Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
18. TIDAK BISA DIPERINTAH


__ADS_3

Ternyata ingatanku ga salah ... lelaki itu benar Mas Arkana. 


Alina dan Arkana saling berpandangan, sama-sama tidak menyangka akan bertemu disana. Setelah selesai makan malam, Alina di telepon oleh Tari untuk bertemu dan mengobrol di bar langganan mereka. Alina sudah mengenal banyak pekerja di bar itu.


"Ngapain disini?" tanya Arkana heran.


"Janjian sama Tari."


"Oh iya ... aku inget sekarang," kata Alina tiba-tiba bersemangat.


"Inget apaan?" Arkana terlihat lebih dulu mengingat sesuatu, dan menunggu Alina mengkonfirmasinya lebih dulu.


Mereka pun masuk dan duduk di salah satu kursi tidak jauh dari pintu. Alina menceritakan apa yang diingatnya kepada Arkana, sedangkan Arka hanya menyimak. "Image aku bener-bener rusak karena Mas Arka ... orang yang nabrak aku didepan kamar mandi, dan bikin pemilik bar ini tau umurku sebenernya Mas Arka kan?"


"Aku bisa tau banget dari jaket Mas Arka, terus dari parfumnya yang sama sekali ga berubah."


"Dan semakin yakin pas tadi ketemu didepan, bener ga? Bener kan kita pernah ketemu." Alina menginterogasi Arkana yang sejak tadi diam dan menyimak perkataan Alina.


Arkana hanya menganggur pelan dan tersenyum tipis. Sebenarnya sejak pertama kali ia melihat Alina, saat itu juga Arkana mengingat hari itu. Hari dimana ia bertemu dengan anak dibawah umur yang bekerja part time disebuah bar dan menipu bosnya dengan mengatakan ia sudah cukup umur.


Bahkan saat Arkana hadir di acara perayaan pameran pertama Baskara, disana ia sudah mengenali Alina. Hanya saja Alina bahkan tidak menyadari kehadirannya.


"Kok ga bilang kalo pernah ketemu?" tanya Alina tidak terima karena Arkana pura-pura tidak mengenalnya.


"Ga penting."


"Lagian kurang kerjaan amat orang nginget kejadian memalukan orang lain," lanjut Arkana.


Seperti sebuah takdir ternyata setelah beberapa tahun kemudian keduanya bertemu kembali. Diluar dari itu semua, kenyataannya bahwa Arkana masih mengingatnya meskipun berpura-pura tidak peduli. Tidak lama Tari datang dan menghampiri Alina, sebelum itu Arkana sudah pergi lebih dulu bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Ternyata cowo yang waktu itu bikin aku dipecat dari sini, Mas Arkana."


"Yang ngebongkar penyamaran kamu?"


"Iya ... selama ini dia pura-pura ga inget tapi sebenarnya inget, sebel tapi malu banget ketemu lagi."


Arkana dan Satrio berencana kembali ke kantor karena ada beberapa hal yang perlu mereka persiapkan untuk besok. Besok ada sebuah acara pembukaan aula pertemuan di kantor mereka. Arkana sengaja membuatnya untuk memfasilitasi penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.


Nantinya di aula itu akan terpasang lukisan yang khusus dibuat oleh Baskara sebagai ucapan selamat. Mungkin besok mereka akan bertemu setelah beberapa hari tidak bertemu, dan mungkin saja ada Rose disana. Tidak perlu berharap Tuan Miller datang, karena sudah dipastikan tidak mungkin ia hadir di acara Arkana.


Keesokan paginya seluruh staff penanggung jawab acara sudah sibuk menata dan memastikan semua yang dibutuhkan sudah siap. Acara hari ini akan dibuka oleh Arkana sebagai CEO dan beberapa pemimpin rumah sakit yang bekerja sama dengannya.


Tamunya akan dibagi menjadi dua sesi. Untuk sesi pertama khusus rekan bisnis dan orang-orang berkepentingan lain. Sedangkan sesi dua akan ada acara amal untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Arkana tidak mau jika ada sesuatu yang salah pada kedua sesi.


Rose sendiri mengakui, keseriusan dan ketajaman Arkana sebagai pemimpin sebuah perusahaan sangat mirip dengan ayahnya. Yang membedakan mungkin karena Arka dibesarkan oleh seorang ibu yang penyayang membuatnya tumbuh lebih menghargai orang lain, tidak seperti ayahnya.


Acara kurang lebih akan dimulai 20 menit lagi. Arkana terlihat sibuk menyapa para tamu yang hadir. Sedangkan Satrio membantu Baskara menyiapkan lukisannya, "Arka mana, Sat?" tanya Baskara.


"Ada yang mau disampein ke Arka, Mas?" tanya Satrio serius.


"Gausah gapapa, ini ayo bawa keluar."


Satrio mengamati satu per satu tamu undangan. Ia tidak mau ada tamu tidak diundang yang datang dan merusak semuanya. Ternyata benar saja, seorang tamu tidak diundang datang lengkap dengan asisten pribadinya.


Arkana menatap dingin ayahnya yang baru saja datang dari kejauhan. Senyumnya mendadak hilang saat melihat ayahnya. Langsung saja semua perhatian berpindah kepada Tuan Miller. Arkana yang kesal terus mencoba mengatur emosinya agar tidak meledak saat itu.


"Sat ... ayo mulai aja." Arkana menghubungi Satrio yang berada di belakang panggung.


Baskara yang melihat dari belakang juga ikut kesal dengan apa yang dilakukan ayah mereka. Kebetulan Rose juga baru datang dengan asistennya. Mulanya hendak menyapa Arkana, tetapi melihat raut wajah kesal dari anaknya itu Rose sudah bisa menebak apa yang terjadi.

__ADS_1


Arkana membuka acara dengan mengatakan beberapa kata, "Halo, selamat pagi semuanya. Saya Arkana sebagai CEO dari LifeCare akan membuka acara hari ini .... "


Salah satu rekan bisnis Arkana yang juga mengenal Tuan Miller berkata bahwa anaknya sangat pandai dalam berbicara dan terlihat cerdas. Tuan Miller patut bangga memiliki anak seperti Arkana.


"Dia itu masih muda, tapi potensinya luar biasa ... salut saya sama cara mendidik Tuan Miller ini." Kenalan Tuan Miller menepuk pundak Tuan Miller karena merasa kagum.


Sudah saatnya bagi Tuan Miller untuk mengakui pencapaian Arkana. Meskipun telah mendengar banyak pujian dari rekan-rekannya, Tuan Miller masih saja tidak menganggap Arka dan menilainya sebagai anak yang tidak berguna.


Akhirnya momen yang ditunggu dimulai, prosesi pembukaan aula ini secara resmi dengan memasang lukisan Baskara sebagai inti acara. Tuan Miller adalah orang yang paling keras bertepuk tangan saat lukisan Baskara dipasang.


Semua orang bertepuk tangan dan mulai menyelamati Arkana yang telah berhasil sampai saat ini. Arkana sibuk menyalami semua orang, hingga tiba-tiba wanita cantik datang dengan membawa bunga menghampiri Arkana. Arkana yang melihat wanita itu kemudian memeluknya hangat.


"Selamat ya, Nak ... Mama bangga banget sama kamu," ucap Rose menatap wajah anak bungsunya.


Baskara juga datang menyusul sang ibu dan ikut menyelamati adiknya, "Gue ga ngira lukisannya bakal jadi inti acara."


"Kebetulan doang," ucap Arkana acuh. Membuat Baskara tertawa melihat adiknya yang malu-malu tidak mau mengakuinya.


Acara sesi pertama berhasil terlaksana, beberapa saat lagi acara sesi kedua akan dimulai. Arkana memastikan sesi ini harus berjalan lancar, karena menurutnya sesi kedua ini lebih penting dari sesi pertama tadi. Tiba-tiba Tuan Miller menghampirinya.


"Jangan kamu pikir saya kesini karena kamu."


"Loh ... saya sama sekali tidak berpikir begitu," tegas Arkana.


"Kamu bisa kembali pulang, berkat Mama kamu yang setiap hari merengek meminta saya membatalkan rencana saya menyuruh kamu kembali ke Boston."


Arkana menatap tajam ayahnya. "Saya akan tetap di apartemen, anda tidak perlu khawatir." Arkana sama sekali tidak takut dengan sang ayah.


"Bener-bener anak ga bisa diuntung, kalo saya bilang pulang ya pu-" Sedang dipuncak emosinya, Tuan Miller tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


"Saya bukan orang yang bisa anda perintah." Arkana dengan dinginnya berhasil menghentikan ayahnya bicara,


__ADS_2