Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
53. BAR MIRNA


__ADS_3

Alina kini bisa bernafas lega, mobil Arkana akhirnya sampai di depan halte bis dimana Alina akan turun dan lanjut menggunakan bis menuju rumahnya. "Masih sempet dapet bis nya kan?" tanya Arkana.


"Bis sih banyak ... nyawa kita yang ga banyak Mas."


"Yaudah deh, makasih ya udah anterin sampe sini ... hati-hati dijalan," lanjut Alina berpamitan dengan Arkana.


Sesaat setelah Alina turun, Arkana kembali menancap gas mobilnya menuju kantor. Alina yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Belum pernah sebelumnya Alina menaiki mobil yang ugal-ugalan seperti itu. Arkana memang menyetir dengan hati-hati, tetapi kecepatannya tidak bisa ditoleransi Alina.


"Dia yang cari masalah makanya telat ... ini malah mau bikin masalah dijalanan nyetirnya ngebut begitu," gumam Alina seorang diri sembari memilih tempat duduk yang nyaman menunggu bisanya datang.


Arkana akhirnya berhasil sampai di kantor tepat waktu. Bangga dengan yang telah dilakukannya, Arkana dengan tidak biasa berjalan menuju ruangannya sambil menyapa beberapa karyawannya. Dibalik tidak biasanya perilaku Arkana, ada sepasang mata yang siap meledeknya begitu sampai di ruangan.


Diam-diam Satrio mengikuti Arkana sampai ke ruangannya. Arkana sampai kaget karena ada Satrio dibelakangnya, "Ngapain lo." Arkana berjalan menuju meja nya meninggalkan Satrio yang masih berdiri didepan pintu.


"Lo kenapa sih, pagi-pagi salah makan lo tiba-tiba nyapa orang kantor."


"Udah lama ga kebut-kebutan pake mobil," tutur Arkana yang langsung dicurigai Satrio.


"Telat berangkat kan lo?"


"Udah gausah dibahas ... hari ini jadwal gue gimana?" tanya Arkana serius.


Sementara di bis Alina asik memilih lagu yang akan diputarnya selama perjalanan pulang. Tiba-tiba ia melihat Mirna berjalan seorang diri. Alina kemudian berinisiatif untuk menemui ibunya dan bertanya soal Pak Agus. Bagaimana pun, kartu nama Pak Agus pertama mereka temukan dirumahnya.


Alina pun turun dari bis dan diam-diam mengikuti sang ibu dari belakang. Penampilannya tidak seperti biasanya yang glamor dan memakai perhiasan apa saja yang bisa dia pakai. Kali ini Mirna tampil biasa saja dan berjalan menuju suatu tempat.


Setelah beberapa saat mengikuti Mirna, ternyata tujuannya yaitu sebuah bar yang masih tutup. Mirna berjalan menuju pintu samping dan masuk dari sana. Alina kemudian menduga jangan-jangan ibunya bekerja disini.


Rasanya tidak mungkin Alina menemui ibunya sekarang. Alina pun berniat menemui Mirna malam nanti. Untuk sekarang Alina akan pulang kerumahnya dan kembali lagi kesana. "Maleman aja deh kesini lagi," ucapnya.

__ADS_1


Awalnya Alina ingin mengajak Tari pergi bersamanya. Namun, seperti yang dikatakan Arkana jangan ada orang lain lagi yang tahu tentang ini. Akan berbahaya jika orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali harus ada didalam masalah ini.


Sebenarnya sejak kemarin Tari cukup mengkhawatirkan Alina. Tidak seperti biasanya, kini Alina lebih tertutup dan memilih apa saja yang ia ceritakan kepada Tari. Alina melakukan itu karena tidak mau Tari ikut didalam masalah ini.


John Miller bukan orang biasa yang bisa mereka hadapi dengan mudah. Bahkan Arkana sebagai anaknya sendiri pun mengakui itu. Meskipun Arkana dengan percaya diri bisa mengatakan jika dirinya berani dengan resiko apapun melawan ayahnya.


Namun, pasti ada sisi anak yang dilihat John Miller terhadap Arkana. Tidak mungkin seorang ayah akan menyakiti anaknya sendiri. Alina takut ia tidak bisa menjaga Tari jika harus terlibat dalam hal ini. Karena itu sampai saat ini pun Tari tidak tahu apa yang sedang Alina dan Arkana kerjakan.


Sesampainya dirumah, tumben sekali keadaan rumahnya tidak seperti terkena badai topan. Jika keadaannya seperti ini hanya ada dua pilihannya. Ayahnya sama sekali tidak pulang, atau ada seseorang yang membantu ayahnya membersihkan rumah.


Alina menepis jauh-jauh pilihan kedua, ia tidak mau memikirkan kemungkinan Mirna yang membantu ayahnya membersihkan rumah. Jadi untuk sekarang kemungkinannya yaitu ayahnya sama sekali tidak pulang. Tetapi kenapa? sesibuk itukah pekerjaannya?


Karena tidak ada kekacauan yang harus dibersihkannya, Alina pun masuk ke kamarnya untuk berganti baju lebih santai. Sama hal nya dengan di rumah keluarga Miller, dirumah pun tidak banyak yang bisa Alina kerjakan. Saat seperti ini, Alina terkadang merindukan waktunya saat kerja part time dulu.


Sama seperti ayahnya, Alina menganggap rumahnya seperti tempat untuk tidur saja. Karena banyak waktunya ia habiskan diluar rumah. Alina merindukan saat-saat seperti itu. Kini meskipun statusnya bekerja, namun kenyataannya tidak banyak yang dikerjakannya.


Terkadang Alina bingung, Bu Rose sepertinya terlalu banyak uang sehingga rela membayarnya namun tidak memberikan banyak pekerjaan. Alina hanya diberi tanggung jawab menjaga kebun bunga. Kebun bunga yang setiap hari masih diurus sendiri oleh Rose.


Alina memesan ojek online untuk mengantarnya ke bar tempat Mirna bekerja. Alina memberanikan diri pergi kesana seorang diri tanpa diantar Tari ataupun Arkana. Alina sengaja ingin mengajak ibunya mengobrol empat mata.


Alina berhasil masuk ke bar itu dan melihat ke sekeliling. Disana masih belum terlihat adanya Mirna. Tidak mau membuang waktu lebih banyak, Alina pun memberanikan diri bertanya kepada bartender disana.


"Maaf, disini ada yang namanya Mirna ga ya?" tanya Alina berhati-hati.


"Mirna? Kamu untuk apa cari Mirna?" Bartender itu menaruh kecurigaan kepada Alina. Seseorang yang jelas belum pernah dilihatnya.


"Agak canggung ngomong gini, tapi saya anaknya Mirna."


Dengan memperkenalnya dirinya sebagai anaknya Mirna, Alina berharap bartender yang mencurigainya akan percaya padanya. Benar saja, bartender itu langsung menarik Alina masuk untuk bertemu Mirna.

__ADS_1


"Mba Mirna ada yang cari." Bartender didepan tadi membawa Alina bertemu ibunya.


Mirna cukup kaget melihat Alina didepannya. Bagaimana Alina tahu tempat ini, pasti itu yang sekarang ada didalam benak Mirna.


"Eh Alina ... sini duduk."


"Makasih ya, kamu kedepan lagi aja," ucap Mirna kepada bartender tadi.


Alina berjalan mendekati Mirna dan duduk didepannya. Suasana seketika canggung. Keduanya tidak tahu harus membuka pembicaraan dengan apa. Hingga kemudian Alina lah yang memberanikan diri memulai pembicaraan mereka.


"Saya kesini mau menanyakan sesuatu," tutur Alina.


"Tanya apa?"


"Kenal sama orang namanya Agus?" tanya Alina to the point.


"Agus ... udah lama banget ya, tapi pernah tahu sih ... kenapa?" Mirna benar-benar tidak menyimpan apapun di dirinya, ia begitu jujur dengan semua pertanyaan Alina.


Alina sudah menduga Mirna tidak akan menyembunyikan apapun selama hal itu diluar tanggung jawabnya. Melihat bagaimana ia sama sekali tidak mengelak bahwa dirinya tahu Pak Agus. Tandanya kini Mirna sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Agus.


"Tahu dari mana?" tanya Alina lagi.


"Dari kenalan Mama ... kenapa emang?"


"Ada urusan apa sama orang yang namanya Agus ini?" Alina masih terus menginterogasi ibunya.


"Urusan hutang." Mirna berbisik di telinga Alina, "Cuma dia satu-satunya yang mau bantu Mama."


Terakhir Alina mengajukan pertanyaan yang langsung ke tujuan ia kesana, "Agus ini ada hubungannya sama Kak Kai?" Mendengar pertanyaan Alina, Mirna hanya tertawa dan memilih tidak menjawabnya.

__ADS_1


Alina semakin curiga kalau ibunya ini mengetahui sesuatu lebih dari yang ia bicarakan kepadanya. Namun, tiba-tiba Mirna berkata kepada Alina,"Saya sudah ga ada hubungannya sama kakak kamu ... kamu salah kalau cari dia ke saya, hubungan kita udah berakhir lama ... " Mirna memberi isyarat kepada Alina agar segera pergi dari sana.


__ADS_2