
"Ma?" Arkana melihat ibunya yang terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.
Sebenarnya Arkana tau betul apa yang dirasakan ibunya jika teringat saat itu. Berada di posisi sang ibu bukan lah hal yang mudah. Melihat kedua anaknya berada di rumah sakit dengan kondisi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan perhatiannya.
"Maaf, Ar ... Mama belum bisa cerita."
"Mama sendiri ga yakin tentang hal ini, cuma papa kamu yang tau," jelas Rose memandang hangat anak bungsunya.
Tidak terasa hari sudah sangat malam. Arkana meminta ibunya untuk menginap saja, karena terlalu malam. Namun, Rose tidak mau menambah kemarahan ayah mereka jika tahu istrinya tidak ada dirumah. Rose pun segera menelepon Pak Anton untuk menjemputnya.
"Kamu bener ga mau ikut Mama pulang, Ar?" tanya Rose meyakinkan anaknya sekali lagi.
"Engga Ma, aku lebih bisa bebas disini."
Tidak lama Pak Anton pun datang. Posisinya memang tidak begitu jauh dari apartemen Arkana berada. Sebelum pergi Rose memeluk hangat anaknya. Lagi-lagi ia harus tinggal berjauhan dengan anaknya lagi. Memang Arkana cukup kesulitan selama tinggal dirumah, dan Rose tau itu.
Paginya Alina ada jadwal bertemu dengan dosen pembimbingnya di kampus. Selain itu Alina juga harus melunasi pembayaran terkait tugas akhirnya. Di dalam bis, Alina memainkan ponselnya dan sibuk mencari sesuatu di Internet.
Sejak semalam banyak hal yang terlintas di kepala Alina. Ia senang akhirnya mendapatkan sebuah petunjuk tambahan tentang kakaknya, tetapi masih ada banyak hal yang mengganjal lainnya.
Sampai di kampus Alina bertemu dengan Tari yang sudah lebih awal sampai. Keduanya bersama-sama masuk dan saling bercerita sepanjang jalan.
"Al ... kamu liat postingan terbaru di Internet ga?" tanya Tari.
"Apaan emang?" Alina sama sekali tidak melihat Internet seharian kemarin.
"Biasa sih tentang keluarga Miller, akhirnya salah satu anaknya Tuan Miller muncul di publik."
__ADS_1
Akhirnya muncul di publik? Mas Arkana? Tapi kok bisa muncul, tentang apa ya?
"Emang ada berita apa?" Alina menjadi sangat penasaran.
"Ternyata dia itu CEO nya LifeCare, kemaren ada acara gitu disana terus inti acaranya tuh ada lukisan yang dibuat Baskara khusu dia, sweet banget ga sihh?"
Entah siapa yang dimaksud sweet oleh Tari, Arkana atau Baskara sama sekali tidak Alina pedulikan setelah ia mengenal keduanya. Akhirnya Alina tau kapan lukisan yang dibuat Baskara itu akan dipamerkan. Sesuatu yang tidak disangka oleh Alina yaitu media yang menyoroti Arkana.
Setelah kembali minggu depan Alina akan bertanya kepada Arkana bagaimana rasanya dijadikan pusat perhatian. Membayangkan reaksi Arkana saja sudah membuat Alina senyum sendiri. Namun, tiba-tiba Alina mengingat sesuatu.
Minggu depan pas aku pulang, Mas Arkana udah ada disana ga ya?
Awalnya Alina ingin menelepon Arkana memastikan itu. Tetapi dipikir lagi itu bukan urusannya, ia tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadi mereka. Karena ada sesuatu yang lebih penting dari itu menurutnya. Ada sebuah misi yang dibawa Alina saat masuk kedalam rumah itu.
Sedangkan di ruangannya Arkana sedang sibuk dengan banyaknya berkas yang menumpuk diatas mejanya. Setelah acara yang diliput oleh media kemarin, banyak tawaran masuk untuk bekerjasama bahkan investasi. Arkana harus lebih selektif memilih partner kerjasama.
Arkana dan Satrio harus pergi untuk menemui salah satu klien mereka. Setelah semua berkas selesai, Arkana pun memanggil Satrio untuk bersiap-siap. Mereka pun pergi menggunakan mobil Satrio.
"Kacau lo."
"Bisa-bisanya keluar rumah bawahnya motor, kan jadi susah kemana-mana tau ga?" Omelan Satrio terasa biasa ditelinga Arkana.
"Biarin aja deh, nanti kalo ada waktu gue pinta tolong orang rumah bawain," jawab Arkana santai.
Klien yang akan mereka temui merupakan mantan dosen Arkana saat dirinya masih berkuliah di Boston. Kini setelah sama-sama berada di Indonesia, mereka menjadi sering bertemu. Bahkan sebagai teman dan rekan bisnis.
Saat sampai dirumah mantan dosen Arkana, mereka disambut dengan hangat. Ketiganya pun masuk kedalam untuk membicarakan kerjasama mereka lebih lanjut.
__ADS_1
Sungguh berbeda dengan yang dialami Alina. Alina dimarahin habis-habis oleh dosen pembimbingnya karena menghilang dan tidak memberi kabar. Selama Alina tinggal dirumah keluarga Miller, ia hanya menghubungi Tari dan ayahnya saja.
"Kalo sudah tidak mau melanjutkan lagi ya sudahi saja ... tidak ada ruginya bagi saya," ucap dosen pembimbingnya penuh emosi.
"Maaf Pak, saya bukannya menghilang tapi saya cari uang Pak untuk bisa lanjutin tugas akhir saya." Alina sama sekali tidak berani menatap dosennya.
Tari yang menunggu diluar bahkan bisa mendengar suara kemarahan yang berasal dari ruangan itu. Tidak lama Alina pun keluar dengan kepala tertunduk. Untung dosennya masih memberi Alina kesempatan, dengan syarat hal ini tidak terjadi lagi.
"Tapi kan minggu depan kamu balik lagi kesana, terus gimana?" tanya Tari khawatir.
"Aku udah bilang jujur tentang apa yang terjadi, mungkin karena itu beliau ngasih aku kesempatan."
"Yang penting aku ga ngilang aja, Tar." lanjut Alina.
Setelah ini Alina ada janji bertemu dengan temannya di sebuah tempat. Seseorang yang bahkan Tari, sahabatnya saja tidak tahu. Sebenarnya siapa orang ini?
Pembicaraan ketiganya berjalan dengan lancar. Mantan dosen Arkana bahkan meledeknya yang mulai masuk tv dan diliput media setelah sekian lamanya bersembunyi. Ini semua sudah pasti karena kedatangan Tuan Miller. Dimana ada Tuan Miller disana para reporter mencari berita baru untuk headline berita mereka.
Pulang lebih awal, Arkana meminta Satrio menurunkannya di suatu tempat. Sebuah kampung padat penduduk yang belum lama ini juga didatangi Arkana. Seseorang dari sana meneleponnya pagi tadi, mengatakan jika ia punya info yang dibutuhkan Arkana.
Di tempat lain, Alina sedang menunggu seseorang dengan orange juice di depannya. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah cukup sering berbagi info lewat sambungan telepon.
Tiba-tiba ada seseorang berjalan masuk mendekati Alina. Pria itu duduk tepat dihadapan Alina dan menyerahkan amplop besar berisi dokumen penting. Dengan hati-hati Alina membuka amplop itu. Yang pertama keluar adalah biodata kakak laki-lakinya beserta catatan medisnya.
Alina menatap orang itu tidak mengerti apa yang ia maksud dengan memberikannya ini. Pria itu hanya menyuruh Alina melihat semua berkas yang ada didalam amplop.
Ternyata didalam amplop itu ada surat hutang milik kakaknya. Alina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tidak mungkin kakaknya yang saat itu pasti masih muda berhutang sebanyak ini. Lagipula untuk apa?
__ADS_1
Alangkah kagetnya Alina setelah melihat siapa yang menandatangi surat hutang itu. Surat itu ditandai tangani oleh John Miller. Ayah dari Baskara Abimana Miller dan Arkana Benjamin Miller.