Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
42. YAYASAN


__ADS_3

Keduanya kembali kedalam mobil setelah mampir ke makam Kai. Alina kembali terdiam, sama halnya dengan Arkana. Arkana tidak menyadari keluarga Kai akan sesedih dan melakukan hal ini setelah menghilangnya keluarga mereka.


Sedangkan dirinya hanya memutuskan untuk kabur dan pergi menjauh. Sejak saat ini Arkana berjanji pada dirinya sendiri bahkan kepada Alina kalau ia akan menemukan Kai bagaimana pun caranya. Bahkan meski harus berhadapan langsung dengan ayahnya.


Tapi didalam hatinya Arkana sendiri tidak ingin jika firasatnya itu menjadi kenyataan. Arkana merasa jika semua ini saling berkaitan. Hilangnya Kai secara mendadak setelah berhasil ditangkap oleh segerombolan orang. Hingga pendonor yang tiba-tiba muncul setelah dirinya tidak bisa menjadi donor bagi Baskara.


Jujur Arkana masih berat menceritakan firasatnya ini kepada Alina. Sampai ia berhasil menemukan beberapa petunjuk lagi, disana lah ia bisa menceritakannya ke Alina. Namun, bukan saat ini.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Arkana kepada Alina yang masih diam saja.


"Oh ... sorry, Mas Arkana hari ini ga ke kantor emang?" tanya Alina.


"Engga, hari ini ternyata tanggal merah."


"Saya ga se rajin itu." lanjutnya.


Alina sedikit tertawa mendengar jawaban tidak terduga dari Arkana. Dirinya sendiri pun juga tidak menyadari kalau hari itu tanggal merah. Semua hari terlihat sama setelah Alina berada di rumah keluarga Miller. Yang membedakan yaitu hari dimana Tuan Miller pulang dan tidak ada dirumah.


"Mau ke acara yayasan Bu Rose?" tanya Alina, mengingat awalnya Alina diajak oleh Bu Rose untuk kesana.


"Saya anter aja ... saya ga ikut kedalam," ucap Arkana.


"Kenapa?"


"Males. Banyak orang."


Karena tidak ada tujuan lain, Alina pun memutuskan pergi ke acara yayasan yang diadakan Bu Rose dan teman-temannya. Arkana kemudian menyalakan mobilnya dan pergi menuju tempat acara.


"Terus kalo engga ikut, Mas Arkana mau kemana?"


"Jalan-jalan lah." Raut wajah Alina berubah cemberut.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arkana setelah melihat wajah cemberut Alina.


"Gapapa ... udah nyetir aja liat kedepan."


Sesampainya di tempat acara, benar saja Arkana hanya menurunkan Alina lalu pergi. "Tau ah ... enak banget jalan-jalan sendiri aku ga diajak." Alina kemudian masuk kedalam dan mencari Bu Rose. Setelah kebingungan beberapa saat, Rose yang pertama menyadari kehadiran Alina disana lalu menghampirinya.


Rose sangat senang Alina akhirnya bisa datang. Acara hari ini lebih ramai dari biasanya, hampir saja Rose tidak mengenali Alina di kerumunan orang ini. Dengan raut wajah bahagia Rose mengajak Alina berkeliling dan bertemu beberapa temannya.


Sepertinya Alina sudah dianggap anak sendiri oleh Bu Rose. Melihat bagaimana Rose sangat perhatian kepada Alina. Kepribadiannya yang menyenangkan namun tetap sopan kepada orang yang lebih tua, tentu membuat Alina mudah disukai oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan Arkana sekali pun.


Rose kemudian mengenakan acara ini diadakan tepat di tanggal lahir seseorang yang mencetuskan yayasan ini. Mendengar itu Alina tiba-tiba mengingat kalau hari itu juga hari kelahiran Kai, kakaknya. Sungguh sebuah kebetulan, mungkin ini yang ada dalam pikiran Alina.


Acara berlangsung cukup ramai. Banyak kerabat dan tamu-tamu lain yang datang, termasuk para pemberi donasi. Alina kemudian keluar sebentar untuk menghirup udara segar.


Berjalan-jalan disekitar, Alina melihat mobil Arkana terparkir disana. Melihat kesekeliling, Alina tidak menemukan Arkana dimana-mana. Tetapi kenapa mobilnya ada disana?


Alina kemudian mendekati mobil itu, dan ternyata mesinnya menyala. "Ada orang kah didalam," gumam Alina berjalan mendekatkan wajahnya ke kaca mobil. Ternyata didalamnya ada Arkana sedang tertidur. Alina yang tidak menyadari Arkana tertidur kemudian panik dan mengetuk kaca mobil dengan agresif.


Arkana yang kaget dengan suara ketukan di kaca mobilnya akhirnya terbangun. Ia pun ikut kaget karena yang melakukan itu adalah Alina.


Arkana kemudian menurunkan kaca mobilnya. Dengan wajah panik, Alina memegang wajah Arkana dan melihat dengan jelas keseluruhan detail wajahnya. "Gapapa?" tanya Alina. Pertanyaan itu yang pertama muncul dari mulut seorang Alina.


"Gapapa ... apa sih, kenapa emang?" tanya Arkana benar-benar bingung melihat Alina yang seperti ini.


"Aku takut kayak waktu lagi tau ga ... " ucap Alina masih trauma saat ia menemukan Arkana tidak sadarkan diri di mobilnya.


"Ya ampun, saya ngantuk jadi tidur dulu bentar disini ... malah panik sendiri."


"Acaranya udah beres?" tanya Arkana.


Alina hanya menggelengkan kepalanya, menandakan acaranya masih berjalan. Alina masih mengontrol emosinya yang mendadak panik tadi. Arkana kemudian turun dari mobilnya dan menertawai Alina. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang mengenalnya.

__ADS_1


"Alina?" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka.


"Alina bukan?" Seseorang itu melihat Alina dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Siapa ... "


"Ini Om Bakti, temen Mama mu."


Alina benar-benar tidak ingat dengan seseorang didepannya yang mengaku sebagai teman ibunya. Ibunya tidak punya banyak teman yang pernah dikenalkannya kepada mereka. Mungkin dari salah satu yang pernah dikenakan ada Om Bakti didalamnya.


Meskipun masih kurang yakin, Alina pun menanyakan kenapa ia ada disana, "Om ada apa disini?"


"Loh ... Om dapet undangan dari yayasan, kakak kamu dateng juga kan?" tanya Om Bakti.


"Om juga kenal Kak Kai?"


"Eh gimana sih, dia ga pernah cerita apa? Om Bakti yang kenalin Kai kesini."


Alina kaget mendengar apa yang dikatakan Om Bakti. Tidak hanya Alina, Arkana pun sangat kaget. Terutama setelah tahu Kai ada hubungannya dengan yayasan ini. Apa mungkin Kai mengenal ibunya?


Setelah mengatakan itu Om Bakti sempat mengajak Alina ikut masuk bersama. Tetapi, Alina menolaknya dan berkata akan menyusulnya nanti. Disana terlihat kalau Om Bakti tidak mengenal Arkana yang jelas berdiri disamping Alina.


Yayasan itu memang tidak dibangun seorang diri oleh Rose. Ada beberapa temannya yang ikut membantunya. Mungkin salah satunya adalah Om Bakti. Dan mungkin bisa jadi ada nama Kai didalam proses pembuatan yayasan itu.


Alina terdiam. Hanya berdiri ditempat yang sama dan tidak melakukan apa-apa. Sulit rasanya mencerna semua ini. Alina semakin merasa tidak mengenal kakaknya. Kakaknya terasa asing baginya sekarang.


Terlebih lagi setelah Om Bakti bahkan tidak tahu kalau Kai sudah menghilang lama, bahkan beberapa tahun. Apa mungkin jika orang-orang di yayasan yang mengenal Kai juga tidak tahu kalau Kai hilang? Lalu Bu Rose, apakah dia juga mengenal Kai?


Alina tiba-tiba menatap Arkana. "Kak Arkana yakin gatau apa-apa soal ini?" tanyanya serius. Arkana hanya meresponnya dengan gelengan kepala. Jujur Arkana pun tidak tahu sama sekali tentang ini. Mungkin karena sejak awal dia tidak begitu tertarik dengan urusan yayasan ibunya.


Selain itu, Arkana memang tinggal cukup lama jauh dari keluarganya. Banyak hal yang terasa asing juga baginya. "Ternyata banyak hal yang kita gatau, Al." Alina kini bingung harus memulai ini dari mana.

__ADS_1


__ADS_2