Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
45. BERTEMU MIRNA


__ADS_3

"Halo, siapa ya ini?"


Pagi itu Alina sudah membuatkan tekad nya untuk menelepon Mirna dan mengajaknya bertemu. Ayahnya tidak  boleh tahu maksud sebenarnya Alina bertemu Mirna. Karena itu Alina sengaja menelepon Mirna saat ayahnya sudah pergi.


"Ini Alina."


"Bisa kita ketemu hari ini?" Tanpa basa-basi Alina langsung mengajak ibunya untuk bertemu.


"Alin ... tau nomer ibu dari mana?" tanya Mirna.


"Dari ayah, jadi gimana kita bisa ketemu?"


"Bisa dong."


Mirna mengajak Alina bertemu di cafe favoritnya. Tidak mau banyak berdebat bahkan sebelum bertemu, Alina pun hanya bisa menyetujui tempat itu. Untungnya tempatnya tidak begitu jauh dari rumahnya.


Sebelum bertemu Alina menyiapkan mental dan emosinya. Alina sebisa mungkin harus menghadapi Mirna dengan tenang jika ingin mendapatkan jawaban yang diinginkannya. "Ga boleh emosi, Al ... harus sabar, demi dapetin informasi," gumam Alina seorang diri.


Hingga saatnya tiba, Alina sengaja datang lebih dulu. Tidak lama Mirna pun datang dengan wajah penuh senyuman. Alina tidak yakin senyuman itu tulus atau hanya dibuat-buat. Semua tentang Mirna sudah dipandang negatif oleh Alina semenjak orangtuanya bercerai.


"Alin ... udah nunggu lama ya? maaf ya ... " ucap Mirna membuka tangannya berniat memeluk Alina, tetapi tidak ditanggapi oleh Alina yang memilih duduk.


"Ada apa nih kok tiba-tiba ngajak ketemu?"


"Alina mau pastiin sesuatu."


Senyuman Mirna tiba-tiba menghilang. Kini raut wajahnya berubah, kalau menurut Alina wajah itulah wajah asli ibunya. Wajah tanpa ketulusan maupun kehangatan. Bahkan wajah Arkana yang sedang kesal lebih baik dipandang daripada wajah Mirna saat ini.


"Pasti ayahmu udah cerita ya?"


"Ah ... mau mastiin saya bener tau keberadaan Kai apa engga?" Mirna sudah bisa menebak dengan cepat maksud putrinya.


"Dan, bener tau dimana Kai?" tanya Alina menatap tajam kedua mata ibunya.

__ADS_1


Alih-alih menjawabnya, Mirna kemudian tertawa mendengar pertanyaan Alina. "Kai ... anak nakal itu. Saya tidak tahu pastinya dia dimana, tetapi yang saya bisa pastikan yaitu Kai akan sangat berguna bagi mereka," tutur Mirna.


"Mereka?"


"Ga mungkin kali ya langsung diilangin gitu aja." Mirna mengatakan hal itu dengan sangat mudah, membuat Alina rasanya tidak bisa menahan emosinya lagi.


Kedua matanya memerah, sebisa mungkin Alina menahan emosinya. Lagipula mereka berada di depan umum, Alina masih memiliki etika dan harus tetap menjaga sopan santunnya. Saat itu Alina bisa menyimpulkan jika Mirna sendiri tidak tahu keberadaan Kai dimana.


Mirna hanya mengetahui setengah ceritanya. Dengan itu Mirna menggunakannya untuk meminjam uang kepada Adi. Seperti yang selalu ada didalam kepala Alina, ibunya itu memang selalu licik sejak dulu. Daripada emosinya semakin meluap, Alina pun segera pergi dari cafe itu.


Alina mencoba menenangkan hatinya di taman yang tidak jauh dari cafe tadi. Dari kejauhan Alina melihat ibunya itu dijemput oleh seorang pria yang terlihat berada. Tidak aneh memang jika Mirna bersama pria seperti itu.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi notifikasi pesan dari Arkana. Didalam pesan itu Arkana menanyakan kepada Alina apakah jadi pulang hari ini. Dipikir-pikir kini rasanya rumah keluarga Miller sudah seperti rumahnya sendiri. Bagaimana keduanya mengatakan rumah keluarga Miller sebagai rumah bagi Alina juga.


Alina pun segera menelepon Arkana yang kebetulan berada di ruangannya, "Kalo gajadi pulang emang kenapa?" ucap Alina begitu teleponnya diangkat.


"Kalo jadi pulang ya saya jemput di halte lagi."


"Pulang kok ... lebih asik disana daripada rumah sendiri," ucap Alina sembari tertawa.


Arkana kedatangan tamu yang sudah ditunggunya sejak pagi. Semalam Satrio membantunya mencarikan seseorang yang kemungkinan kenal dengan mantan asisten pribadi Tuan Miller. Orang itu berkata jika mantan asisten pribadi itu masih bekerja dengan Tuan Miller.


Karena terakhir kali orang itu melihat mantan asisten Tuan Miller itu dijemput oleh beberapa orang, dan ada Tuan Miller disana. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, Arkana pun membiarkan orang itu pergi.


Lagi-lagi menemukan jalan buntu yang sengaja dibuat ayahnya untuk menghalanginya membuat Arkana kehabisan kata-kata. Satrio hanya berdiri disana melihat Arkana yang terdiam. Satrio tahu betul bagaimana usaha sahabatnya itu mencari Kai dan siapa pendonor Baskara.


Bagi orang luar yang melihat seberapa seriusnya Arkana mencari siapa pendonor Baskara pasti akan menganggapnya berlebihan. Namun, ini semua tentang rasa bersalahnya dan sedikit rasa percayanya kepada John Miller, ayahnya.


Karena dirinya, ada orang lain yang harus mengorbankan organ tubuhnya diambil. Selain itu juga ada ayahnya yang akan rela melakukan apapun untuk mendapatkan itu, bahkan jika harus menggunakan cara yang buruk.


Arkana terlihat terburu-buru keluar dari ruangannya. Satrio yang melihat itu kemudian menghentikan langkah Arkana, "Heh, mau kemana lo?" ucap Satrio. Arkana tidak menjawab pertanyaan Satrio, melainkan mengisyaratkan jam kerja sudah berakhir dengan menunjuk jam tangannya kepada Satrio.


Alina sudah menunggu Arkana sejak beberapa saat yang lalu. Kira-kira sudah ada dua bis yang berhenti didepannya, tetapi tidak Alina naiki. Juga sudah ada banyak pasang mata yang melihat Alina masih duduk diam dengan membawa helm yang dipeluknya erat.

__ADS_1


Tidak lama sosok yang ditunggu Alina sejak tadi datang juga. Arkana berhenti tepat didepan Alina, kemudian membuka kaca helmnya, "Udah lama?" tanya Arkana.


"Lumayan ... sampe cape nolak-nolakin bis yang nawarin terus dari tadi."


Arkana tersenyum melihat wajah cemberut Alina lalu berkata, "Naik. Entar keburu dateng bis selanjutnya."


Sebelum pulang Arkana mengajak Alina makan dulu ditempat makan langganannya. Sejak siang tadi Arkana terlalu sibuk sehingga tidak sempat makan. Suara protes diperutnya sampai terdengar oleh Alina.


Turun dari motor Alina celingukan melihat suasana restoran yang didatangi mereka. Arkana kemudian menyerahnya kunci motornya kepada juru parkir vallet. Alina hanya melihat kearah Arkana dan memberikan tatapan penuh isyarat.


"Kenapa?" tanya Arkana santai.


"Tempat makannya disini? Kita pake motor loh padahal."


"Iya emangnya kenapa kalo pake motor ga boleh makan disini?" ucap Arkana sudah sangat terbiasa di tempat itu.


Restoran mewah dengan kesan klasik minimalis ini hampir dipenuhi dengan deretan mobil mewah dan beberapa supir mereka yang duduk santai menunggu tuannya selesai makan. Ini pertama kalinya Alina datang ke tempat seperti itu, sehingga membuatnya sangat canggung.


Mereka pun segera masuk kedalam dan disambut oleh seorang pelayan yang sudah dikenal Arkana. Bisa dilihat dari bagaimana sebuah meja sudah disiapkan khusus untuknya. Arkana memang tidak sering menjadi sorotan sebagai anak dari John Miller, tetapi tidak berarti Arkana tidak hidup mewah.


Apalagi jabatannya sebagai CEO di sebuah perusahaan besar sudah menjamin kehidupan sebenarnya bagaimana. Terkadang Alina melupakan siapa Arkana ini sebenarnya, karena terlalu sering melihat Arkana memakai motor dan berada di bar yang sama dengannya.


Tidak lama seorang wanita cantik berpakaian chef datang menghampiri meja mereka dengan senyum yang merekah. Wanita ini terlalu cantik sebagai seorang chef. Alina saja sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya.


"Ar ... kok kesini ga kasih tau aku?" tanya wanita itu sembari meraih pelukan Arkana.


"Mendadak ... gimana kabarnya?" tanya Arkana hangat.


Wanita itu mengangguk, lalu berbisik kepada Arkana, "Siapa itu? cantik."


Arkana yang mendengar itu kemudian menggaruk tengkuknya tidak tahu harus menjawab apa.


Alina melihat keakraban keduanya hanya bisa terdiam dan ikut tersenyum saat wanita itu tersenyum padanya.

__ADS_1


Akrab banget ... aku kayak nyamuk jadinya disini, mana suasananya mendukung banget aku jadi nyamuk lagi. 


__ADS_2