Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
61. DIUSIR


__ADS_3

Sampai dirumah Alina dan Rose sudah disambut oleh asisten pribadi Tuan Miller yang berdiri diteras depan. Sejak kejadian dengan Agus, Alina semakin berhati-hati kepada Tuan Miller.


"Habis dari mana?" tanya sang suami kepada Rose.


"Urusan sama temen-temen arisan ... tumben sekali tiba-tiba minta cepet pulang."


"Ada yang harus diurus dan dibicarakan sama kamu, ayo." Tuan Miller dan Rose berjalan menuju ruangan kerja Tuan Miller.


Entah kenapa perasaan Alina menjadi tidak enak, ia pun memberikan kabar melalui pesan singkat kepada Arkana. Meskipun begitu Alina juga khawatir jika ini hanya perasaan berlebihannya saja.


Arkana tidak langsung membaca pesan yang dikirimkan Alina karena kebetulan ponselnya tertinggal di ruangannya. Saat ini Arkana sedang menghadiri rapat dengan beberapa staff nya bersama Satrio.


Alina pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat sebentar sebelum ke kebun bunga untuk mengecek bibit yang ia dan Rose tanam beberapa hari lalu. Setelah mandi, Alina menghempaskan tubuh lelahnya diatas kasur.


Tidak lupa ia memberi kabar Tari bahwa dirinya sudah sampai rumah Miller dengan selamat. Sesekali Alina melihat pesan yang dikirimnya kepada Arkana, masih belum dibalas. Bahkan dibaca pun tidak.


"Sibuk kali ya .... "


"Yaudah deh, cuma perasaan berlebihan aja kali." Alina kembali memainkan ponselnya untuk melihat-lihat akun sosial medianya.


Sedangkan didalam ruangan Tuan Miller, ia meminta Rose untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan disampaikannya. Dengan perlahan Tuan Miller menyampaikan jika Alina membawa pengaruh buruk bagi Baskara dan Arkana. Terutama bagi Arkana.


Rose tentu tidak terima dengan apa yang dikatakan suaminya. Rose sangat percaya Alina itu anak yang baik dan tidak akan membawa pengaruh buruk untuk anak-anaknya. Mulanya Tuan Miller menyampaikan ini dengan perlahan agar sang istri bisa menerimanya dengan baik.


Namun, setelah melihat responnya yang seperti itu tidak cara lain selain mengusir Alina sepihak tanpa izin dari Rose. "Pokoknya saya tidak mau anak itu ada disini besok pagi ... dia sudah memberi pengaruh tidak baik untuk anak-anak kita."

__ADS_1


"Saya dapat laporan dari salah satu rumah sakit yang memiliki hubungan kerjasama dengan Arkana jika sekarang ia tidak fokus dengan pekerjaannya."


"Ini pasti karena Arkana terlalu banyak bermain dengan anak itu," tutur John Miller.


John Miller juga menggunakan Dokter Indra sebagai alasan Alina yang membawa pengaruh buruk bagi Baskara. Ia berkata Baskara melupakan jadwal kontrolnya, mungkin karena Alina tidak menaruh perhatian terhadap hal itu.


Tetapi Rose tetap tidak terima dengan semua perkataan suaminya. Rose memilih keluar dari ruangan suaminya dan tidak mau mendengar lebih jauh. John Miller tidak peduli, tujuannya sekarang adalah mengusir Alina dari rumahnya.


Rapat yang dilakukan Arkana dan staff nya berakhir dengan alot. Banyak hal yang perlu mereka kerjakan untuk rapat direksi selanjutnya demi mempertahankan kerjasama mereka dengan rumah sakit yang ada selama ini. Hal ini mau tida mau membuat Arkana harus lembur di kantor.


Bahkan setelah kembali ke ruangannya Arkana tidak sempat melihat ponselnya. Ia langsung menuju komputernya untuk meneruskan pekerjaan dari hasil rapat tadi. Sama halnya dengan Satrio. Malam ini mereka lagi-lagi harus lembur bersama beberapa staff lain.


Waktu makan malam pun tiba. Sebelumnya Arkana sudah memberi kabar kepada Rose akan pulang terlambat sehingga tidak perlu menunggunya. Sedangkan Alina yang ketiduran pun tidak terlihat membantu Bi Iyah menyiapkan makan malam.


Hal ini semakin menambah alasan yang dibuat John Miller untuk mengusir Alina. Dengan liciknya ia berbisik kepada Rose, "Pelayan yang lain sibuk menyiapkan makan malam ... lalu kemana anak ini?"


Arkana masih berkutat dengan pekerjaannya hingga tidak terasa waktu menunjukan pukul 12 malam. Beberapa staff yang lembur bersamanya sudah pulang sejak pukul sepuluh tadi. Arkana ingin memastikan Satrio masih di kantor atau tidak dengan menelepon nya.


Hingga akhirnya ia menyadari pesan dari Alina. Arkana pun segera membuka pesan singkat dari Alina. Alina menuliskan ada sesuatu yang aneh antara Tuan Miller dan Bu Rose. Mulanya ia menganggapnya biasa saja, dan mungkin saja Alina hanya terlalu khawatir.


Tetapi pandangannya tiba-tiba berubah saat Baskara mengirimkannya pesan saat itu. Pesan itu berisi kurang lebih sama seperti Alina. Saat itu juga Arkana merasa ada yang tidak beres saat ini.


Arkana mencoba menelepon Alina, tetapi tidak kunjung diangkat. "Apa udah tidur ya?" gumam Arkana. Arkana masih mencoba tenang dan memilih pergi ke ruangan Satrio untuk meluruskan pikirannya.


Sedangkan di rumah, Alina yang sedang tidur dikagetkan dengan suara ketukan pintu yang cukup keras. Alina merasa ini bukan ketukan yang biasa dilakukan Bi Iyah atau siapapun yang ia kenal dirumah ini. Alina menyalakan lampu kemudian dengan hati-hati meraih gagang pintu.

__ADS_1


Ketukan itu masih terasa keras bahkan setelah Alina menyentuh gagang pintu kamarnya. Jujur saat itu Alina merasa sangat ketakutan. Terlebih lagi tidak ada Arkana yang bisa melindunginya.


Dari dalam kamar Alina mencoba menanyakan tentang siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya. "Siapa ya?" tanya Alina dengan nada suara bergetar ketakutan. Saat ini semua orang sedang tidur terlelap sehingga tidak ada yang menyadari keadaan kamar Alina.


Jam menunjukan pukul satu malam, dan orang yang mengetuk pintunya tidak juga menjawab pertanyaannya. Alina yang ketakutan tidak bisa lagi menahan ketukan pintu yang semakin keras. Rasanya seperti hampir mendobrak pintu kamarnya.


Alina mencoba meraih ponselnya dan menelepon Arkana. Namun tidak sempat terangkat, pintu itu sudah berhasil dibuka secara paksa oleh orang diluar. Orang itu ternyata Juan dan beberapa anak buahnya. Alina bisa dengan jelas mengenali wajah Juan.


"Kalian mau apa? Saya bisa teriak loh."


Dua dari anak buah Juan meraih kedua tangan Alina dan membawanya keluar secara paksa. Sedangkan sisanya membantu memasukkan beberapa pakaian Alina kedalam tasnya dengan tergesa-gesa.


"Lepasin!" teriak Alina.


Orang itu kemudian membungkam mulut Alina agar teriakannya tidak terdengar penghuni rumah yang lain. Alina bahkan sampai digendong agar langkahnya lebih cepat.


Untungnya dari jauh salah satu pengawal Baskara yang masih berjaga melihat situasi itu. Dengan cepat ia memberitahu Baskara. Baskara yang sedang tertidur lelap dibuat kaget dengan suara ketukan dari luar.


Pengawal Baskara memberitahu apa yang terjadi kepada Alina. Setelah mendengar itu Baskara mencoba menelepon Arkana sembari berlari kedepan untuk mencegah mereka membawa Alina sebisa mungkin. Namun sayang, ia terlambat. Alina sudah mereka bawa pergi.


Saat itu juga teleponnya tersambung kepada Arkana. Arkana kemudian segera berlari ke parkiran dan pulang untuk menyusul Alina. Satrio bahkan tidak sempat menanyakan sesuatu kepada Arkana.


Arkana menyetir dengan kecepatan penuh. Jalanan kota yang sepi dimalam hari membuatnya bisa leluasa mengendarai mobilnya. Sementara Alina masih terus memberontak memaksa untuk dilepaskan. Hingga di suatu tempat mobil mereka berhenti.


Alina dikeluarkan begitu saja bersama dengan tas berisi pakaiannya lalu mereka tinggal. Alina diturunkan di suatu tempat yang sama sekali tidak diketahuinya, dikelilingi oleh pepohonan dan tidak ada satu orang pun yang lewat.

__ADS_1


Alina hanya bisa menangis. Ternyata semua kekhawatirannya tadi beralasan. Ternyata ini yang direncanakan Tuan Miller saat memanggil Bu Rose dengannya. "Apa Bu Rose tau ini? tapi ga mungkin ... Bu Rose kan baik banget orangnya," ucap Alina sembari terus menangis.


Mas Arkana tolong aku ... ini dimana, kenapa ga ada orang sama sekali ... aku takut banget. 


__ADS_2