
Arkana keluar dari kamar mandi dan melihat Alina sedang berdiri terdiam melihat foto yang terpajang diatas rak bukunya. Arkana membiarkan Alina kemudian bersiap-siap untuk ke bawah. Merasa ada yang aneh, Arkana pun mendekati Alina.
"Dari tadi liatin apaan sih?" tanya Arka mendekatkan kepalanya mencoba mencari apa yang sebenarnya Alina lihat.
Alina tersentak kaget, "Mas Arka udah beres mandinya? Ayo turun."
"Belum jawab." Arkana menggenggam lengan Alina yang hendak buru-buru keluar kamar.
Alina sebenarnya ingin menanyakan banyak hal kepada Arkana. Terutama kenyataan bahwa ia dan kakaknya saling kenal. Selama ini kakaknya tidak pernah bercerita memiliki teman seperti Arka. Lagipula mereka terlihat akrab sebagai kenalan biasa.
"Oke fine ... kamu berhutang jawaban sama saya." Arkana keluar lebih dulu meninggalkan Alina yang pikirannya tengah dipenuhi banyak hal. Tidak lama Alina pun pergi menyusul Arkana dengan sedikit berlari kecil, takut tertinggal.
Sudah ada beberapa orang yang berkumpul di ruang makan. Seperti biasa Tuan Miller sedang sibuk memperkenalkan Baskara kepada rekan-rekannya. Arkana hanya lewat begitu saja berjalan menuju dapur untuk menemui ibunya.
Suasana diluar terlalu ramai, dominasi ayahnya juga terlalu kuat. Arkana malas jika harus berbasa basi dengan mereka. Sampai seseorang yang ia kenal datang. Seseorang itu adalah pemilik rumah sakit yang berniat membatalkan kontraknya dengan perusahaan milik Arka.
Dugaannya ternyata tepat. Ada permainan ayahnya dibalik rencana pembatalan kontrak itu. Arkana sepertinya harus bersiap jika sewaktu-waktu ayahnya akan membicarakan hal itu didepan semua orang.
Acara makan malam pun dimulai. Seluruh kursi telah terisi penuh oleh keluarga dan rekan-rekan Tuan Miller. Tuan Miller membuka sajian makan malamnya dengan mengatakan beberapa patah kata. Inti dari perkataan itu untuk memperkenalkan penerusnya nanti yaitu Baskara.
Tuan Miller ingin jika rekan-rekannya dan Baskara bisa saling mengenal lebih dulu, sampai nanti mereka akan bekerjasama di masa depan. Kata sambutan itu diiringi oleh tepuk tangan meriah. Semua orang saling mengucapkan kata selamat dan ucapan yang lain.
Diantara riuhnya mereka hanya Arkana yang tidak peduli dengan apa yang terjadi. Arkana memilih memakan makanannya lebih dulu. Rose yang memperhatikan anaknya hanya bisa tersenyum. Namun dibalik itu, ada rasa sedih dalam hatinya.
Tuan Miller sudah terlalu memfavoritkan Baskara lebih dari sebelumnya. Rose khawatir jika hal itu menimbulkan rasa benci antara kedua kakak beradik itu. Rose tidak ingin kedua anaknya memiliki hubungan tidak baik karena ulah ayahnya.
Alina yang mengintip menyadari jika Arkana menjadi satu-satunya orang yang tidak nyaman berada disana. Karena suasana yang mulai ramai, Alina pun pergi ke kamarnya. Disana Alina memperhatikan foto keluarganya, terutama sang kakak.
"Lo kemana sih Kak?" kata Alina sendirian di kamarnya.
"Ayah selalu bilang lo pasti aman di suatu tempat ... tapi dimana itu Kak?" lanjutnya.
Air mata terlihat membasahi pipi merah muda Alina. Dibalik ramainya keadaan diluar, Alina menangis sendiri dikamarnya. Tiba-tiba Tari meneleponnya. Sepertinya Tari merasakan apa yang sedang dirasakan Alina sekarang. Buru-buru Alina menghapus sisa-sisa tangisannya lalu mengangkat telepon dari Tari.
__ADS_1
"Halo ... Al, udah lama ga telpon aku. Kamu kemana aja?" tanya Tari.
"Aku oke kok .... " Suara Alina terdengar sengau, Tari pasti mengetahui ada sesuatu yang terjadi.
"Nangis?" tanya Tari to the point.
Mendengar pertanyaan itu membuat Alina tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.
Alina menangis untuk beberapa saat. Dari balik telepon, Tari hanya diam mendengarkan sampai Alina merasa puas. Untung saja jarak kamarnya dari ruang makan tidak dekat, sehingga Alina bisa puas menumpahkan kesedihannya tanpa diketahui yang lain.
Sedangkan di ruang makan semua orang saling akrab dan mengobrol satu sama lain sembari menyantap makan malam mereka. Kini posisi duduk sudah berubah, dari yang bermula keluarga Miller duduk saling berdekatan menjadi saling terpisah.
Tuan Miller duduk dikelilingi rekan-rekannya juga Baskara. Rose duduk di sisi yang lain, mengobrol dengan istri-istri rekan Tuan Miller. Kemudian Arkana sudah tidak terlihat disana. Arkana merasa ini bukan saat yang tepat untuk dengan pemimpin rumah sakit yang menjadi partnernya itu.
Sudah bisa dipastikan kemana Arkana pergi. Sebuah kursi eksklusif di kebun bunga salah satunya kini terisi oleh Arkana. Satunya lagi dibiarkan kosong seperti menunggu pemiliknya untuk ada disana. Cukup lama ia berdiam diri disana.
Hampir saja Arkana pergi dari sana, muncul lah Alina berjalan ke arah kebun bunga. Mereka akhirnya berpapasan tanpa mengatakan apapun. Arkana merasa aneh, karena seperti ada yang disembunyikan Alina. Merasa itu bukanlah urusannya, Arkana kembali masuk kedalam rumah.
Tidak lama Arkana pun masuk ke area ruang makan. Kemudian langsung menghampiri ibunya dan terlihat membicarakan sesuatu. Baskara yang melihat itu, raut wajahnya seketika berubah. Baskara selalu melihat kalau dengan Arkana, pandangan ibunya selalu berbeda dibanding bersamanya.
"Dari mana aja?" tanya Rose khawatir.
"Luar, cari udara segar. Disini sumpek," jawab Arkana mengelus lembut lengan ibunya yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Tadi papa cari kamu."
Mendengar ayahnya mencarinya membuat Arka sedikit tertawa. Cukup aneh mendengar Tuan Miller mencari anak bungsu yang selalu diabaikannya. "Ada apa beliau cari saya?" tanya Arkana terdengar sinis, "Paling mau memberikan perumpamaan contoh yang buruk kan kepada rekan-rekannya."
Tiba-tiba terdengar suara memanggil Arkana dari kejauhan, "Arkana ... " panggil Tuan Miller padanya. Arkana tidak ada pilihan lain selain menghampiri Tuan Miller. Langkah kakinya berat, selain itu melihat Baskara ada tepat disamping ayahnya sepertinya feeling nya kali ini benar.
"Sini ... ini kenalkan ketua yayasan ikatan dokter."
"Ini anak saya, Arkana," lanjutnya.
__ADS_1
"Halo, iya saya Arkana." Arkana melirik aneh ke arah ayahnya.
"Arkana ini lama tinggal di Boston ... seorang diri, dan rencananya dia akan kembali kesana," jelas Tuan Miller yang mengejutkan tidak hanya Arkana melainkan Baskara.
Jelas terlihat dari raut wajah Arkana sangat marah, tetapi berusaha menahannya. Setelah berbasa-basi mengobrol Arkana mendekati ayahnya.
"Saya ga pernah ada rencana untuk balik lagi kesana."
"Kamu memang tidak ada rencana kesana, tapi saya yang akan mengirim kamu kesana," ucap Tuan Miller, kemudian berlalu pergi.
Mendengar itu, Arkana lalu pergi ke luar. Mencari helm dan menyalakan motornya. Dengan cepat Arkana pergi menaiki motornya yang sengaja dirinya gas dengan kencang. Alina yang kebetulan sedang berjalan menuju rumah tidak sengaja mendengar itu.
Itu Mas Arkana mau kemana? ngebut banget, ada yang ga beres nih jangan-jangan.
Arkana terus menancap gasnya membelah keheningan malam daerah perbukitan tempat rumah mereka berada. Membutuhkan waktu untuk sampai di jalan besar. Tujuannya tidak lain adalah apartemennya. Keputusannya untuk pulang ke rumah menuruti apa mau ibunya sepertinya keputusan yang salah.
Setelah semua tamu pulang, para pelayan dibantu Alina membereskan semua sisa makan malam tadi. Alina tidak sengaja melihat Rose berdiri didepan pintu rumahnya seperti menunggu seseorang. Saat ini jam menunjukan pukul sebelas malam. Tidak mungkin rasanya ada seseorang yang akan datang.
Alina kemudian menghampiri Rose, "Nunggu siapa Bu?" tanya Alina lembut.
"Arkana."
"Tadi dia pergi sambil emosi, saya takut ada sesuatu yang terjadi," khawatir Rose kepada anaknya.
"Sudah coba ditelepon Bu?" tanya Alina lagi.
"Teleponnya mati."
Ini pertama kalinya Alina melihat Bu Rose dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir. Bahkan lebih khawatir daripada saat Baskara dibawa ke rumah sakit. Melihat itu membuat Alina juga ikut khawatir. Apalagi ia melihat saat Arkana pergi dengan menancap gasnya.
"Dulu dia pernah kayak gini juga, terus ga pulang-pulang lama ... sekalinya pulang babak belur, badannya penuh darah." Suara Bu Rose bergetar menahan tangisnya.
Ibu mana yang tidak trauma melihat keadaan anaknya seperti itu. Meskipun kejadian itu sudah cukup lama, mengingatnya lagi membuat Rose kembali menangis. Arkana anak yang selalu kuat dan diandalkan tetapi melihatnya saat itu, membuat Rose khawatir hal yang sama akan terulang lagi.
__ADS_1