
Sekujur tubuh Alina mendadak panas. Pipinya memerah tetapi tubuhnya membeku dan tidak bisa bergerak. Arkana berada terlalu dekat dengannya. Sesuatu yang tidak pernah Alina bayangkan akan jadi seperti ini. Arkana masih terus menatap Alina dengan dalam.
Tiba-tiba suara ponsel yang berbunyi berhasil mengalihkan Arkana. Ia pun segera bangun mencari keberadaan ponselnya. Meninggalkan Alina yang sibuk mengatur nafasnya.
Nafasnya mendadak cepat, jantungnya juga berdegup tidak karuan. Alina bisa melihat setiap detail dari wajah Arkana saat berdekatan tadi. Suhu tubuhnya masih tidak mau turun, ia yakin sekarang wajahnya tidak ada bedanya dengan kepiting rebus. Kemerahan.
Arkana cukup lama mengangkat telepon, membuat Alina bingung harus melakukan apa sekarang. Perhatiannya kemudian teralihkan kepada pemandangan dibalik jendela apartemen Arkana. Pemandangan malam ibu kota. Gemerlap lampu gedung tinggi beserta jalanan yang ramai.
"Terus mau bengong gitu aja ga ada niatan pulang?" tanya Arkana yang sudah selesai dengan teleponnya.
"Iya oke aku pulang ... gapapa entar diomelin ibu gapapa."
"Terus kalo aku dipecat gapapa, terus nanti ga diga-" kata Alina terhenti melihat Arkana yang pergi ke kamarnya.
Dicuekin dong.
Alina bersiap-siap pulang tanpa diantar oleh pemilik rumah. Alina berjongkok memakai sepatunya hingga tiba-tiba merasakan ada seseorang yang berdiri dibelakangnya. Saat menengok ternyata Arkana sudah rapi dengan jaket kulit khas miliknya.
"Saya antar sampe bawah."
Alina merespon dengan senyum tipis. Lalu keluar mengikuti Arkana.
Sesampainya di loby Alina berpamitan. Alina memberitahu Arkana kalau ia akan libur selama dua minggu. Alina berharap saat ia kembali ke rumah keluarga Miller, sudah ada Arkana juga disana. "Jadi kita sama-sama ambil libur dulu dari sana, nanti sama-sama balik lagi."
Belum sempat Arkana membantah omongan Alina, gadis itu sudah pergi. Arkana kemudian kembali ke unitnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda. Sekaligus mengalihkan pikirannya yang kacau akibat ayahnya.
Alina yang sampai dirumah tidak disambut siapapun. Terlihat dari keadaan rumahnya, sepertinya ayahnya sama sekali tidak pulang beberapa hari. Hal ini terkadang yang sering menjadi pemicu pertengkaran kedua orangtuanya.
Ayahnya yang terlalu mencintai pekerjaannya sampai lupa kalau ada keluarganya yang menunggu dirumah. Sempat terfikir oleh Alina, keputusan ibunya untuk berpisah dengan ayahnya ada keputusan terbaik. Namun setelah apa yang terjadi sekarang, ibunya bahkan lebih buruk dari ayahnya.
Tidak lupa Alina mengabari Tari kalu dirinya sudah pulang. Alina bercerita banyak kepadanya termasuk apa yang sempat terjadi diantara dirinya dan Arkana. Mengingat itu lagi membuat Alina kembali memerah. Ini kali pertamanya sedekat itu dengan lelaki.
Saat Alina sedang membereskan rumahnya yang sudah lama tidak dibereskan, ayahnya pun pulang. Adi tidak menyangka anak perempuannya akan pulang hari ini. Dengan rasa terkejut dan rindu, Adi memeluk Alina.
__ADS_1
"Kok ga ngabarin Ayah mau pulang hari ini?" tanya Adi hangat.
"Surprise ... " jawab Alina tertawa.
"Yah, jujur deh udah ga pulang berapa hari?" Alin menginterogasi ayahnya.
"Semenjak kamu juga ga dirumah," jawab Adi menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Alina memelototi ayahnya marah. Alina lebih khawatir jika ayahnya tidak pulang akan tidur dengan sembarang saja diluar. Makannya pun jadi tidak terjaga. Semua hal yang dikhawatirkan Alina.
"Ya ampun Ayah ... tidurnya selama ini dimana? makannya gimana?"
"Ga usah khawatir, Ayah aman kalo di kantor." Ayahnya menenangkan Alina.
Karena kesal Alina pun pergi ke kamarnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tinggal hanya berdua. Ibu dan ayahnya bercerai sejak Alina kecil. Mereka masing-masing membawa salah satu anak mereka. Alina dengan ayahnya, sedangkan kakak laki-lakinya dengan ibu mereka.
Sejak itu Alina terpaksa tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Namun, saat dewasa justru Alina lah terkadang yang memiliki peran sebagai ibu dirumahnya. Alina sangat khawatir dengan kesehatan ayahnya. Terlebih lagi belum lama ini Adi baru saja keluar dari rumah sakit setelah operasi usus buntu.
"Ga usah so so an bujuk aku."
"Beneran gamau nih? masih anget lo Al ... " bujuk Adi kepada Alina.
Adi tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar. Pintu kamar pun terbuka, "Kali ini aja ya."
Keduanya makan malam bersama sembari menonton Tv. Tiba-tiba Alina tersenyum karena mengingat sesuatu. Rasanya sangat berbeda, suasana makan malamnya dirumah dengan makan malam di keluarga Miller. Makan malam disana rasanya seperti makan di barak militer karena terlalu ketat dan teratur.
Setelah makan Alina kembali ke kamarnya meninggalkan ayahnya seorang diri menonton acara berita favoritnya. Didalam kamarnya Alina diam memperhatikan foto keluarganya. "Ya ampun lupa deh mau nanyain tentang kakak ke Mas Arka."
Terakhir ia dan kakaknya bertemu mungkin saat masih sekolah menengah. Atau mungkin lebih muda dari itu. Alina dengar kabar jika ibu mereka membawa kakaknya pindah ke luar kota. Itu yang membuat Alina sedih dan memutuskan tidak akan mencari kakaknya lagi.
Di tempat lain, Arkana dan beberapa temannya sedang berkumpul di sebuah bar. Sudah lama mereka tidak saling bertemu dan mengobrol seperti ini. "Makin pucet aja lo Ar," ucap salah satu temannya tertawa meledek.
"Berisik lo."
__ADS_1
Mereka ini teman semasa Arkana SMA dan menjadi orang-orang yang paling dekat dengannya. Termasuk Satrio yang juga ikut hadir disana. Mereka membahas tentang Arka yang sekarang memilih kembali tinggal di apartemennya lagi.
Salah satu temannya yang kenal dengan tamu yang ada dirumah Arka saat itu, bahkan ikut mendengar jika Arka akan kembali ke Boston.
"Lo bener mau balik lagi kesana, Ar?" tanyanya.
"Gila apa. Terus perusahaan gue disini mau dikemanain."
"Kasihin Satrio aja tuh." Semua temannya meledek Arkana.
Disaat seperti itu tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi, dan itu telepon dari ibunya. Dengan cepat Arka pergi keluar untuk mengangkat telepon. Ternyata Rose hanya menanyakan kabar anaknya, Rose khawatir karena Arka pergi dalam keadaan marah.
"Udah aku gapapa, Ma."
"Nanti aku telepon lagi, ini lagi diluar ... bye," ucap Arka menutup teleponnya.
Sampai didepan pintu bar, Arkana bertemu seseorang yang sama sekali tidak ia sangka bertemu disini.
"Alina." ucap Arkana kaget.
Kedua mata Alina melotot, dirinya juga tidak menyangka akan bertemu Arkana disana, "Mas Arkana?"
Ah ... aku inget. Di bar ini, tempat pertama kali kita ketemu.
Rose bersama Bi Iyah sedang membereskan piring-piring cantik yang ia kumpulkan selama ini. Hobi ini sudah dimiliki Rose sejak remaja, ini menjadi salah satu caranya bisa melupakan beban pikirannya. Suaminya sama sekali tidak menanggapinya saat Rose membahas Arkana.
Tuan Miller seperti sudah sangat yakin akan menyuruh Arkana kembali ke Boston. Meskipun ia sama sekali tidak mengatakan apa alasannya. Karena selama ini Arkana tidak pernah mengganggu ayahnya itu, sampai harus dikirim kembali kesana.
Pikiran itu yang terus menerus berputar dikepala Rose. Hingga salah satu piring kesayangannya terjatuh dari genggamannya. Membuat Rose berteriak kaget.
"Ibu gapapa Bu?" tanya Bi Iyah memastikan Rose baik-baik saja.
"Gapapa ... tenang aja, ga ada yang luka kok."
__ADS_1