
Alina sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keduanya. Untung saja hari ini Arkana libur sehingga Alina membiarkannya tidur sedikit lebih lama. Sesekali terbersit dalam pikiran Alina, apa yang terjadi semalam dan membuat Arkana pergi dari rumahnya dalam keadaan seperti itu.
Namun sebanyak apapun rasa penasarannya, Alina harus tetap bertahan membiarkan Arkana menenangkan dirinya lalu siap menceritakannya pada Alina. Alina yakin jika waktunya nanti pasti Arkana akan bercerita padanya.
Sarapan pagi ini cukup spesial. Karena Alina mencoba membuat bubur ayam spesial yang ia baru saja lihat resepnya melalui internet pagi tadi. Meskipun pertama kali, Alina beberapa kali mencobanya dan tidak seburuk yang ia bayangkan.
Tiba-tiba ada telepon masuk dari Rose di ponsel Alina. Mulanya Alina sempat ragu, karena sudah beberapa hari ini Alina sengaja mengabaikan telepon dari Rose karena sedang tidak ingin membahas masalah dirinya yang diusir pergi.
Tetapi mungkin saja kali ini Rose meneleponnya hanya untuk menanyakan keadaan Arkana. Alina pun akhirnya mengangkat teleponnya.
"Halo iya Bu Rose."
"Ah ... Alina syukurlah kamu mau jawab telepon saya, terima kasih ya," ucap Rose.
"Kalo boleh tau ada apa ya Bu?"
"Kata Baskara, Arkana udah ketemu ya dan sekarang ada sama kamu?" tanya Rose khawatir.
Rose mengatakan seberapa kacaunya keadaan semalam hingga membuat Arkana pergi begitu saja. Alina tetap sengaja tidak menanyakan detailnya, karena ingin mendengarnya secara langsung dari Arkana. Sebenarnya Rose sudah membayangkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Namun untung saja Arkana lebih memilih menenangkan dirinya dengan berhenti di taman kota. Rose tahu betul jika Arkana yang biasanya diam dan tenang akhirnya mengeluarkan emosinya, ia tidak akan tanggung-tanggung.
Tetapi sepertinya sekarang ini ada sesuatu yang menahan Arkana melakukan hal yang diluar batasnya. Meskipun Rose tidak tahu apa itu, tetapi ia sangat bersyukur dan berterima kasih dengan itu. Dengan sesuatu yang bisa menahan Arkana.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka membuat Alina sempat berhenti berbicara, "Kenapa, Al?" tanya Rose. Alina membalikkan badannya dan ternyata itu Arkana. Alina menyambut Arkana yang baru bangun dengan senyuman, dan dibalas hal yang sama oleh Arkana.
"Bu, Mas Arkana baru bangun ... mau coba bicara dulu?"
__ADS_1
Rose mulanya sedikit ragu, tetapi akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Arkana. Alina pun memberikan ponselnya kepada Arkana.
"Nih, ada yang mau bicara."
"Siapa?" tanya Arkana masih mengumpulkan nyawanya.
"Mama ... " ucap Alina tersenyum lalu mengambil lengan Arkana dan menyerahkan ponselnya.
Tidak mau mengganggu percakapan mereka, Alina pun pergi ke kamar. Alina bisa mendengar dari suara Rose tadi ketika mereka membicarakan Arkana. Rose sangat khawatir dengan anaknya, tetapi tidak cukup berani untuk menghubunginya.
Arkana tipe orang yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan banyak berbicara ketika ada hal yang perlu ia bicarakan. Rose sengaja tidak ingin mengganggu Arkana saat ia sedang emosi, tetapi juga tidak bisa menghentikan perasaan khawatirnya sebagai seorang ibu.
Setelah selesai berbicara dengan ibunya, Arkana mengetuk pintu kamar. "Al, ini makasih," ucapnya berniat membuka pintu lebih dulu. Namun tiba-tiba Alina membukanya dari dalam, membuat mere saling berhadapan, "Nih .... " Arkana mengembalilkan ponsel Alina.
Alina pun langsung menarik tangan Arkana menuju meja makan. Ia sudah membuatkan Arkana sarapan spesial yang belum pernah dibuatnya sebelumnya. Alina terlihat cukup percaya diri dengan memperkenalkan makanannya seperti itu kepada Arkana,
Mangkuk berisi bubur buatannya itu ia penuhi dengan berbagai topping pelengkap bubur ayam spesialnya. Arkana terus memperhatikan gerak-gerik Alina dari belakang. Ia hanya tertawa setiap melihat Alina berhenti karena kebingungan dalam melakukan sesuatu.
"Gimana gimana?" tanya Alina dengan agresif.
Mulanya Arkana tidak memberikan respon apapun, kemudian tidak lama berkata, "Enak ... not bad untuk percobaan pertama."
"Ngomong-ngomong ini saya kamu jadiin kelinci percobaan gitu?" lanjutnya.
"Ih engga dong, kelinci percobaannya itu aku ... kan aku yang coba duluan sebelum ke Mas Arkana," jelas Alina.
Arkana kembali tersenyum melihat tingkah laku Alina pagi ini. Benar saja jika Arkana berkata kini ia lebih nyaman berada di apartemen dibandingkan dirumahnya sendiri. Arkana lebih suka keadaan rumah dengan adanya Alina.
__ADS_1
Hari minggu ini mereka habiskan hanya dengan bersantai didepan televisi. Arkana juga sudah terlihat biasa tidak seperti semalam. Hanya saja Alina sebagai seorang wanita, rasa penasarannya yang tinggi tidak bisa ia pendam.
Sesekali Alina akan melirik ke arah Arkana tanpa mengatakan apapun. Sejak sarapan tadi, bahkan saat mereka menonton film bersama setelahnya. Alina tidak ingin memaksa Arkana untuk bercerita padanya, hanya saja ia mulai tidak sabar.
"Keluar aja deh gimana?" tanya Arkana secara tiba-tiba.
"Kemana?"
"Kamu mau kemana?" Arkana justru melemparkan lagi kepada Alina.
Alina meminta Arkana memberinya sedikit waktu untuk melihat-lihat sosial medianya. Alina butuh mencari inspirasi dari sana. Arkana hanya bisa geleng kepala dengan perilaku seorang wanita seperti Alina. Ia pun memberi Alina waktu, sementara ia melanjutkan beberapa pekerjaannya yang tertunda.
Sudah tidak sabar menunggu Alina, Arkana akhirnya menentukan kemana mereka akan pergi. "Nunggu kamu mikir kelamaan keburu sore," ucap Arkana. Setelah berpikir sejenak Arkana akhirnya mengajak Alina ke taman hiburan.
"Taman hiburan? beneran?" tanya Alina merasa tidak yakin dengan ide Arkana.
"Bener ... saya udah lama ga kesana."
"Oke, ayo." Alina dengan cepat menyetujui ide Arkana.
Dengan semangat Alina memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi ke taman hiburan. Jujur terakhir kali Alina ke taman hiburan yaitu bersama dengan keluarganya sebelum ibu dan ayahnya berpisah. Kenangan itu selamanya Alina ingat sebagai kenangan terakhirnya dengan Kai.
Kini keduanya sudah berada di perjalanan menuju taman hiburan kota. Alina yang bersemangat sampai menyalakan lagu untuk menambah suasana hari ini. Sejak pagi tadi Arkana sudah banyak bersabar dengan kelakuan Alina.
Meskipun begitu Arkana sama sekali tidak komplain. Ia justru senang saat melihat Alina senang. Terkadang pikiran tentang hal yang terjadi semalam terlintas secara tiba-tiba di kepala Arkana. Jika saat itu tiba, ia hanya memandang Alina untuk mengalihkan pikirannya.
Saat ini hanya kehadiran Alina yang bisa membuat dirinya lebih terkontrol. Rasa amarahnya bisa ia tahan karena Alina. Bahkan semalam saat dirinya ingin mengendarai motornya lebih cepat, tiba-tiba Alina muncul dipikirkannya.
__ADS_1
Apa yang akan Alina lakukan jika terjadi sesuatu kepadanya. Apakah dia akan menyalahkan dirinya, apakah dia akan bersedih. Hal itu yang membuat Arkana lebih memilih menenangkan diri di taman kota.
Yang bisa saya lakukan buat kamu sekarang hanya bikin kamu bahagia, meskipun nantinya kamu akan membenci saya.