
Alina akhirnya berhasil diterima dan bisa memulai bekerja besok pagi. Alina keluar dari sekolah dengan perasaan bahagia. Tidak lupa ia mengabari Tari dan ayahnya mengenai kabar ini. Alina lalu melihat ke arah langit dan berterima kasih kepada kakaknya.
Alina merasa jika kakaknya yang membawanya ke sekolah ini, sekolah tempat Kai dulu bersekolah. Sampai saat ini masih ada yang mengganggu nya. Tempat dimana Kai di makamkan, Alina masih belum mengetahui hal itu. Arkana tidak memberitahunya.
Sementara di ruangannya, Arkana sedang sibuk bersama Satrio memperhatikan setiap video rekaman yang diberikan supir truk pengirim barang. Karena mereka tidak tahu kapan waktu yang tepat terjadinya kejadian itu, mereka harus melihat setiap jam menit dan detiknya.
Arkana dan Satrio sampai harus membagi dua file video itu agar mereka bisa lebih cepat menemukannya. Setelah beberapa saat, Arkana berhasil mendapat waktu yang tepat saat Pak Adi melewati kamera dashboard truk pengirim.
Tinggal menunggu waktu saat mobil yang menabraknya muncul. Ternyata benar, tidak butuh waktu lama sebuah mobil sedan muncul dengan mencurigakan. Mulanya ia berjalan dengan cukup lambat namun bisa terdengar menancap gas nya setelah itu.
Satrio pun mengambil video saat kejadian itu terjadi dan mengirimkannya kepada salah satu anak buahnya yang ahli dibidang IT untuk mengetahui plat nomor mobil itu. Arkana sangat berharap jika mobil itu bukan salah satu dari orang-orang ayahnya.
Karena memang jika ia, masalahnya akan semakin rumit. Saat ini saja Arkana masih belum berani bertemu langsung dengan Alina dan meminta maaf secara formal dengannya. Terakhir kali mereka bertemu yauti di UGD rumah sakit, dan berakhir dengan sangat buruk.
Arkana tidak mau kenangan Alina terhadapnya hanyalah hal buruk mengingat begitulah momen terakhir mereka bertemu. Kini mereka hanya tinggal menunggu kabar selanjutnya mengenai plat nomor serta identitas pengguna mobil itu.
Meskipun sebenarnya ada kemungkinan mobil itu sengaja dicuri oleh pelaku, sehingga identitasnya yang asli tidak bisa dilacak. Tetapi Arkana yakin terhadap kemampuan orang-orangnya. Mereka tidak akan bisa semudah itu untuk ditipu.
Alina dan Tari janjian untuk saling bertemu di bar langganan mereka. Alina sudah tidak sabar menceritakan pengalamannya interview tadi. Tari sudah berjanji kepada Arkana bahwa ia tidak Akan memberitahu Arkana jika mereka sering berbagi kabar satu sama lain.
Beberapa rekan kerja Alina di bar rata-rata lebih tua darinya. Namun karena sebelumnya Alina sudah sering kesana dan mengenal hampir semua karyawan disana, Alina sudah kenal dan terbiasa dengan mereka semua. Bahkan ada satu orang yang Alina minta tolong, jika ada Arkana harus langsung memberitahunya.
Alina sangat menghindari Arkana saat ini. Ia masih belum yakin betul dengan perasaannya. Masih ada rasa sakit hati yang tersisa, meskipun Alina sendiri menyadari jika Arkana tidak bersalah atas ini semua. Masalah utamanya ada di ayahnya.
__ADS_1
Namun tetap saja, melihat wajah Arkana bisa mengingatkannya kepada semua momen indah mereka bersama. Alina merasa jika ia tidak boleh seperti itu, sementara Kai saat itu menderita seorang diri. Karena itu ia akan sebisa mungkin menghindari Arkana.
"Al, lo sekarang gimana kabarnya?"
"Maksud lo, Tari? aneh banget," ucap Alina heran dengan ucapan sahabatnya.
"Engga maksud gue, lo kok tiba-tiba nyibukin diri banget gitu sih?"
"Gue bukan sekedar nyibukin diri Tar, gue kan cari uang ... dari Dulu juga gitu," jelas Alina.
Alina tidak bisa mengatakan maksud sebenarnya kepada Tari, karena ini berhubungan dengan kakaknya. Tari juga harus berhati-hati saat berbicara dengan Alina, jangan sampai dirinya keceplosan mengatakan ia dan Arkana sering bertemu.
" Ngomong-ngomong makasih ya Tar, berkat ayah kamu aku berhasil masuk di sekolah itu sebagai tenaga konseling."
Tari turut senang sahabatnya itu berhasil masuk di sekolah itu. Terlalu senang hingga Tari berinisiatif mengajak Alina menari bersamanya. Tari bahagia karena kini Alina tidak perlu berhubungan lagi dengan keluarga Miller. Tetapi di sisi yang lain Tari menyayangkan hubungan Alina dan Arkana.
"Jadi hubungan kamu sama Mas Arkana gimana Ar?"
"Karena emang ga ada apa-apa, ya sebenernya ga masalah sih untuk saling berjauhan dan memiliki waktu sendiri-sendiri." jela Alina.
Keesokan paginya saat Alina sedang menunggu bis menuju sekolah di halte bis dekat rumahnya, ada Arkana yang memperhatikannya dari kejauhan. Sama seperti kemaren, Arkana ingin memastikan Alina aman di tempat tujuannya.
Arkana dengan setia mengikuti bis yang ditumpangi Alina. Saat bis itu berhenti, Arkana pun ikut berhenti. Sebisa mungkin mengikuti secara natural dan tidak dicurigai siapapun. Sekaligus Arkana juga ingin tahu apa Alina benar diterima disana atau tidak.
__ADS_1
Bis yang Alina naiki ternyata turun di halte depan sekolahnya. Dari sana Arkana bisa menyimpulkan bahwa Alina diterima bekerja disana. Melihat itu Arkana senyuman lebar terpancar dari wajahnya. Ia sangat bangga terhadap Alina.
Saat itu Satrio tiba-tiba menelepon nya. Ia ingin memberitahu tentang hasil video kemarin, jadi Satrio meminta Arkana segera datang ke kantor. Arkana pun pergi meninggalkan sekolah itu menuju kantor.
Satrio sudah mendapatkan hasil dari pelacakan plat nomor kemarin beserta identitas pemiliknya. Bisa dipastikan orang ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Miller. Orang ini merupakan seseorang yang marah dan tidak terima atas pemberitaan yang dibuat kantor berita ayahnya Alina.
Mereka memiliki bukti kuat tentang itu dan akan segera menyerahkannya kepada polisi. Semoga pelakunya bisa segera ditangkap. Hal yang membuat mereka yakin pelaku itu bukan suruhan Tuan Miller, karena ada pola dan ciri yang khas dari orang-orang Tuan Miller.
Kini Arkana bisa lega, karena pelaku penabrak ayahnya Alina bukan dari keluarganya melainkan orang lain. Dirinya tidak seperti yang dituduhkan Mirna kepadanya. Arkana tidak perlu memberi penjelasan lewat kata-kata, ia hanya perlu membuktikannya lewat aksinya.
Sementara di sekolah Alina diantar salah satu rekan kerjanya di bagian konseling untuk berkeliling sekolah. Selama berkeliling yang ada dikepala Alina membayangkan kehadiran Kai disetiap sudut sekolah. Lapangan basket tempat Kai bermain dulu.
Bahkan kelas-kelas yang Alina bayangkan tempat Kai belajar. Tiba di ruangan konseling, disana ada papan struktur organisasi beberapa kedua OSIS hingga ketua ekstrakulikuler dari angkatan lama hingga terbaru.
Tertulis disana nama Satrio sebagai ketua OSIS dan Arkana sebagai ketua tim basket. Namun ada hal yang membuat Alina bingung, "Ini tapi kok ga semua angkatan ya?" tanyanya.
"Oh iya, ini cuma ketua-ketua berprestasi di angkatannya."
"Pantes aja LifeCare bisa sukses kayak gitu, posisi atasnya diisi sama ketua OSIS sma ketua tim basket berprestasi," gumam Alina seorang diri.
"Hah, gimana Al?"
"Engga kok, ga apa-apa."
__ADS_1
Kerja disini mau ga mau harus menerima konsekuensi setiap harinya harus melihat nama Arkana Benjamin Miller terpampang didepan mata.