Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
29. TAMU TIDAK DIUNDANG


__ADS_3

Alina menghampiri Bi Iyah dan pelayan yang lain menyiapkan makan malam. Sesekali ia melihat ke arah meja makan. Disana ada Tuan Miller yang sedang asik mengobrol dengan asistennya.


"Balik tegang lagi ya Bi Iyah," ucap Alina sedikit berbisik.


"Iya ... kamu berani bawain makanan kesana ga?" tanya Bi Iyah, menggoda Alina.


"Mana berani ah, aku nunggu disini aja."


Sedangkan dikamar Arkana, Rose sedang duduk diatas kasur anaknya. Sejak pulang tadi, Rose sama sekali tidak pergi dari samping Arkana. Mendengar cerita dari Bi Iyah tentang bagaimana kejadian saat itu membuat Rose tidak mau jauh dari Arkana.


"Udah dong Ma," ucap Arkana pelan.


"Engga ... Mama mau bareng kamu terus sampe kamu sembuh."


"Ini udah sembuh kok Ma." Arkana meyakinkan Rose.


Rose tiba-tiba membahas Arkana yang sebenarnya melindungi Alina. Jika saja tidak dihalangi, hasilnya akan lebih berbahaya lagi ke Alina. Tidak biasanya Arkana melakukan hal itu kepada orang asing. Alina hanya orang yang baru dikenalinya.


Kemudian terdengar suara ketukan pintu, yang dibuka ternyata salah satu asisten Rose memberitahu makan malam sudah siap. Arkana dan Rose pun turun menuju ruang makan.


Arkana duduk ditempat biasanya, yaitu disamping ibunya. Tuan Miller melihat Arkana yang masih sedikit pucat, "Udah gapapa kamu?" tanya ayahnya. Arkana yang cukup kaget melirik ke arah Baskara.


"Gapapa Pa."


"Lain kali kalau Baskara seperti itu lagi, biarkan saja." Tuan Miller mengatakan itu tanpa melihat ke arah Arkana.


"Ga usah kamu ikut-ikutan ... celaka lagi nanti." lanjutnya.


Rose hanya tersenyum melihat suaminya mengatakan hal itu kepada Arkana. Biasanya ia akan selalu memihak kepada Baskara. Mungkin kali ini Baskara melakukan kesalahan besar yang membuatnya kecewa, sehingga untuk kali ini tidak ada pembelaan.


Makan malam pun berakhir dengan tenang. Tidak seperti yang Alina bayangkan. Awalnya Alina membayangkan jika Tuan Miller akan marah besar kepada Arkana. Namun, sebaliknya Tuan Miller menasihati Arkana agar tidak ikut campur urusan kakaknya jika tidak ingin celaka lagi.

__ADS_1


Setelah sempat gagal, pagi ini Alina sudah pamit kepada Bu Rose untuk pergi ke kampus. Alina sedang  berdiri didepan menunggu ojek online yang telah dipesannya. Alina diberitahu oleh salah satu pelayan Bu Rose bagaimana cara memesan ojek online dari rumah ini.


Ternyata mereka semua punya seorang ojek online yang telah menjadi langganan mereka saat ada keperluan ke kota. Alina pun hari ini berniat menggunakan jasa ojek itu. Tidak lama terdengar suara klakson dari belakang. Hampir saja Alina marah dan berkata tidak baik, tetapi terhenti saat melihat orang yang ada didalamnya.


Membukakan jendelanya Arkana mengajak Alina pergi bersamanya, karena kebetulan hari ini ia ada jadwal bertemu Dokter Indra.


"Masuk, Al."


"Mas Arkana? udah bisa nyetir sendiri emang?" ucap Alina meragukan keadaan Arkana.


"Ngeremehin saya? udah cepet naik."


Karena kebetulan ojek online pesanannya tidak kunjung datang apalagi memberikan kabar, Alina pun memutuskan ikut mobil Arkana. Arkana pun menancap gas mobilnya menuju kampus Alina.


Keduanya tidak saling berbicara sepanjang perjalanan. Didalam mobil hanya terdengar suara radio mengabarkan keadaan jalanan ibukota pagi ini. Sesekali Alina mengecek ponselnya untuk menghilangkan rasa canggungnya. Sedangkan Arkana hanya fokus menyetir.


Akhirnya mereka sampai didepan kampus Alina. Sebelum turun ada hal yang perlu Alina katakan pada Arkana. "Makasih lagi udah selametin aku, meskipun udah pernah ngomong sebelumnya." kata-katanya terhenti. Alina tiba-tiba membayangkan jika yang menyeamatkannya itu Kai, kakaknya.


Alina kaget dan tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari seseorang bernama Arkana Benjamin Miller. Isi pikiran Arkana memang tidak bisa ditebak, bahkan oleh ibunya sendiri. Sama seperti hari ini, Arkana mulanya meminta izin Rose untuk ke Dokter Indra tetapi ia berbohong dan pergi ke kantor.


Arkana pun sampai didepan loby perusahaannya. Disambut oleh Satrio yang sudah menunggu didepan dengan cemas setelah mengetahui apa yang menimpa sahabatnya itu. Selain Satrio ada pula beberapa karyawannya yang lain menunggu Arkana disana.


"Selamat pagi, Pak."


Satrio menghampiri Arkana dan membisikan sesuatu, "Izinnya kemana lo nih sama orang rumah?" Satrio sudah tahu betul kecerdikan Arkana.


"Izin ke Dokter Indra." Satrio langsung sedikit tertawa.


Bersama dengan Satrio dan beberapa staffnya, Arkana pagi ini akan mengadakan rapat terkait kerjasama baru dengan pemerintah Banjarmasin. Beberapa hari sempat tidak ada di kantor, Arkana juga siap mendengar laporan dari staffnya.


Di paviliun nya Rose mencoba berbicara empat mata dengan Baskara terutama mengenai kejadian kemarin, apa sebenarnya yang membuat Baskara semarah itu. Baskara berkata ia hanya ingin menikmati hidupnya kali ini. Setelah menghabiskan banyak masa kecilnya dirumah sakit.

__ADS_1


Ternyata terlalu protektif terhadap anak justru membuat anak itu terasa terkurung. Rasa sayang Tuan Miller yang berlebihan, menjadikan Baskara merasa terkurung. Baskara yang melihat masa-masa membangkang Arkana sebagai bentuk kebebasan.


"Mama cuma gamau kamu melukai diri kamu sendiri, Bas."


"Kamu tahu kan, sekarang kamu harus banyak bersyukur dengan yang kamu dapatkan," lanjut Rose menasihati anak sulungnya.


Saat itu Baskara melihat keadaan Arkana yang berada di kamar sebelahnya. Keadaannya babak belur dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Tidak lama setelah Tuan Miller marah besar disana, Baskara datang menghampiri adiknya itu.


Arkana tidak bergeming saat Baskara datang menghampirinya. Hanya ada seseorang yang berada dipikirkannya sekarang. Arkana kemudian melihat kedatangan Baskara, "Kai mana Bas?" tanyanya. Saat itu Baskara juga tidak tahu keberadaan Kai.


"Lo habis tawuran dimana Arkana?" tanya Baskara, duduk disamping kasur Arkana.


"Gue ga tawuran, keadaannya tiba-tiba rumit ... kita kepisah."


"Bas ... kata dokter gue gabisa kasih hatinya ke lo," ucap Arkana pelan, merasa bersalah dengan tindakannya.


Papa udah dapet gantinya Ar. Sekarang lo udah ga perlu berkorban buat gue lagi. 


Di kampus Alina bertemu dengan Tari. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Hari ini Alina diberi waktu libur seharian oleh Rose, sebagai tanda terima kasih nya sudah merawat Arkana. Karena itu Alina ingin mengobrol banyak dengan Tari di bar biasa.


Alina berhasil melewati waktu bimbingannya dengan lancar berkat foto di klinik kemarin. Untung saja dosennya itu sudah tidak membahas lagi tentang itu. Sehingga Alina tidak perlu berbohong lagi.


Tari sudah menunggu Alina didalam mobilnya. Alina berencana akan mampir kerumah sebentar lalu menuju bar. Ia harus mengecek persediaan makanan yang telah Alina siapkan sebelum ia kembali ke rumah keluarga Miller.


Alangkah kagetnya Alina melihat seorang wanita didepan rumahnya. Saat ia membalikkan tubuhnya ternyata itu ibunya Alina. Datang seorang diri dengan penampilan glamor.


"Alin ... udah lama ya ga ketemu, ayah biasanya pulang jam berapa?"


Alina tidak menjawab pertanyaan ibunya, melainkan menatap wajah ibunya tajam. Ada raut kebencian pada Alina terhadap ibunya itu.


"Ngapain anda kesini?" tegas Alina.

__ADS_1


__ADS_2