Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
57. HUBUNGAN AMBIGU


__ADS_3

Alina dan Rose akhirnya selesai menanam bibit baru di kebun bunga. Kali ini Rose sengaja menanam lebih banyak dan lebih bervariasi. Menurut Rose mengurus kebun ini menjadi salah satu caranya untuk keluar dari bosan di rumahnya sendiri.


Kedua anaknya sudah besar, suaminya yang sibuk dan jarang pulang ke rumah semua itu membuat Rose bosan dan menjadikan kebun bunga ini pelampiasannya. Sejak kehadiran Alina dirumahnya Rose sangat senang karena mendapat teman mengobrol baru.


Rose yang tidak punya anak perempuan bertemu dengan Alina yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu selayaknya anak lain. Rose dan Alina lebih cepat akrab karena hal itu.


"Nanti kalo ada urusan lagi ke rumah penampungan ikut lagi ya Al," ucap Rose.


"Anak-anak juga keliatannya suka sama kamu."


"Boleh Bu, Alina justru seneng banget kalo Bu Rose ajak lagi kesana," tutur Alina.


Di ruangannya Arkana terlihat berpikir dengan serius. Kali ini ia harus berhasil membuat Agus menghubungi anaknya lebih dulu. Selama ini sepertinya Agus yang selalu datang ke rumah penampungan lama hanya berniat memantau saja bukan untuk bertemu.


Karena jika berniat bertemu Agus akan menelepon salah satu anaknya, dan langsung mengetahui jika mereka sudah tidak disana. Agus yang masih mondar-mandir disana sepertinya belum mencoba menghubungi anaknya.


Hal ini menjadi keuntungan untuk pihak Arkana, karena bisa memberikan mereka waktu untuk berpikir tentang rencana selanjutnya. Apa yang harus Arkana lakukan untuk membuat Agus menghubungi anaknya?


Tidak lama Arkana pun meminta Satrio datang ke ruangannya. Arkana sepertinya sudah mendapatkan ide tentang bagaimana memancing Agus menghubungi anaknya.


"Jadi gimana caranya?" tanya Satrio sesaat setelah ia masuk ke ruangan Arkana.


"Kita harus membuat Agus mancari anaknya."


"Iya caranya?"


"Kita buat skenario terjadi sesuatu di rumah penampungan lama," tutur Arkana.


Satrio mulai berpikir hal apa yang bisa membuat Agus panik dan menghubungi anak-anaknya. "Gimana kalo kita bikin ada penculikan atau perampokan di rumah penampungan," ucap Satrio.


"Buat seseorang seolah panik didepan rumah penampungan saat Agus ada disana ... harus meyakinkan sampai Agus akan bertanya dengan sendirinya kepada orang itu tentang apa yang terjadi." Arkana melengkapi skenario rencana mereka.


"Sebelumnya kita perlu buat kesepakatan sama seseorang disana, Ar."

__ADS_1


"Gampang."


Kini skenario rencana sudah berhasil Arkana dan Satrio buat. Beberapa hal yang dibutuhkan untuk melengkapi nya juga sedang dilakukan. Arkana tinggal membuat rencana pada sisi Alina dan anak-anak. Alina memiliki tugas untuk menenangkan anak-anak bahwa semuanya aman.


"Nanti malem coba bicarain sama Alina deh." Arkana kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal.


Alina tampak asyik mengobrol dengan Tari melalui ponselnya di kamar. Sudah sejak tadi mereka mengobrol tanpa henti. Tari yang sudah memulai program magang memiliki segudang cerita yang ingin ia ceritakan dengan Alina.


Tari magang di perusahaan yang tidak jauh dari perusahaan Arkana. Posisi kantor mereka berada di blok yang sama sehingga Tari beberapa kali bisa melihat Arkana yang keluar dan masuk kedalam perusahaannya.


"Kalo LifeCare buka program magang aku pasti masukin ke situ sih, Al."


"Kenapa? di gaji lebih gede dari perusahaan lain?" tanya Alina serius.


"Masalah gaji gatau sih, cuma kalo disana aku kan bisa sekalian ngawasin Arkana."


"Siapa tau dia selingkuh sama cewe lain," lanjut Tari.


Arkana dan Alina yang sampai sekarang tidak memiliki hubungan lebih terkadang membuat banyak orang tidak percaya. Mereka terlalu dekat dan sering bersama sehingga sering kali dikira berpacaran.


"Aku tapi gamau pacaran Tari ... " jelas Alina.


"Terus maunya apa? langsung nikah sama Arkana?"


"Apa sih kok Mas Arkana terus yang dibahas ... ganti dong," kesal Alina sekaligus malu karena Tari terus saja membahas Arkana.


Memang benar selama ini Arkana yang terkesan dingin dan sulit didekati terlihat bereaksi lebih hangat kepada Alina. Seakan-akan semua sifat bawaannya itu menjadi pengecualian jika berhadapan dengan Alina. Alina pun terkadang dibuat bingung karenanya.


Namun sekarang yang lebih penting bukanlah kejelasan hubungan mereka, melainkan misi mereka menemukan Kai. Alina akan memfokuskan pikirannya kesana dari pada hubungannya dengan Arkana. Menurut apa yang dilihat Tari, Arkana itu sosok yang menarik.


Arkana selalu terlihat sibuk namun pembawaannya tenang. Langkahnya besar tetapi tidak terlihat terburu-buru. Arkana selalu terlihat bersama dengan Satrio atau dengan beberapa rekan prianya yang lain, bukan dengan wanita.


"Dipikir-pikir lagi, aku juga jarang banget liat Mas Arkana panik kalo ada sesuatu."

__ADS_1


"Bahkan ketika Tuan Miller jelas-jelas nyerang dia pake kata-kata super pedes gitu aja dia masih bisa tenang." Tanpa Alina sadari ia memikirkan Arkana secara tiba-tiba.


Alina mencoba mengalihkan pikirannya terhadap Arkana dengan pergi keluar untuk membantu Bi Iyah. Jika ada sebuah kaca besar berada tepat didepan Alina wajahnya akan terlihat memerah ketika ia memikirkan Arkana.


Malam pun tiba, Alina yang sebelumnya telah dihubungi Arkana untuk menemui nya di kebun bunga sudah sejak tadi berada disana. Arkana sendiri saja belum pulang, tetapi Alina sudah menunggu nya disana. Alina yakin ada hal penting yang ingin Arkana sampaikan padanya.


Setelah kurang lebih 20 menit menunggu, Arkana akhirnya muncul. Melihat Alina sudah menunggu nya disana, Arkana kemudian berjalan menghampiri Alina. Tanpa disadarinya, pandangan Alina fokus terhadap langkah yang diambil Arkana.


"Ih apa sih malah fokus kesana," gumam Alina seorang diri.


Seraya mendekat Arkana pun berkata, "Kenapa ngeliatinnya gitu?"


"Engga kok ... ayo cepet kasih tau aku ada apa."


"Saya mau ceritain rencana yang sudah Saya dan Satrio rancang di kantor tadi." Arkana memulai pembicaraannya.


Selama mendengar rencana yang dibuat Arkana, Alina hanya mengangguk terus menerus. Sepertinya mulai muncul rasa kagum dari Alina kepada Arkana. Namun, Arkana merasa tidak puas dengan respon yang diberikan Alina kepadanya.


"Ngangguk mulu, boneka dashboard mobil kamu?" jengkel Arkana.


"Ih kenapa sih ... tandanya itu aku setuju, terus oh bagus tuh rencananya ... gitu."


"Sensi aja jadi manusia." lanjut Alina.


"Oh udah mulai berani ya ngomong gitu ke saya," ucap Arkana menatap Alina tajam.


Alina hanya senyum-senyum saja melihat respon Arkana yang seperti itu padanya. Memang tidak bisa dipungkiri jika Alina memang mulai nyaman terhadap Arkana. Mungkin karena itu terkadang kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti berhadapan dengan teman sebayanya.


"Ya udah deh maaf ... kita bisa lanjutkan kembali Pak Arkana?" senyum Alina meledek.


"Dasar ... udah dengerin nih." Arkana kembali menyelesaikan penjelasan rencananya.


Dengan serius kini Alina menatap Arkana,memperhatikan setiap penjelasan yang ia berikan. Terbalik, kini justru Arkana yang perasaannya tidak karuan ditatap seperti itu oleh Alina. Arkana kemudian tetap melanjutkan tanpa membalas tatapan Alina dan justru melihat arah yang lain.

__ADS_1


"Sekarang yang penting peran kamu harus bisa mastiin anak-anak ngerasa aman pas ketemu ayahnya dan kemungkinan akan ketemu kami."


"Oke." Alina lagi-lagi terlihat tidak yakin terhdapa dirinya. Dan lagi-lagi disana Arkana kembali menenangkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja.


__ADS_2