
Ketegangan terasa jelas diantara keduanya. Tepat saat itu Arkana harus pergi menyambut para anak tidak mampu dan yatim piatu yang sudah hadir. Arkana lalu pergi meninggalkan Tuan Miller yang jelas terlihat sangat marah.
Rose melihat suaminya akan pergi dari sana, kemudian mendekatinya. Rose memberitahu suaminya itu kalau acara belum selesai.
"Tidak perlu sampai selesai. Bilang Baskara dia juga harus pulang, bukannya urusannya sudah selesai."
"Tapi Arkana nanti ... "
"Saya bilang pulang."
Rose tersentak dengan suaminya yang tiba-tiba marah. Rose merasa ada sesuatu yang terjadi antara suaminya dan Arkana. Karena ia sempat melihat mereka berbicara bersama. Tidak mau suaminya lebih marah lagi, Rose kemudian meminta asistennya untuk mencari Baskara dan menyuruhnya pulang jika urusannya sudah selesai.
Sedangkan Rose tidak berniat pulang, dan akan mampir ke apartemen Arkana hari ini. Ia tidak peduli jika suaminya memarahinya karena tidak mendengar perkataannya. Rose kemudian membantu yang lain untuk menertibkan anak-anak.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh pak ustadz yang datang atas undangan Arkana secara langsung. Sebelumnya Arka menitipkan juga sebuah doa untuk temannya. Teman yang sampai sekarang entah dimana keberadaannya.
Tidak terasa semua rangkaian acara hari ini berhasil berjalan dengan baik. Arkana mengucapkan terima kasih kepada semua staff yang sudah bekerja dengan baik demi lancarnya acara ini. "Setelah ini saya traktir kalian semua makan malam."
Saat semua staff nya tengah sibuk membereskan sisa acara, Arkana menemui ibunya yang sedari tadi menunggunya di mini cafe didalam kantornya. Tidak ditemani asistennya, seorang diri Rose dengan sabar menunggu anak bungsunya itu.
"Maaf lama ya, Ma."
Rose menyambut anaknya dengan raut wajah berseri bahagia, "Gapapa, ayo udah selesai kan?"
"Aku ambil tas ke ruangan terus jemput Mama didepan loby ya," ucap Arkana segera pergi ke ruangannya tidak mau ibunya menunggu lebih lama.
Mereka berencana makan malam romantis berdua di apartemen Arkana. Rose akan memasak semua makanan kesukaan Arkana. Sudah lama sekali ia tidak memasak untuk anaknya. Dahulu saat kecil Arkana adalah anak yang pemilih kalau soal makanan.
Karena itu ibunya lah yang selalu turun tangan sendiri memasak untuk Arkana. Sejak Arka lama tinggal jauh dari keluarganya, Rose merindukan saat-saat itu. Malam ini menjadi saat yang paling ditunggu Rose, sebab itu ia rela menunggu lama Arka menyelesaikan acaranya.
__ADS_1
Sampai di apartemen Arkana, ibunya cukup takjub melihat keadaan apartemennya yang sangat rapi. Padahal Arka hampir tidak punya banyak waktu luang. Disini sangat terlihat bagaimana Arka jarang sekali melakukan banyak hal di apartemennya.
"Rapi banget apartemen kamu Ar," ucap Rose takjub.
"Itu aku ga pernah ngapa-ngapain aja," jawab Arka dari dalam kamarnya.
Ibunya pun memulai memasak dengan mengeluarkan belanjaan yang sengaja mereka beli sebelum sampai kesini. Arka dan Rose bahkan menikmati waktu berbelanja bersama. Sudah sekian lama Rose tidak merasakan memiliki anak bungsu.
Arkana sibuk mengerjakan pekerjaannya di sofa, sedangkan Rose sibuk memasak. Bahkan sudah dirumah saja Arkana masih terjebak didepan laptopnya. "Tadi papa nyuruh aku pulang, Ma."
Rose kaget tidak menyangka suaminya akan mengabulkan permintaannya, "Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang mau tetep disini."
"Kok gitu?" Rose langsung meletakkan alat masaknya.
"Aku lebih nyaman disini, Ma."
Rose cemberut tidak terima dengan jawaban anaknya. Padahal Rose sangat berharap Arka akan kembali pulang. Harus sampai kapan lagi ia harus hidup berjauhan dari anaknya. Sudah cukup masa-masa Arkana pergi meninggalkan rumah. Rose merasa ini saatnya ia bisa lebih mendekatkan diri dengan keluarganya.
Sedangkan Alina dirumahnya juga tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk ayahnya. Alina ingin memasak untuk ayahnya mumpung ada dirumah. Melihat ke ponselnya, tumben sekali ayahnya pulang terlambat. Seharusnya sekarang ia sudah ada dirumah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Alina pun buru-buru mengangkatnya, sepertinya berasal dari seseorang yang sudah ditunggu kabarnya. Melihat bagaimana Alina berlari menuju kamarnya, padahal tidak ada orang dirumah.
"Halo ... gimana?" tanya Alina kepada seseorang dari balik telepon.
"Ternyata sudah benar dugaan kita yang pertama, itu Baskara ... bukan Arkana."
Alina langsung menutup teleponnya setelah mendengar hal itu. Duduk di meja belajarnya, Alina kembali memandang foto keluarganya. Kini tatapan matanya berubah menjadi serius.
__ADS_1
Sementara Arkana sudah duduk di meja makan tidak sabar dengan hasil masakan ibunya. Rose menyajikan satu persatu masakannya yang merupakan kesukaan Arkana. Ia memasukkan banyak daging sapi dan sayur mayur hijau disana.
Rose sangat tahu jika Arkana sering mengalami anemia. Hal ini sudah sering terjadi sejak Arkana kecil. Karena itu Rose selalu memastikan masakannya baik dimakan oleh Arkana.
"Selamat makan."
"Iya, selamat makan ya ... tuh cobain yang itu juga," ucap Rose berusaha membuat Arka memakan semua masakannya.
"Satu-satu, Ma."
Setelah makan malam keduanya mengobrol sembari menonton tv. Sebenarnya ada sesuatu yang selalu saja ingin Arka tanyakan kepada ibunya. Pertanyaan yang cukup sering ia tanyakan kepada sang ayah, dan hanya dijawab dengan amarah.
"Ma ... aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Ar?" Rose mengarahkan tubuhnya menghadap Arkana sepenuhnya.
"Tentang Bas ... siapa yang kasih hatinya buat dia?" tanya Arkana serius. Tiba-tiba udara disekitarnya terasa berat.
Rose terdiam dan hanya bisa menatap Arkana dalam. Didalam pikirannya Rose sedang menyusun jawaban yang tepat, "Kok kamu tiba-tiba nanya gitu, Ar?" tanya Rose.
"Ini sebenernya pertanyaan yang udah lama pengen aku tanyain ke Mama."
"Aku ga pernah dapet jawabannya kalo tanya Papa," lanjutnya.
Ada sesuatu yang harus dirahasiakan dibalik proses donor organ Baskara. Baskara yang sejak kecil sakit parah, tiba-tiba membutuhkan donor hati saat ia menginjak umur 19 tahun. Umur yang keluarganya pikir sudah aman dan tidak memerlukan donor lagi.
Sayangnya kondisi Baskara yang semakin drop membuat semua orang panik dan tidak menyangka, termasuk Arkana yang masih 17 tahun saat itu. Arkana yang sedang berada di saat nakalnya anak remaja lagi-lagi dihadapkan pada sebuah kondisi ini lagi.
Baskara selalu mengandalkan Arkana saat kondisinya menurun. Karena banyak pengobatannya yang memerlukan saudara kandung untuk mendonorkan sesuatu padanya. Yang paling sering yaitu donor sel darah putih, cukup sering hingga membuat bekas luka yang tidak bisa hilang di lengan Arkana.
__ADS_1
Mendengar kondisi Baskara yang terus drop, rasanya seperti semua mata tertuju padanya. Arkana kemudian sempat dengan sengaja merusak tubuhnya sendiri. Arka yang selama ini diam dan menerima saja, akhirnya memberontak.
Sampai hal ini diketahui oleh Tuan Miller dan membuatnya marah besar. Sejak saat itu Tuan Miller tidak bisa lunak pada Arka, bahkan jika harus dengan paksaan ayahnya akan memaksa Arkana untuk mendonorkan organnya untuk Baskara.