Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
48. ES BATU MENCAIR


__ADS_3

Satrio akhirnya berhasil menangkap seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka. Seseorang itu ternyata anak muda yang usianya masih belasan tahun. Anak itu terus memberontak mencoba melepaskan diri. Sampai akhirnya Arkana dan Alina sampai.


Mereka pun memutuskan membawa anak itu ke rumah tadi. Arkana mencoba bertanya pada anak itu perlahan, berharap ia mau bekerjasama dengannya. Namun, anak itu tetap saja memberontak dan berhasil ditahan oleh Satrio.


"Kalo kamu terus begini saya gabisa tahan emosi saya ... " ucap Arkana.


Alina pun mencoba mengambil alih untuk bertanya ke anak itu,"Kamu siapa, kenapa dari tadi liatin kita terus?"


Anak itu tetap tidak mau menjawab dan memilih diam. Hingga Arkana menyebutkan nama asisten ayahnya, Agus.


"Kamu kenal Pak Agus?"


Tatapan mata anak itu semakin tajam menatap Arkana setelah ia menyebutkan nama itu. Bisa dipastikan anak ini memiliki hubungan dengan Pak Agus. Hanya tinggal membuatnya mau berbicara dengan mereka saja.


Anak itu tetap memilih diam, Arkana tidak punya pilihan lain selain mengungkapkan siapa dirinya, "Saya Arkana, anak dari Tuan Miller ... saya yakin kamu pasti tau dia, jika kamu mau bekerjasama dengan kami saya pastikan ayahmu baik-baik saja."


Meskipun masih waspada, terlihat jelas gerak-gerik anak ini semakin melunak. Setelah mendengar apa yang dikatakan Arkana, ia jelas lebih tenang dan tidak memberontak lagi. Tinggal sedikit lagi sampai anak ini mau berbicara dengan mereka.


Merasa disana kurang aman, Satrio pun mengajak anak itu ke mobilnya bersama dengan Arkana dan Alina. Mereka akan melanjutkan obrolan itu didalam mobil menuju tempat lebih aman. Alina menggenggam tangan anak itu erat mengajaknya pergi bersama.


Sedikit demi sedikit ia mulai bisa percaya dengan mereka. Terutama kehadiran Alina yang memberikan pengaruh besar disana. Didalam mobil anak itu masih diam saja, Alina pun memberikannya air mineral untuk membuatnya tenang.


Perjalanan mereka tidak terlalu jauh dari tempat tadi, tetapi jelas lebih aman dari sebelumnya. Disana Arkana mulai bertanya kepada anak itu dengan perlahan.


"Apa kamu dan Pak Agus masih tinggal bersama?" tanya Arkana.


Anak itu menggeleng, "Sudah lama sekali ia tidak pulang ... terakhir kali pulang itupun tengah malam saat anak yang lain tidur."


"Jadi kamu gatau sekarang ayahmu ada dimana?" tanya Arkana lagi.

__ADS_1


"Terakhir sempat dengar kembali ke Tuan Miller, tapi jelasnya gatau dimana," ucap anak itu dengan raut wajah sedih.


Ternyata benar yang dikatakan lelaki waktu itu. Agus sempat keluar namun kembali bekerja dengan Tuan Miller. Namun untuk apa ia kembali? Lagipula saat itu apa yang membuatnya keluar?


Anak itu pun ternyata tidak tinggal disana. Ia tinggal di sebuah tempat penampungan bersama anak-anak yang lain. Pak Agus ini memiliki tiga orang anak dan harus mengurus mereka tanpa kehadiran istrinya yang telah lama meninggal.


Sehingga setelah ayah mereka pergi dan tidak kunjung kembali, mereka mau tidak mau harus tinggal di tempat penampungan. Sesekali ia datang ke rumah lamanya untuk menunggu sang ayah kembali. Namun sayang, ayahnya tidak juga datang kesana.


"Ayah kamu tapi tau kalian semua tinggal di penampungan sekarang?" tanya Alina.


Anak itu kembali menggelengkan kepalanya, selain menunggu sang ayah tujuan anak itu sering kembali ke rumah lamanya yaitu untuk memberitahu ayahnya dimana mereka sekarang tinggal.


Mereka pun akhirnya mengantarkan anak itu ke tempat penampungan untuk bertemu saudaranya yang lain. Sebelumnya Arkana meminta Satrio menghubungi pihak perwakilan yayasan yang dikelola ibunya untuk bisa mengurus anak itu dan dua saudaranya.


Langkah ini Arkana lakukan agar keberadaan anak itu bisa ia kontrol dan nantinya bisa dijadikan alasan agar Agus menunjukan dirinya. Sebelum pergi Alina memeluk hangat anak itu, "Kalo ada apa-apa hubungi Kakak ya." Alina memberikan nomor ponselnya kepada anak itu.


Arkana dan Alina pun berpisah dengan Satrio yang harus kembali ke kantor untuk melakukan sesuatu yang diminta Arkana. Kini hanya tinggal Arkana dan Alina saja didalam mobil Arkana.


"Mau kemana lagi?" tanya Arkana.


"Makan? laper juga ternyata tadi lari-lari," ucap Alina tersenyum lebar kepada Arkana.


"Oke ... kamu yang tentuin."


"Yes."


Alina mengajak Arkana ke sebuah pasar yang penuh dengan makanan di kanan kirinya. Alina biasanya menghabiskan banyak waktu disana bersama Tari. Mereka selalu datang dengan perut yang sengaja dikosongkan sejak pagi.


Sama dengan hari ini, sebenarnya Alina keluar dengan sarapan apa adanya. Sehingga baru sedikit saja berlari perutnya sudah keroncongan. Alina mengetikan alamatnya di layar GPS mobil Arkana. Arkana hanya menuruti Alina hari ini.

__ADS_1


Dijalan Alina tiba-tiba bertanya kepada Arkana, "Cari Kak Kai adalah keputusan yang bener kan?" Alina melihat ke arah Arkana yang fokus menyetir. "Kedepannya pasti bakal susah ... lawannya ayahnya Mas Arkana sih."


Arkana kemudian menenangkan Alina jika sepanjang hidupnya ia selalu berada di posisi yang berlawanan dengan ayahnya dan masih hidup sampai sekarang. Yang artinya Alina bersama dengan orang yang  berpengalaman melawan John Miller.


"Ih jangan bercanda ... Tuan Miller ga akan kenapa-kenapa in Mas Arkana lah, kan anaknya sendiri."


"Kalo gitu saya juga akan pastikan dia ga akan kenapa-kenapa in kamu," tutur Arkana serius.


Alina menatap Arkana setelah ia mengatakan hal itu.


Tidak terasa mereka pun sampai ditempat yang dimaksud Alina. Alina sudah tidak sabar ingin mencoba semua makanan yang ada hari ini. Terlalu bersemangat hingga Alina keluar mobil lebih dulu dari Arkana.


"Ayo dong Mas cepetan ... keburu kehabisan kita."


Arkana baru tahu ada tempat seperti itu disekitaran sana. Dengan penuh semangat Alina menarik tangan Arkana untuk segera masuk kedalam.


Mata Alina berbinar melihat banyaknya kedai-kedai kecil dan gerobak-gerobak yang  berjejer manis disepanjang pasar. Alina menarik Arkana kesana dan kemari melihat pilihan makanan yang ada. Awalnya kebingungan, tetapi lama kelamaan Arkana banyak tersenyum melihat tingkah Alina.


Hingga mereka berhenti di sebuah gerobak kecil yang menjual aneka goreng-gorengan dari tahu, pisang hingga semacam tempura udang. Antriannya cukup panjang, Alina harus bersabar sedikit hingga gilirannya tiba. Tiba-tiba ada seorang lelaki bertubuh besar menyerobot antrian dan hampir membuat Alina terjatuh.


Untung saja Arkana yang berada tepat dibelakang Alina dengan sigap menahan Alina dan mendekatkannya ke tubuhnya. Kesal antriannya diserobot, Arkana hampir saja menegur lelaki itu tetapi dihalangi oleh Alina. "Disini serobotan kayak gitu seninya." Senyum Alina.


Setelah mendapatkan goreng-gorengan yang diinginkannya Alina terus saja tersenyum. Arkana yang melihat tingkah Alina seperti anak kecil mendapat mainan hanya bisa ikut tersenyum juga. "Habis ini kita cari makanan utama ... oke?" Alina menyodorkan bungkusan gorengannya kepada Arkana, "Ini buat ganjelan dulu."


Alina terus berjalan dengan semangat, terkadang hingga tidak melihat ke kanan dan kirinya. Beberapa kali Alina hampir bertabrakan dengan pejalan kaki yang lain. Berjalan dibelakangnya ada Arkana yang terlihat cuek namun sesekali merentangkan tangannya siaga jika sampai Alina terjatuh.


Perutnya laper aja aktif gini ni anak ... apalagi kalo udah full. 


Arkana tidak berhenti tersenyum melihat tingkah lucu Alina sepanjang jalanan pasar. Es batu berhasil mencair karena sinar kehangatan matahari.

__ADS_1


__ADS_2