
Alina masih menunggu jawaban dari Arkana.
"Apa?" tanya Arkana, wajahnya terus saja dipandang oleh Alina.
"Iya kenapa kok tau aku disana?"
"Kebetulan." Arkana kemudian pergi lebih dulu menuju kamarnya.
Alina memandang Arkana yang berjalan menuju kamarnya. Alina terus saja memandang punggung Arkana yang semakin menjauh dan menghilang. Alina lalu kembali ke kamarnya. Hari ini rasanya lelah sekali, kedua matanya juga sudah berat mengantuk karena terlalu banyak menangis.
Setelah mandi dan bersih-bersih Alina diam sebentar memainkan ponselnya diatas tempat tidur. Alina mengingat momen tadi. Saat kedua matanya dibuka, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Arkana yang tidak seperti biasanya.
Raut wajahnya sangat khawatir, raut wajah yang baru pertama kali Alina lihat selama mengenalnya. Jika saja tadi Arkana tidak ada, ujung piala itu sudah pasti akan mengenai wajahnya. Karena sesaat setelah benda itu melayang didepannya, Alina sama sekali tidak bisa bergerak.
"Mas Arkana ga kenapa-kenapa kan ya sekarang?" ucap Alina memandang pintu kamarnya.
Sementara di kamarnya, Arkana dengan hati-hati membuka bajunya. Tidak bisa dibohongi kalau lukanya sekarang terasa lebih sakit dari sebelumnya karena efek biusnya sudah benar-benar hilang. Meskipun begitu ia merasa lega karena bukan Alina yang terluka.
Tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya, "Ar ... gimana sekarang?" cemas Rose. Saat ini Rose tidak bisa langsung pulang karena agenda suaminya masih banyak yang belum diselesaikan.
"Gapapa kok Ma, tadi dikasih obat juga terus mau langsung tidur."
"Kamu udah ketemu lagi sama kakak kamu?" tanya Rose.
"Belum."
"Ya udah ya Ma, mau tidur dulu cape." ucap Arkana pada ibunya.
Keesokan paginya, Alina sudah sibuk membantu Bi Iyah didapur. Alina bangun lebih pagi dari biasanya. Kebetulan hari ini ada jadwal bertemu dengan dosen pembimbingnya di kampus. Diam-diam Alina penasaran dengan keadaan Arkana.
Mungkin pas sarapan nanti ketemu.
__ADS_1
Setelah kejadian kemarin tidak ada yang melihat Baskara. Sepertinya ia seharian kemarin berada di paviliun nya dan tidak kemana-mana. Bahkan Bi Iyah sampai mengantarkan makan malamnya kesana. Dan sama seperti hari ini Bi Iyah juga yang mengantarkan sarapannya ke paviliun.
Jujur Alina masih takut untuk kesana. Keadaan paviliun yang dilihatnya terakhir kali sedikit membuatnya trauma. Baskara yang berada di kegelapan dan tiba-tiba melemparkan sesuatu ke arahnya ini cukup menakutkan untuk Alina.
Waktu terus berlalu, tetapi Arkana masih belum terlihat. Bi Iyah juga tidak mengantarkan sarapan ke kamarnya. Sebenarnya Alina cukup khawatir dengan keadaan Arkana. Semalam wajahnya sangat pucat dan lemas, meskipun terus berusaha terlihat kuat.
Alina pun memutuskan untuk mengantarkan sarapan untuk Arkana ke kamarnya. Alina yakin betul jika Arkana belum berangkat ke kantor, motor dan mobilnya masih berada di posisi yang sama dengan semalam.
Sampai didepan kamar Arkana, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang akan Alina katakan ketika bertemu Arkana nanti. "Gapapa deh ... ketuk pintunya, kasihin sarapan, oke bye balik kamar .... " Alina mengatur langkah demi langkahnya dengan hati-hati.
Sesaat ia mengarahkan tangannya untuk mengetuk pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Alina kaget dan membeku tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Arkana yang sudah rapih juga hanya memperhatikan Alina yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ngapain disini?" tanya Arkana singkat.
"Ini mau bawain sararapan .... "
"Bentar, Mas Arkana mau kemana? bukannya disuruh bedrest ya?" oceh Alina menginterogasi.
Alina mencoba menghalangi Arkana. Terlihat jelas raut wajahnya masih lemas, Alina juga yakin jahitan semalam masih terasa sakit di Arkana.
Sayangnya usaha Alina menghalangi Arkana pergi tidak berhasil. Tubuh jangkung Arkana berhasil melewati Alina. Alina terus saja menatap Arkana tajam, seperti mengisyaratkan larangan untuknya pergi. "Apa sih? sana dulu ... "ucap Arkana mengarahkan tubuh Alina yang menghalanginya.
Alina sedikit berontak dan tidak sengaja menghentak tubuh Arkana membuatnya meringis kesakitan. Ternyata benar feeling Alina kalau luka jahitannya itu masih terasa sakit. Mengabaikan rasa sakitnya Arkana kembali berjalan menuju lantai bawah untuk pergi ke kantor.
Sesampainya di teras Arkana membalikkan badannya ke arah Alina. Sejak tadi Alina masih terus mengikutinya dengan membawa sarapan. "Kalo tetep mau ke kantor, seengganya sarapan dulu." Alina menyodorkan sandwich buatannya kepada Arkana.
Karena hanya ini satu-satunya jalan agar dirinya bisa berangkat ke kantor dengan tenang, akhirnya Arkana mengambil sandwich itu dan langsung memakannya didepan Alina. Alina yang melihat itu pun tersenyum puas. Setelah itu Arkana pun berangkat ke kantor dengan mobilnya.
Hampir saja Alina lupa kalau pagi itu dirinya juga ada jadwal penting. Jika kali ini ia kembali tidak hadir bimbingan, bisa-bisa Alina gagal menyelesaikan kuliahnya tahun ini. Alina tidak mau hal itu sampai terjadi, sehingga ia pun bergegas berangkat bersama Pak Anton.
Kebetulan hari ini Pak Anton ada jadwal ke kantor Tuan Miller yang searah dengan kampus Alina. Ada beberapa berkas yang perlu Pak Anton ambil hari ini. Ketika menunggu Arkana kemarin malam, keduanya sempat berdiskusi tentang ini.
__ADS_1
Intinya adalah Alina akan ke kampus saat jadwal Pak Anton ke kota. Karena jika tidak seperti itu, Alina akan cukup sulit untuk berangkat ke kampus. Terkadang Alina berfikir apa bukit ini sudah dibeli oleh keluarga Miller. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan yang lain disana, sehingga kendaraan umum pun tidak ada.
Seperti dejavu, baru saja semalam mereka dengan panik menaiki mobil yang sama. Kali ini keadaan di mobil terasa tenang seperti tidak terjadi apa-apa semalam.
"Kalo ga ada Mas Arkana, gatau bakal jadi kayak gimana muka saya Pak."
"Itu posisinya soalnya ngarah banget ke muka saya," lanjut Alina curhat kepada Pak Anton.
"Iya itu tuh Mas Arka udah lari-larian dari parkiran," ucap Pak Anton.
Lari-larian ... berarti bukan kebetulan dong.
Alina sempat berpikir apa mungkin Arkana sengaja mencarinya, "Kok lari-larian sih Pak?"
"Iya ... begitu nyampe terus buka helm itu yang ditanyain ya Alina kok."
"Terus saya bilang tadi liat jalan ke arah paviliun ... ya disusul kesana," ucap Pak Anton Memperjelas kalau Arkana itu memang sengaja mencari Alina kesana.
Masih asik mengobrol, Pak Anton tiba-tiba melihat mobil Arkana terparkir dipinggir jalan. Melihat ekspresi kaget Pak Anton, membuat Alina yang penasaran pun melihat ke arah yang sama. "Lah itu kan mobil Mas Arkana," ucap Alina panik. Pak Anton pun meminggirkan mobilnya tepat berada dibelakang mobil Arkana.
Buru-buru mereka keluar dari mobil dan mengecek Arkana didalam mobilnya. Alina mencoba mengintip kedalam mobil untuk melihat keadaan Arkana. Bagaimana bisa ia berhenti disini, apa yang terjadi?
Alangkah kagetnya Alina melihat Arkana menunduk pada setir mobilnya. Alina lalu berusaha menggedor jendela mobil Arkana dan mencoba membuka pintunya tetapi terkunci dari dalam. Pak Anton yang ikut panik mencoba membuka pintu dengan paksa.
Tiba-tiba pintu mobil bisa dibuka, Arkana mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membuka kunci mobilnya dari dalam setelah mendengar suara Alina. Dengan panik Alina membuka pintu mobil itu.
"Mas ... Mas Arkana kenapa? Mas .... " Alina memegang dahi Arkana yang terasa sangat panas. Tubuhnya berkeringat, wajahnya pucat. Dengan perlahan Alina mengecek luka di punggung Arkana, dan ternyata benar saja lukanya yang belum sepenuhnya menutup kembali memburuk.
Pak Anton pun mengambil alih setir, sementara Arkana dipindah ke kursi belakang bersama Alina. "Kita ke rumah sakit ya Mas Arka," ucap Alina perlahan kepada Arkana yang masih sadarkan diri meskipun lemah.
"Engga. Kita pulang aja, saya mau pulang." Arkana pun tiba-tiba tidak sadarkan diri.
__ADS_1