Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
37. BERLARI TANPA TUJUAN


__ADS_3

Alina tidak menyadari Arkana yang memperhatikannya dari dalam mobil. Sesaat setelah melihat Alina, Arkana jadi tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia masih saja memperhatikan Alina yang terdiam beberapa saat diluar, "Ngapain sih diluar situ bengong."


Alina terlihat mengangkat sebuah telepon yang ternyata dari ayahnya, menanyakan kapan Alina pulang. Adi sudah mempersiapkan sesuatu untuk anak kesayangannya itu. Mendengar itu, Alina pun segera berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang.


Dengan terburu-buru Alina kembali keluar dan menaiki ojek online motor. Tentu saja Arkana melihat itu dari dalam mobil. Dalam hatinya penuh tanya kemana Alina pergi, terlebih lagi Alina pergi dengan terburu-buru.


Alina tidak sabar sampai dirumah. Kira-kira apa yang ayahnya siapkan untuknya. Sesampainy dirumah, suasana rumah sangat sepi. Lampu dirumahnya pun tidak menyala.


"Yah ... dimana sih kok gelap-gelapan gini?" tanya Alina masuk kerumahnya dengan bantuan senter ponselnya.


Adi sama sekali tidak menjawab anaknya. Awalnya Alina kira ini termasuk kejutan dari ayahnya, tetapi semakin lama Alina mulai khawatir karena ayahnya tidak terlihat dimanapun. Tiba-tiba terdengar sesuatu dari kamar Alina.


Ternyata selama ini bersembunyi disana. Dengan perlahan Adi keluar dengan membawa kue yang tertancap lilin diatasnya.


"Happy graduation Alina ... " ucap Adi berjalan mendekati Alina.


Alina yang kaget tidak menyangka ayahnya bersembunyi di kamarnya, "Ayah ... dari tadi sembunyi disana?"


"Seneng ga Ayah kasih kejutan?" Adi tersenyum lebar dan memeluk Alina erat.


"Maaf ya tadi Ayah ga sadar kamu udah masuk."


Alina tersenyum bahagia. Alina senang sekali mendapat kejutan sederhana dari ayahnya. Meskipun kini kebahagiaannya terasa kurang sempurna karena Kai yang belum bisa ditemukan. Namun, Alina berjanji akan segera menemukan kakaknya.


Tidak lama datanglah tamu tidak diundang membunyikan bel rumah mereka. Adi membukakan pintu dan ternyata Mirna lah yang datang. "Siapa Yah?" tanya Alina dari dapur. Adi tidak kunjung menjawab pertanyaan Alina.


Alina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mirna datang setelah tahu kalau Alina telah lulus sidang akhirnya hari ini dari Adi. Mirna juga membawakan Alina hadiah.


"Selamat ya, Alina sayang ... ini ada hadiah buat kamu."


Alina masih berdiri, tidak mengatakan apapun juga tidak memberikan ibunya itu senyuman.

__ADS_1


"Kok diem Al itu hadiahnya ga diterima?" tanya Adi kepada anaknya.


Alina masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya. Ayah dan ibunya berdiri bersebelahan, setelah bertahan-tahun berpisah, setelah banyaknya pertengkaran yang terjadi diantar keduanya.


"Ngapain sih Yah, dia ada disini?" Suara Alina bergetar, jelas menahan air matanya jatuh.


"Kebetulan memang mau kesini, jadi Ayah kasih tau sekalian."


"Gapapa kan Al?" lanjut Adi.


Mirna berjalan menghampiri Alina, berniat memberikan langsung hadiah yang dibawanya. Alina menangkis tangan wanita itu membuat hadiahnya terjatuh. "Saya ga butuh hadiah." Alina tidak habis pikir kenapa ayahnya masih bisa menerima wanita yang jelas sudah membuat salah satu anaknya menghilang.


"Sampai hari ini kamu masih berpikir saya yang bikin kakak kamu hilang?"


"Dia pergi sendiri, dengan kemauannya sendiri ... dia yang nakal, kenapa saya yaang disalahkan?" Mirna berusaha mencari pembelaan atas tindakannya. Mendengar itu membuat Alina semakin marah. Alina pun pergi keluar.


Sambil mengusap air mata yang terlanjur jatuh di pipinya, Alina terus berlari menjauh dari rumahnya. Alina berlari di kegelapan malam, tanpa arah tujuan. Hingga ia sampai di jalanan besar, Alina berlari menyeberangi jalanan itu dan tidak sengaja menabrak seseorang didepannya dan membuatnya terjatuh.


"Mas Arkana?"


"Kok ada disini?" tanya Alina kaget bisa bertemu dengan Arkana.


Sebenarnya yang seharusnya kaget itu Arkana. Alina berlari cukup jauh, sampai tidak sadar berada di daerah yang sama dengan apartemen Arkana.


Arkana tidak sanggup pulang kerumah karena pekerjaannya yang banyak belum ia selesaikan. Selain itu besok pagi dirinya harus memimpin rapat besar perusahaan. Jadi akan lebih mudah jika malam ini Arkana pulang ke apartemennya.


Dari jauh Arkana sudah memanggil Alina, dan memperingatinya. Akan berbahaya jika ia terus berlari tanpa fokus kedepan seperti itu. Sehingga Arkana pun sengaja berdiri didepan Alina agar mereka bertabrakan dan Alina pun berhenti.


Melihat Arkana, Alina sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Alina kemudian memeluk Arkana dan menangis kencang dipelukannya. Lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau tidak menghentikan tangis Alina.


Menyadari posisi mereka cukup berbahaya, Arkana menggendong Alina dan membawanya ke pinggir jalan. Bahkan saat posisi mereka sudah dipinggir jalan, Alina masih menangis. Secara otomatis Arkana melihat ke sekitar.

__ADS_1


Beberapa orang yang lewat melihatnya dengan pandangan curiga. "Al, jangan disini ... udah dulu yuk, di apartemen saya lanjutin nangisnya." Arkana membisikan kata-kata itu ditelinga Alina. Seketika membuat Alina berhenti menangis sejenak.


"Apartemen?"


"Kita ini deket apartemen Mas Arkana emang?" Alina benar-benar tidak menyadari kemana ia berlari sejak tadi.


"Kamu larinya kejauhan ... kalo saya tadi ga sengaja bikin kamu nabrak saya dan berhenti, kayaknya gatau sampe dimana sekarang," jelas Arkana.


Arkana pun menarik tangan Alina dan membawanya ke apartemennya. Jaraknya dari tempat mereka berdiri hany sekitar 80 meter. Alina dengan matanya yang benar-benar bengkak sekarang hanya menggantungkan dirinya pada Arkana. Matanya terlalu buram untuk bisa melihat jelas kedepan.


Sesampainya di loby apartemen, Alina menundukkan kepalanya karena wajahnya yang tidak karuan sisa menangis tadi. Arkana menutupi wajah Alina dengan topi yang dipakainya. Mereka pun berjalan menuju lift.


Alina menggerakkan gerakan kakinya. Sedari tadi Alina hanya menggunakan sendal rumah, dan sekarang ia kesakitan karena itu. Arkana melirik kaki Alina, dan tersenyum tipis. Alina yang melihat Arkana tersenyum menyenggolnya kesal.


"Ngapain senyum-senyum? ngeledek ya?" tanya Alina.


"Sukurin, salah sendiri main asal keluar ga liat yang dipake."


Lift pun terbuka. Keduanya lalu berjalan menuju unit milik Arkana yang posisinya tidak jauh dari lift. Alina terus menutupi mukanya saat ada orang yang berjalan melewatinya. Lagi-lagi Arkana tertawa, sepanjang jalan ia masih tertawa melihat kelakuan Alina.


Arkana melemparkan handuk kepada Alina, "Tuh, siapa tau mau cuci muka." Meskipun sibuk, Arkana tetap menjaga apartemennya tetap rapi. Hanya meja kerjanya saja yang terlihat berantakan seperti terkena angin ribut.


Berkas-berkas berserakan bersama dengan alat tulis dan laptopnya yang masih menyala. Tidak lupa tumpukan cup kopi yang dibelinya dari luar. Alina cukup canggung berada disana, meskipun ini bukanlah kali pertamanya.


"Oke, pinjem kamar mandinya ya."


"Iya, pake aja." Arkana pergi ke kamarnya mengganti bajunya lebih nyaman.


Di kamar mandi, Alina kembali menangis. Tidak mau sampai Arkana tahu, Alina menyalakan kran wastafel untuk menutupi isakannya. Namun, sebelum itu Arkana sudah tahu jika Alina kembali menangis di kamar mandi. Arkana berdiri menunggu Alina dibalik pintu.


Disini kamu bisa nangis dengan puas, Al. 

__ADS_1


__ADS_2