ruangannya. Percakapan mereka cukup serius dan diakhirinya dengan tersenyum sinis. Didalam ruangan yang sama sudah ada Tama, terlihat menunggu John selesai menelepon.
"Jangan bilang ... " ucap Tama.
"Ini demi kebaikannya juga, keingintahuannya sudah terlalu dalam."
"Tidak kusangka wanita itu adalah adiknya," ucap John Miller duduk dan meminum tehnya dengan tenang.
Arkana dan Alina mampir di sebuah restoran untuk makan malam. Keduanya tampak tidak bersemangat meskipun berhasil mendapatkan sebuah petunjuk hari ini. Alina masih libur dari pekerjaannya, sehingga setelah makan Arkana akan mengantarkannya pulang.
Setelah mengantar Alina pulang, Arkana pun sampai dirumahnya. Berjalan dengan lesu menuju kamarnya, Arkana tiba-tiba berhenti saat melihat Tama ada diruangan ayahnya. Ternyata benar yang dikatakan Baskara, ada hal yang mencurigakan tentang Tama.
Tama melirik ke arah pintu, merasakan jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari luar. Ia pun tersenyum tipis penuh makna. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya Tama inginkan dari John Miller dan Arkana. Yang pasti itu bukanlah hal yang baik.
Sama-sama lelah, Arkana dan Alina sama-sama menghempaskan tubuh mereka di kasur. Hari ini cukup melelahkan, petunjuk yang berhasil ditemukannya justru tidak membuatnya bahagia. Dengan penemuan itu Alina semakin yakin jika hilangnya Kai disebabkan oleh ibu mereka.
Sedangkan Arkana, penemuan tadi membuatnya kembali teringat pada kejadian hari itu. Kejadian yang hampir membuatnya mati. Sejak saat itu Arkana kehilangan Kai. Kai menghilang entah kemana bahkan sampai hari ini.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu, Alina kembali ke aktifitasnya menyelesaikan tugas akhirnya. Arkana yang fokus dengan projek kerjasama terbarunya. Mereka sama-sama memberikan waktu masing-masing untuk fokus dengan kehidupan mereka.
Karena projeknya itu, Arkana harus mondar-mandir Banjarmasin-Jakarta selama beberapa hari. Rose bahkan hampir tidak bisa melihat wajah anak bungsunya itu. Arkana yang kembali kerumah sama sekali tidak ada bedanya saat ia tinggal di apartemennya.
Alina akhirnya mendapatkan jadwal sidang akhirnya. Ditemani Tari, ia mengurus semua hal yang diperlukan. Rose mengizinkan Alina mengambil libur cukup panjang kali ini untuk sepenuhnya menyelesaikan tugas akhirnya.
Selama ini Alina selalu kesulitan harus ke kampus lalu kembali kerumahnya. Jarak kampus dan rumah keluarga Miller yang cukup jauh, pasti melelahkan untuk Alina. Sehingga Rose mengizinkan Alina untuk libur panjang. Hal ini juga sudah disetujui oleh Baskara.
Alina tiba-tiba mengirimkan pesan kepada Arkana yang sedang menunggu kliennya seorang diri di loby hotel. Pesannya berisi :
Berhasil dapet jadwal sidang ... yeyy, lusa akhirnya sidang juga. Setelah ini bisa sepenuhnya fokus cari Kak Kai.
Arkana sudah berjanji kepada Alina akan membantunya mencari Kai. Melihat isi pesannya membuat Arkana sedikit tersenyum. Tanpa membalasnya, Arkana melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu kliennya tiba.
Alina juga mengirimkan pesan yang sama kepada Rose dan Baskara, mengabari kalau ia akhirnya mendapat jadwal sidangnya. Untuk Baskara, Alina menambahkan pesan.
Ditemani Tari dan beberapa temannya yang lain, Alina sudah berdandan rapi menunggu gilirannya sidang skripsi. Sesekali ia memegang dadanya yang berdegup kencang. Hingga saat nya Alina dipanggil dan masuklah ia kedalam.
Diwaktu yang bersamaan Satrio sudah menunggu Arkana di parkiran bandara. Perjalanan bisnisnya kali ini cukup lama, membuat Arkana rindu suasana riuh ibukota. Setelah memasang seatbeltnya, Satrio memberikan bento favorit Arkana.
Dijalan, Arkana tiba-tiba teringat sesuatu. Arka pun meminta Satrio untuk mampir ke toko kue langganan ibunya sebelum ke kantor. Arkana melihat jam tangannya dan memastikan kalau waktunya harus tepat.
Setelah hampir dua jam Alina dicecar oleh pertanyaan dari dosen pengujinya, Alina pun berhasil menyelesaikan sidang tugas akhirnya. Tari dan teman-temannya yang lain menyambut Alina dengan pelukan dan senyuman bahagia.
Alina tidak lupa mengabari ayahnya kalau ia berhasil menyelesaikan sidangnya dengan baik. Semua orang tampak berbahagia dan saling tertawa satu sama lain. Ada yang berfoto bersama, ada yang menyelamati dan memberikan hadiah untuk Alina.
Tiba-tiba ditengah keramaian, datang seorang kurir membawa kue untuk Alina Prameswari. Alina pun menghampiri kurir itu meskipun merasa tidak memesan kue itu. Kurir itu bilang jika kue ini sudah dipesan seseorang untuk Alina, tugasnya hanya mengantarkannya saja.
Saat dibuka diatasnya tertulis, 'Selamat, from ABM.' Alina lalu tersenyum, ia sudah tau betul siapa sebenarnya pengirim kue ini.
__ADS_1
Arkana Benjamin Miller. Gausah so soan disingkat, aku tau lagi dari siapa.
Teman-temannya yang lain penasaran dan saling bergantian mendatangi Alina ingin melihat siapa yang mengiriminya kue itu. Tidak hanya sebuah kue, Arkana juga membawakan cupcake dan kue-kue cantik lainnya untuk Alina dan teman-temannya.
Alina kemudian menelepon Arkana. Cukup lama, Arkana tidak kunjung mengangkat teleponnya. Alina pun menyerah dan memilih pergi ke bar merayakan keberhasilan sidangnya hari ini. Ada tiga orang yang berhasil menyelesaikan sidangnya hari ini.
Karena itu mereka akan melakukan perayaan yang meriah di bar langganan mereka. Sebelumnya Tari sudah memesan tempat dan makanan minuman terlebih dulu disana. Hari ini biasanya bas itu akan ramai pengunjung, jika tidak dipesan lebih dulu kemungkinan mereka tidak akan dapat tempat.
"Satu ... dua ... tiga ... cheers .... "
"Yuhu ... " ucap Alina mengangkat gelasnya merayakan kelulusannya bersama teman-temannya.
Sejenak Alina ingin melupakan semua beban pikirannya dengan sepenuhnya bersenang-senang di hari bahagianya. Beberapa ada yang menari, ada yang saling mengambil foto, atau hanya mengobrol asyik menikmati musik.
Diluar Satrio mengeluh dengan ramainya bar malam ini. Niatnya ingin melepas penat bekerja seharian dengan minum dan mengobrol santai di bar. Namun, niatnya memudar melihat bar yang lebih ramai dari biasanya.
Seseorang yang berjaya diluar mengatakan jika didalam ada pesta. Mereka sudah memesan tempat dari jauh-jauh hari, ditambah adanya kenalan orang dalam. Satrio pun menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya.
Didalam mobil Arkana masih fokus dengan laptopnya, "Gimana? kok balik lagi?" tanyanya.
"Penuh. Terlalu rame didalem sana."
"Bar kan emang rame," ujar Arkana.
"Hari ini lebih rame, ada pesta katanya."
Meskipun begitu, Arkana masih enggan pergi dari sana. Dirinya masih asyik mengerjakan pekerjaannya, "Ga enak ngerjainnya kalo mobil jalan, udah diem sini dulu aja."
Satrio pun pergi keluar untuk membeli minuman. Disaat yang sama Arkana melihat seorang wanita berambut panjang berjalan keluar dari bar seraya mengikat rambutnya dengan gaya cepol. Senyuman muncul dari wajah Arkana. Karena ia tahu betul siapa wanita itu.
__ADS_1