
Alina terbangun di sofa depan televisi. Ia tidak sengaja tertidur disana semalam. Alina tertidur bahkan dalam keadaan tirai jendela yang masih terbuka, sehingga teriknya sinar matahari lah yang berhasil membangunkannya.
Sampai saat ini Arkana tidak mengabari Alina. Alina masih terus bertanya-tanya, apa yang terjadi kepada Arkana yang tiba-tiba berubah seperti itu. Arkana yang pergi tanpa sama sekali menengok ke arah Alina terasa berbeda.
Rasanya seperti Arkana yang dingin kembali lagi. Semalam bukan Arkana yang biasa dikenal Alina, bahkan pertama kali Alina bertemu dengan Arkana ia tidak se dingin itu padanya. "Mas Baskara kira-kira tahu ga ya?" gumam Alina.
Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Arkana sudah mandi dan berganti baju yang dibawakan Satrio untuknya. Rencananya rapat akan diadakan setelah makan siang nanti, sehingga saat ini waktu Arkana cukup senggang.
Rose pun menelepon Arkana untuk menanyakan kabar sang anak. Rose menanyakan kapan Arkana akan pulang, meskipun Rose sendiri tahu betul pulang merupakan hal yang cukup berat baginya sekarang. Apalagi harus melihat ayahnya.
"Terus kamu sudah cerita ke Alina, Ar?"
"Belum Ma ... mungkin malam ini, kemarin ga sempet."
"Arkana ... Mama tahu kamu pasti berat ceritain ini ke Alina, tapi Mama pikir akan lebih baik Alina mendengarnya langsung dari kamu," tutur Rose kepada anak bungsunya.
Arkana lagi-lagi mendapat dukungan dari orang terdekatnya. Mungkin memang malam ini ia harus membicarakan hal ini dengan Alina. Ia harap waktunya pas, dan tidak ada gangguan lagi. Dengan itu juga ia harap bisa membuat perasaannya lega.
Sedangkan di apartemen, Alina mulai bosan melakukan berbagai hal seorang diri. Yang ia bisa lakukan di apartemen Arkana juga terbatas. Alina pun memutuskan untuk jalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar. Alina lalu membuat janji makan siang dengan Tari di restoran tidak jauh dari kantornya.
Alina berharap bisa secara tidak sengaja bertemu Arkana disana. Mengingat kantor Arkana dan Tari bekerja berada di sebuah komplek perkantoran yang sama. Alina pun bersiap-siap pergi keluar untukĀ bertemu Tari.
Sesampainya Alina di restoran, ia terus saja menatap ke arah jendela. Alina berharap bisa melihat Arkana meskipun dari kejauhan. Namun sayang yang ia lihat dari kejauhan ternyata Tari. Tari berjalan kearah Alina sembari melambaikan tangannya.
Begitu Tari masuk ke dalam restoran, Arkana berjalan melewati restoran itu. Dan kebetulan Alina tidak melihatnya karena menyambut Tari didalam restoran. Arkana pergi keluar bersama Satrio untuk mencari makan siang.
"Malem ini rencananya gue mau ceritain semuanya ke Alina."
"Beneran? udah bulet tekatnya?" tanya Satrio tidak yakin terhadap Arkana.
"Yakin ... sekarang atau nanti hasilnya sama aja, ga akan merubah kenyataannya gimana."
"Oke kalo gitu, gue juga bakal terus cari dimana makam Kai," ucap Satrio.
Alina tampak sering cemberut dihadapan Tari. Tari yang memperhatikan Alina merasa aneh, kemarin Alina jelas-jelas sangat bahagia bisa pergi berduaan dengan Arkana ke taman hiburan. Namun kini ekspresi Alina sangat berbeda dengan kemarin.
__ADS_1
"Kenapa sih? mukanya kayak diselingkuhin tau ga."
"Aku emang di selingkuhin sama Satrio," ucap Alina cemberut.
"Satrio? asistennya Arkana?"
"Kemaren habis makan, dia tiba-tiba pergi katanya mau nginep di rumah Satrio."
"Perginya sama sekali ga ngebalikin badan, langsung aja gitu pergi," lanjut Alina.
Tari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menurutnya Alina sudah berlebihan dalam menanggapi ini. Hubungan keduanya hanyalah teman biasa. Tidak ada yang menegaskan kejelasan hubungan keduanya, sehingga Arkana memang bisa dengan bebas pergi kemana pun ia mau.
Alina semakin cemberut setelah Tari mengatakan hal itu. Tari kemudian memupuk pundak Alina, "Sabar aja, sah in dulu baru bisa cerewetin dia," ucap Tari.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Arkana di ponsel Alina. Arkana berkata jika malam ini ada yang mau ia bicarakan di apartemen. Akhirnya Arkana bertekad untuk menceritakan hal itu kepada Alina. Apapun konsekuensinya Arkana siap menanggungnya.
Termasuk Alina yang akan marah dan pergi. Ia tidak ingin menjadi lelaki yang pengecut dan egois. Hal ini juga demi kebaikan Alina dan keluarganya. Mereka berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada anak sulung mereka.
Malam pun tiba, Alina sudah sampai di apartemen lebih dulu dibandingkan Arkana. Alina bahkan sudah menyiapkan makan malam untuk keduanya. Sejak tadi Alina terus bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh Arkana padanya.
"Aku udah siapin makan malam, makan dulu baru ngobrolnya," ucap Alina berhati-hati menunggu respon dari Arkana.
"Oke ... saya ganti baju dulu."
Entah kenapa keduanya menjadi sangat canggung, tidak seperti biasanya. Alina jadi berhati-hati kepada Arkana, sama halnya dengan Arkana.
Setelah makan Arkana mengajak Alina untuk duduk di sofa. Arkana tidak langsung berbicara, keduanya justru saling terdiam satu sama lain. Saat Arkana hendak memulai, tiba-tiba ponsel Alina berbunyi dan itu dari Mirna. Alina yang awalnya ragu, akhirnya mengangkat telepon itu.
"Al ... ayah kamu kecelakaan."
Alina kaget dan tidak menyangka dengan apa yang didengarnya, kakinya lemas, "Terus sekarang ayah dimana?" tanya Alina.
"Di rumah sakit Mulia, cepet kesini Al."
Alina kemudian bergegas ke rumah sakit diantar oleh Arkana. Sepanjang jalan Alina sangat gelisah, ia sama sekali tidak bisa diam dan terus mengirim pesan kepada Mirna menanyakan keadaan ayahnya. Arkana sesekali melirik Alina dan menenangkannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Alina yang panik kemudian berlari ke UGD untuk mencari Mirna dan ayahnya. Arkana pergi memarkirkan mobilnya lalu nanti menyusul Alina.
Alina panik lalu menangis saat menghampiri Mirna. Untungnya Adi tidak terluka parah, dan hanya perlu dirawat semalam. Menurut Mirna ada seseorang yang sengaja menabrak ayahnya. Alina tidak langsung percaya dengan yang dikatakan Mirna.
Hingga saat Arkana datang, Mirna langsung menunjukan ya dan mengatakan itu semua karena keluarga Arkana. Arkana yang baru saja datang merasa kaget saat tiba-tiba dituduh seperti itu.
"Saya tahu kamu siapa, saya tahu ayahmu siapa ... mereka bisa dengan mudah melakukan ini karena mereka memiliki kekuasaan."
Arkana masih terdiam, heran terhadap tuduhan tidak beralasan Mirna kepadanya. Alina yang tidak percaya kemudian bertanya kepada Mirna, "Maksudnya apa? ibu tau apa tentang kecelakaan ayah?" tanya Alina.
"Kata orang yang tadi bawa ayahmu kesini, ada mobil yang sengaja menabraknya lalu meninggalkannya disana."
"Siapa lagi yang bisa melakukan itu, selain John Miller," lanjut Mirna kembali menuduh Tuan Miller.
"Tidak puas kalian merenggut anak kami ... sekarang kalian mau merenggut ayahnya?" Mirna terus menunjuk Arkana yang hanya berdiri terdiam disana.
Sebenarnya bukan masalah dituduh menabrak. Arkana tidak bisa mengatakan apapun karena kata-kata yang dikatakan setelahnya. Kenyataannya memang benar, keluarganya merenggut Kai dari mereka. Alina bingung dengan apa yang terjadi. Ia hanya melihat ke arah Arkana yang sama sekali tidak membantah tuduhan ibunya.
"Maksudnya ibu apa ya Mas? apa bener kayak gitu?"
"Jawab." Alina berjalan mendekati Arkana menunggu jawabannya.
Arkana menatap Alina lalu berkata, "Maaf, Al."
Arkana berusaha menenangkan Alina dengan memegang tangannya, tetapi Alina dengan cepat menepisnya. Alina masih mencoba mencerna semua ini. Semuanya terjadi secara bersamaan. Cukup sulit untuk Alina bisa berfikir rasional.
"Maaf kenapa? Jadi bener?"
"Kai ... Kai yang jadi pendonor untuk Baskara saat itu."
"Lalu karena kondisinya kurang baik dan dipaksakan untuk melakukan tindakan operasi, Kai akhirnya .... " Arkana menghentikan kalimatnya.
"Akhirnya apa? jangan dipotong-potong dong." Mata Alina mulai berkaca-kaca, wajahnya pun memerah.
"Kai akhirnya ga bisa diselametin Al ... sorry," ucap Arkana sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Alina yang syok mendengar perkataan Arkana kemudian terjatuh dan terduduk dilantai sembari menangis.