Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
59. JAMINAN


__ADS_3

*Maaf Arkana ... Kai tidak aman bersama John Miller dan saya penyebabnya.


Kata-kata itu terus saja terbayang dikepalanya. Kini Arkana berada didalam mobil bersama Alina setelah mengantar anak-anak Agus kembali ke rumah penampungan. Keduanya terdiam dan masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi hari ini.


Sementara Satrio pergi bersama anak buah Arkana yang lain. Sesekali Alina melihat ke arah Arkana dan menatapnya dalam. Rencana yang sudah disusunnya dengan sangat matang lagi-lagi dihalangi oleh orang-orang John Miller, ayahnya sendiri.


"Sorry Al."


Alina kaget mendengar permintaan maaf dari Arkana, "Buat apa?" tanya Alina.


"Inti dari semua kekacauan ini karena Papa."


"Masih banyak jalan lain Mas ... kamu mau berhenti disini?"


Arkana mengarahkan tubuhnya menghadap sepenuhnya kepada Alina. Diiringi oleh suara hujan dari luar mobil kini suasana didalam mobil menjadi lebih intens. "Kalo pilihan kita cuma hadapi Papa secara langsung ... janji kita bakal fight bareng-bareng." Alina merespon dengan anggukan mengiyakan.


Keduanya memutuskan untuk kembali pulang menenangkan pikiran mereka dan merencanakan kembali misi mereka. Meskipun hanya sebentar, tetapi ada hal yang berhasil mereka pastikan adalah keterlibatan John Miller. Dan hutang yang disebabkan ibunya Alina dan harus ditanggung Kai.


Sementara di perusahaan John Miller, Baskara mengitip ke arah ruangan ayahnya. Lagi-lagi ada Tama didalamnya. Namun kini mereka bersama seseorang yang belum pernah dilihat Baskara.


Juan tampak memberikan laporan kepada John Miller diruangannya, disaksikan juga oleh Tama yang kebetulan berada disana. John Miller berharap jika hal ini tidak terjadi lagi, dan meminta Juan segera membereskan masalah Agus.


Setelah Juan keluar, Tama tiba-tiba mengatakan sesuatu, "Kenapa sih tidak langsung saja beritahu yang sebenarnya kepada Arkana?"


"Tuh anak persis banget sama kamu John ... sebelum dia mendapatkan jawaban yang ia inginkan ga bakal berhenti," lanjutnya.


"Ada banyak hal yang tidak perlu diketahui seorang anak tentang orang tuanya."


"Iya ... tapi kan-" kata-katanya terpotong oleh John Miller.

__ADS_1


"Jadi ada apa kamu kemari?"


Tampak dari kejauhan Baskara masih memperhatikan keduanya yang berbicara dengan serius. Sudah beberapa hari ini Baskara mulai bekerja di perusahaan ayahnya untuk membiasakan diri dengan kehidupan kantor. Selain itu juga untuk mendapatkan informasi tentang rencana ayahnya.


Contohnya seperti hari ini. Kegiatan Baskara mengitip ruangan ayahnya bukanlah kali pertamanya. Terutama jika didalam pembicaraan itu membahas tentang Arkana. Baskara berencana menghalangi ayahnya mengganggu rencana yang sedang dilakukan Arkana.


Sesampainya dirumah Arkana dan Alina berpisah untuk menuju kamar mereka masing-masing. Alina kemudian menghempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur. Ia bahkan belum sempat membersihkan tubuhnya. Namun, lelah yang dirasakan tubuh dan pikirannya tidak membiarkan Alina melakukan itu.


Alina lalu mengeluarkan foto keluarganya dari dalam dompetnya. Satu-satunya cara Alina berkomunikasi dengan Kai yaitu dengan mengobrol lewat foto itu. Alina menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada Kai.


Sempat terbersit di kepalanya, sebuah kekesalan kepada Mirna. Karena menurut apa yang dikatakan Pak Agus tadi, Kai menggantikan ibunya menanggung hutang sebanyak itu. Bahkan mereka merasa jika hutang sebesar itu tidak mungkin bisa ditanggung anak sekolah seumuran Kai saat itu.


"Dia pasti sangat senang saat tahu kakak yang gantiin dia lunasin hutangnya," gumam Alina seorang diri dikamarnya. Alina tidak kalah kesal saat tahu ibunya merasa baik-baik saja setelah melakukan itu.


Sementara di kamarnya Arkana segera menuju meja kerjanya setelah mandi. Ia berusaha merunutkan semua informasi yang dimilikinya sampai saat ini. Sampai saat ini penyebab utamanya dari hutang yang dimiliki Mirna, ibunya Alina dan Kai.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Mendengar itu, Arkana berjalan menuju pintu untuk memastikan siapa yang mencarinya. Setelah pintu dibuka, alangkah kagetnya Arkana melihat Alina didepan kamarnya.


"Ada apa Al?" tanya Arkana mengajak Alina duduk.


"Aku mau bawain ini siapa tahu berguna."


"Ini aku dapetin waktu dulu sempet bayar orang buat cari Kak Kai," lanjutnya.


Arkana membuka amplop coklat itu dengan perlahan. Alina yang melihat itu tiba-tiba tertawa, "Serius amat Mas." Berkat itu suasana yang mulanya tegang bisa lebih mencair. Melihat Alina tertawa dengan yang dilakukannya membuat Arkana ikut tertawa.


Didalam amplop itu terdapat beberapa file biodata lengkap Kai, juga termasuk surat hutang yang ditandai tangani langsung oleh John Miller. Didalam surat itu tidak ada jumlah yang tertulis sehingga Alina sendiri baru mengetahui jika hutang milik ibunya sebanyak itu.


Namun ada satu hal yang menarik perhatian Arkana. Sebuah dokumen berisi kondisi kesehatan dan detail lainnya tentang Kai. Kira-kira siapa yang paling membutuhkan detail kesehatan ini?

__ADS_1


Pertanyaan itu kira-kira yang ada didalam kepada Arkana. Hubungannya apa antara hutang dan surat kesehatan ini. Namun, tiba-tiba ada sepercik pemikiran yang langsung dialihkan oleh Arkana. Sepercik pemikiran negatif mengenai kemungkinan kemana surat kesehatan itu digunakan.


Meskipun begitu, selama belum ada yang pasti Arkana tidak akan menceritakan pemikirannya tadi kepada Alina. Karena jika pemikirannya itu tepat, akan semakin sulit mereka bisa bertemu Kai.


"Kira-kira surat kesehatan se detail itu untuk apa ya Mas?"


"Untuk apa kak Kai ngelakuin tes kesehatan sebanyak itu?" Alina terus bertanya.


"Surat ini boleh saya pinjam dulu? saya coba minta Satrio selidiki tempatnya," ucap Arkana.


Alina lalu kembali ke kamarnya setelah memberikan amplop dokumen itu kepada Arkana. "Kita pasti bisa beresin ini," ucap Alina sebelum keluar dan menutup pintu kamar Arkana. Tanpa menunggu jawab dari Arkana, Alina berlalu pergi.


Sesaat setelah Alina pergi, Arkana segera menghubungi Satrio untuk memintanya menyelidiki tentang surat kesehatan itu. Arkana meminta Satrio melaporkan hasilnya secepat mungkin, firasat nya tidak enak tentang hal ini.


Kini Arkana harus lebih berhati-hati dan merencanakan langkah selanjutnya dengan baik bahkan sampai rencana cadangannya. Ia tidak akan membiarkan hal seperti hari ini terjadi lagi.


Sedangkan di sebuah gudang terbengkalai terdengar suara erangan seorang lelaki yang beberapa kali meminta ampun. Didalam sana ada Juan dan beberapa orang bawahannya sedang memberi Agus sebuah pelajaran tentang apa yang telah ia lakukan hari ini.


"Jika saja tadi salah satu dari orang saya tidak mengikutimu akan bagaimana jadinya ... " ucap Juan.


"Ampun Juan saya tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Saya janji, jangan ganggu anak saya karena hal ini," lanjutnya.


"Ini kali keduanya anda melakukan kesalahan seperti ini."


Beberapa anak buat Juan lagi-lagi memukul Agus untuk menutup mulutnya. "Tuan Miller sudah memberikan saya perintah untuk ini," Juan mengeluarkan tongkat baseball.


Sudah kira-kira setengah jam Juan dan anak buahnya menghukum Agus atas apa yang dilakukannya hari ini. Mereka pun meninggalkan Agus yang tidak sadarkan diri disana. Juan sudah membawa surat yang telah ditandai tangani oleh Agus.

__ADS_1


Surat itu berisi bahwa anak-anak Agus akan menjadi jaminan jika ayahnya melakukan kesalahan yang sama. Agus diminta pergi sejauh mungkin dan tidak pernah lagi memperlihatkan keberadaannya didekat anak-anaknya lagi.


__ADS_2