Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
25. 7 JAHITAN


__ADS_3

Alina menutup matanya saat menyadari ada barang yang dilempar kearahnya. Dengan cepat seseorang menarik tangan Alina untuk mundur dan menghalangi tubuh Alina dengan tubuhnya. Setelah mendengar barang itu mengenai seseorang didepannya seketika Alina membuka matanya dan melihat siapa yang menolongnya.


Mas Arkana ... 


"Mas Arkana kok ada disini?" tanya Alina, tangannya bergerak menuju punggung Arkana yang terkena lemparan barang yang ternyata sebuah piala.


Tanpa menjawab Alina, Arkana memastikan Alina baik-baik saja dan mengarahkan Alina ditempat yang aman. Arkana pun membalikkan badannya dan berjalan menuju Baskara.


"Arkana?"


"Dateng juga ternyata ... setelah gue telepon lo dan ga diangkat ... " ucapan Baskara terhenti seiring semakin mendekatnya Arkana kepadanya.


Tanpa basa-basi Arkana kemudian menarik kerah baju Baskara, "Kalo mau dapet perhatian lebih dari papa pake cara yang lebih pinter dikit bisa kan, Bas."


"Ngamuk-ngamuk merengek kayak anak kecil gini udah ga berlaku." lanjut Arkana, tatapannya dingin.


Arkana pun menarik tangan Alina, mereka pun pergi kedalam rumah bersama-sama. Alina yang masih sangat kaget dengan kejadian barusan menggenggam erat tangan Arkana. Arkana yang menyadari genggaman Alina semakin erat akhirnya melihat tangan mereka. Alangkah kagetnya saat ia melihat ada darah ditangan Alina.


Kali ini tidak hanya menggenggam, Arkana menarik tangan Alina dan mengajaknya berjalan lebih cepat kedalam rumah. Arkana cukup khawatir dengan darah yang ada di tangan Alina, dan ingin memastikannya saat mereka ada di tempat yang aman.


Arkana lalu mendudukan Alina di salah satu kursi ruang makan. Dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangannya dari Alina. Alina melihat tangannya yang berdarah pun dibuat kaget. Keduanya mengecek tangan Alina, dan tidak menemukan luka dimana pun.


Alina lalu ingat tangan itu yang ia gunakan untuk mengecek punggung Arkana tadi. "Coba Mas Arka balik badan dulu." Alina membalikan badan Arka dan melihat kearah punggungnya. Dan benar saja darah itu berasal dari punggung Arkana yang sekarang basah penuh dengan darah.


Kedua mata Alina melotot kaget, panik dan mencoba menghentikan darahnya. Arkana hanya sedikit meringis saat Alina menekan lukanya. Alina yang panik menceritakan nama Bi Iyah meminta pertolongan. "Ssst ... berisik banget." omel Arkana kepada Alina.


Bi Iyah buru-buru keluar membawa kotak P3K, dibantu Pak Anton mereka mencoba melakukan pertolongan pertama pada luka Arkana. Ternyata pada piala yang dilempar kan Baskara tadi, terdapat sisi yang cukup tajam dan menancap cukup dalam pada punggung Arkana.


Pak Anton bergegas menyiapkan mobil untuk membawa Arkana ke rumah sakit. Alina yang membantu Bi Iyah menutupi luka Arkana tidak menyadari jika air matanya menetes di pipinya. Semakin deras saat mengingat ini semua karena dirinya.

__ADS_1


Arkana sempat menolak dibawa ke rumah sakit karena merasa lukanya tidak seberapa. Namun, melihat kedua mata Alina yang memerah dan dipenuhi ke khawatiran membuat Arkana akhirnya menurut untuk dibawa kesana.


Didalam mobil Alina masih tidak bisa menghentikan tangisnya. Tidak mau sampai Arkana melihatnya, sepanjang jalan Alina terus menatap ke arah luar jendela. Tanpa ia sadari pantulan dirinya yang beberapa kali mengusap kedua pipinya yang basah terlihat oleh Arkana.


Kini Alina dan Pak Anton menunggu Arkana yang sedang diobati didalam UGD. Pak Anton berusaha menenangkan Alina. "Mas Arkana itu anak yang kuat ... paling kuat dari semua orang yang saya kenal." Pak Anton yang juga pegawai lama di keluarga Miller tentu sudah sangat mengenal Arkana.


Pantas saja Pak Anton dan Bi Iyah bisa menangani kejadian tadi dengan tenang. Sepertinya ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi. Namun, tetap saja menjadi yang pertama bagi Alina. Terutama ini semua karena Arkana menghalangi Alina dengan tubuhnya.


Di dalam paviliunnya Baskara hanya terdiam ditengah-tengah kekacauan yang dibuatnya sendiri. Pengawalnya kemudian masuk dan memastikan Baskara baik-baik saja. Lampu utama kemudian dinyalakan sehingga semakin jelas dampak kemarahannya tadi.


Tiba-tiba Baskara bangun dan berjalan menuju piala yang tadi ia lemparkan. Terdapat noda darah pada sisi yang cukup tajam. Ia bertanya-tanya noda darah siapa ini, siapa yang terkena lemparannya tadi.


Sembari memunguti beberapa barang yang berserakan, pengawalnya lalu berkata jika Mas Arkana yang terkena lemparan itu. Kalau saja Arkana telat sedikit, bisa jadi Alina lah yang terluka.


Telepon dari Tuan Miller akhirnya berhasil diangkat Baskara. Sesaat panggilan itu tersambung, Baskara hanya berkata, "Aku melukai Arkana Pa." Setelah itu Baskara pun menutup teleponnya dan pergi ke kamarnya.


Rose yang penasaran dengan percakapan suaminya dengan anak sulungnya itu terus saja bertanya.


Lukanya yang cukup dalam ternyata membutuhkan beberapa jahitan. Dengan tenang Arkana menerima perawatan itu. Tiba-tiba ada telepon masuk ke ponselnya. Setelah meminta izin kepada Dokternya, Arkana pun mengangkat telepon yang ternyata dari Rose.


"Ma?" Arkana bingung karena ibunya itu tidak mengatakan apapun.


"Mama gapapa?"


"Kamu dimana Ar? Tadi ada apa sama kamu dan kakakmu?" tanya Rose yang sangat jelas mengatur nada suaranya.


Mulanya Arkana tidak mau membuat ibunya khawatir dengan mengatakan ia ada di rumah sakit. Tetapi sepertinya ibunya sudah tahu apa yang terjadi, karena tidak mungkin ia akan menelepon Arkana secara tiba-tiba dan bertanya seperti itu.


"Arkana Benjamin Miller, jawab Mama."

__ADS_1


"Di rumah sakit."


Terdengar suara Rose yang mulai menangis, "Parah, Nak?"


"7 jahitan, punggung ... aman kok masih efek anastesi lokal."


Rose kembali tidak bersuara. Lemas rasanya mendengar anaknya terluka, terutama luka itu disebabkan oleh saudaranya sendiri.


Setelah beberapa saat didalam. Arkana pun diizinkan pulang namun dengan syarat istirahat total. Karena melihat riwayat kondisi kesehatannya. Berjalan dengan perlahan, Arkana menyusul Alina dan Pak Anton yang masih menunggunya diruang tunggu rumah sakit.


Alina bangun dari duduknya setelah melihat Arkana keluar dari UGD. Wajahnya yang sejak awal sudah pucat sekarang lebih pucat lagi karena kehilangan cukup banyak darah. Alina berjalan mendekati Arkana ingin membantunya.


Tiba-tiba Arkana tertawa melihat Alina. Kedua matanya bengkak, hidungnya merah ditambah lagi Alina keluar hanya menggunakan sandal rumahnya saja. Alina kebingungan melihat Arkana yang tertawa melihatnya.


"Kenapa ketawa sih?" tanya Alina.


"Jalan jauh-jauh ... malu saya jalan deket kamu, hahaha."


Alina melihat ke arah Pak Anton, yang kemudian mengabaikan Alina dan berjalan menuntun Arkana sembari ikut tertawa.


"Ih pada kenapa sih?" tanya Alina sembari berjalan dibelakang mereka.


Sesampainya dirumah, Arkana dan Alina saling berpisah dan menuju kamar masing-masing. Namun, sebelum itu Alina tiba-tiba menghentikan Arkana. Ada sesuatu yang belum sempat ia sampaikan sejak tadi.


"Makasih ya udah nolongin."


"It's okay ... terus ada lagi?" Arkana melihat ada lagi yang ingin dikatakan Alina padanya.


"Tapi kok tau aku disana tadi?" tanya Alina, sejak tadi ia terus saja berpikir bagaimana Arkana tahu jika dirinya ada di paviliun.

__ADS_1


Karena orang pertama yang gue cari begitu sampe rumah itu, lo Alina. 


__ADS_2